Rakel Perdana KSP Marendeng di Mamuju : Refleksi Spiritual atas Perjumpaan, Pertumbuhan, dan Harapan

Rakel Perdana KSP Marendeng di Mamuju

Rabu, 26 November menjadi hari yang tidak hanya bersejarah secara kelembagaan, tetapi juga penuh makna spiritual bagi keluarga besar KSP Marendeng di Mamuju. Di balik angka, data, dan laporan yang dibacakan, tersembunyi sebuah perjalanan iman: bagaimana solidaritas, kepercayaan, dan gotong-royong dihidupkan kembali melalui Rakel perdana ini.

Sejak KSP Marendeng Kantor Pelayanan Mamuju dilaunching pada 15 Mei 2025, jumlah anggota telah mencapai 151 orang. Pertumbuhan ini bukan sekadar catatan administrasi, tetapi tanda bahwa masyarakat menemukan sebuah ruang bersama—ruang yang menyatukan harapan, kerja keras, dan komitmen saling menopang.

Perjumpaan sebagai Berkat

Kehadiran Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Mamuju, Hj. Sahari Bulan, SH bersama salah satu Kepala Bidang Koperasi, menjadi bentuk dukungan yang meneguhkan. Begitu pula kehadiran pengurus, manajemen, dan pengawas dari Kantor Pusat Nonongan. Semua berkumpul bukan hanya karena jadwal undangan, tetapi karena mereka percaya bahwa setiap langkah kecil dalam koperasi adalah wujud nyata dari nilai-nilai kebersamaan yang diwartakan sejak dahulu: “Apa yang kamu lakukan untuk saudaramu yang paling kecil, kamu lakukan juga untuk-Ku.”

Di basement gereja—ruang perjumpaan yang sederhana namun sarat makna—suasana doa dan syukur menyelimuti seluruh rangkaian acara. Lagu Indonesia Raya, Mars, dan Hymne KSP Marendeng mengalun bukan hanya sebagai formalitas, tetapi sebagai pengingat bahwa kita dipanggil mengelola berkat Tuhan dengan penuh tanggung jawab bagi kesejahteraan bersama.

Doa pembukaan yang dipimpin oleh Vikaris Episkopal Sulawesi Barat, P. Oc. Samson Bureny, Pr., menjadi pengantar yang menghadirkan Tuhan dalam seluruh dinamika Rakel. Seolah kita diingatkan: koperasi bukan hanya gerakan ekonomi, tetapi juga gerakan spiritual—gerakan yang menanamkan nilai syukur, kejujuran, dan kesetiaan dalam pengelolaan rezeki.

Mendengarkan sebagai Jalan Pertumbuhan
Setiap laporan, paparan, dan tanggapan yang disampaikan dalam Rakel bukan sekadar prosedur teknis. Itu adalah wujud nyata keterbukaan, kejujuran, dan akuntabilitas. Dalam Injil, Yesus mengajar bahwa siapa yang setia dalam perkara kecil, dialah yang layak dipercaya dalam perkara besar. Rakel ini menjadi ruang untuk membuktikan kesetiaan itu.

Ketika Kadis Koperasi memuji KSP Marendeng sebagai koperasi yang sehat, kita pun diajak merenungkan bahwa kesehatan sebuah lembaga tidak hanya terletak pada angka keuangan, tetapi pada semangat yang menggerakkannya. Kesehatan koperasi lahir dari hati yang mau melayani, pikiran yang jernih, dan tekad untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Ketukan mikrofon tiga kali saat pembukaan resmi bukan hanya simbol administratif, melainkan sebuah ajakan untuk membuka hati—agar semangat solidaritas dan persaudaraan semakin hidup dalam diri setiap anggota.

Berbagi Rezeki, Menguatkan Sesama
Istirahat sejenak menikmati makanan yang disiapkan menjadi simbol yang sederhana namun bermakna: rezeki dibagi, syukur pun melimpah. Doa makan dilambungkan oleh ibu Pdt. Elne Sampe, S.Th. Para peserta dari wilayah Tommo yang menempuh perjalanan panjang mengajarkan bahwa komitmen lahir dari kerelaan untuk berkorban. Dalam keletihan mereka, tampak wajah-wajah yang penuh harapan bahwa koperasi ini akan menjadi jawaban bagi kebutuhan hidup yang lebih baik.

Di sela obrolan santai, kerendahan hati pengurus; pak Kristo, Sdr. David, dan ibu Salce yang menyampaikan terima kasih kepada Ibu Kadis dan jajarannya mencerminkan nilai Injili: bahwa pelayanan selalu dimulai dari hati yang tahu bersyukur.

Suara Anggota, Suara Hati Bersama
Sesi tanya jawab membuka ruang dialog yang jujur. Apresiasi, usulan perbaikan, dan pertanyaan bukanlah kritik kosong—melainkan bentuk cinta para anggota terhadap koperasi yang mereka miliki bersama. Usulan untuk memperpanjang usia keanggotaan hingga 60 tahun, serta keinginan agar aplikasi lebih sederhana, menunjukkan bahwa koperasi ini dirawat dengan hati, bukan sekadar dituntut dengan aturan.

Di sinilah tampak wajah sejati KSP Marendeng: sebuah keluarga yang mau mendengar, berdiskusi, dan bertumbuh bersama.
Penutup yang Meneguhkan

​​​​​​​Ketika hari beranjak sore dan Rakel harus diakhiri, Pastor Paroki St. Maria Mamuju, P. Wilhelmus Tulak, Pr., memberikan doa penutup dan berkat. Kata-kata doa itu seakan mengantar seluruh peserta kembali ke rutinitas masing-masing dengan semangat baru.

Para anggota dari Tommo bergegas kembali, menempuh perjalanan panjang dengan hati yang penuh sukacita dengan membawa tas dan payung. Semoga Tuhan mengantar dan melindungi mereka sampai tiba di rumah.

Rakel perdana ini menjadi pengingat bahwa karya ini bukan milik satu orang, bukan milik pengurus semata, melainkan milik Tuhan yang berkarya melalui tangan-tangan kita. Ketika kita berjalan dalam terang-Nya, maka setiap langkah kecil akan menjadi berarti dan setiap upaya akan menghasilkan buah yang berlimpah.

Semoga KSP Marendeng terus bertumbuh menjadi wadah yang menebarkan kesejahteraan, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan damai sejahtera di tengah keluarga dan masyarakat.

Marendeng, Semangat! Salam Marendeng, Sejahtera!
 


Anton Ranteallo, Tim Inti Mamuju


Opini LAINNYA

Belajar Kepada Malaikat

Belajar Tafsir Ke Gus Nadir

PESAN AGAMA (2)

Ziarah Intelektual 

Nurani Yang Lumpuh