Belajar Kepada Malaikat

oleh : Ilham Sopu

Ketika Tuhan menyampaikan rencananya untuk menciptakan khalifah di muka bumi kepada para malaikat, sontak malaikat agak protes dengan rencana tersebut, mereka keberatan "Mengapa Engkau menciptakan makhluk ini di muka bumi, yang suka merusak dan menumpahkan darah?, padahal kami bertasbih dengan memuji dan menyucikan-Mu." Tuhan tidak menyangkal tuduhan malaikat terhadap Adam, jawaban Tuhan hanya "Aku mengetahui, apa yang tidak kamu ketahui". Tuhan tidak menyalahkan malaikat, itu artinya bahwa prediksi malaikat itu akan terjadi, bahwa manusia akan merusak dan menumpahkan darah.

Insting malaikat itu benar, karena malaikat itu adalah makhluk Tuhan yang tidak pernah berhenti bertasbih, memuji Tuhan atau bertahmid, dan menyucikan Tuhan, itulah pekerjaan malaikat yang tidak pernah mereka tinggalkan, sehingga dalam sejarah malaikat, mereka tidak pernah membuat kerusakan, seperti pencemaran lingkungan, membabat hutan, merusak terumbu karang, menyebarkan genosida, membuang sampah disembarang tempat. Itulah sebabnya tidak pernah terjadi banjir dizamannya, karena malaikat tidak punya napsu serakah sebagaimana  makhluk manusia yang sangat suka mengumbar napsunya.

Sewaktu amanah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, semuanya menolak amanah tersebut, tapi amanah itu direbut oleh manusia, diperebutkan, sesungguhnya manusia itu makhluk yang dzalim dan bodoh. Menariknya di ayat ini malaikat tidak mendapat tawaran tentang amanah tersebut, mungkin itu disebabkan Tuhan sudah tahu bahwa malaikat pasti menolak. Dan memang malaikat sudah di install oleh Tuhan sebagai makhluk yang tidak berhenti untuk bertasbih, bertahmid dan mensucikan Tuhan. 

Seandainya makhluk semacam malaikat yang mengelola bumi ini, maka kita tidak akan melihat gedung-gedung pencakar langit, jembatan layang, pencemaran lingkungan, macet di kota-kota besar, berita-berita hoaks yang mewarnai kehidupan sehari-hari. Kita hanya akan mendengarkan ucapan tasbih, tahmid, mensucikan Tuhan.  Itu karena malaikat tidak dirancang sebagai makhluk yang punya sifat Inovatif dan kreatif, sebagaimana halnya dengan manusia. Malaikat cuma menjalankan saja perintah apa adanya, itu diakui sendiri malaikat ketika Tuhan menjawab tentang protesnya kepada Tuhan.

Ada sisi kelebihan malaikat yang diceritakan dalam ayat di atas, ketika Tuhan menawarkan untuk menjadikan makhluk atau khalifah di muka bumi, malaikat agak tidak nyaman, sebab akan ada kerusakan yang diperbuat makhluk tersebut, malaikat mencoba untuk menyebut kelebihan yang mereka miliki, seperti memperbanyak tasbih, banyak memuji Tuhan atau bertahmid, dan mensucikan Tuhan.  Itulah kelebihan malaikat yang disebut dihadapan Tuhan, kelebihan yang dapat mencegah kemurkaan Tuhan.

Sebenarnya potensi yang dimiliki oleh malaikat tersebut, juga dimiliki oleh manusia, namun manusia banyak yang melupakan potensi-potensi tersebut,  kebanyakan manusia sangat mudah tergoda dengan hal-hal material yang sifatnya jangka pendek, manusia banyak yang menggunakan kacamata buram yang tidak mampu melihat jangka waktu yang panjang kedepan, mereka tidak memanfaatkan potensi rohaninya, yang bisa menyingkap tirai kegaiban. Manusia-manusia seperti inilah  yang disindir dalam Al-Qur'an sebagai makhluk yang "dzaluman jahulaa", yang dzalim dan bodoh.

Berbagai kerusakan di muka bumi ini, perang antar sesama manusia dan menghancurkan berbagai fasilitas, korban manusia begitu banyak, anak-anak kecil, pencemaran lingkungan, pembabatan hutan yang dapat mengakibatkan banjir besar seperti yang terjadi saat ini di wilayah Sumatra. Kejadian-kejadian seperti ini terjadi karena manusia begitu serakah terhadap alam, manusia perlu menyeimbangkan berbagai aspek dalam kehidupannya, bukan hanya aspek teologi, kemanusiaan, tapi juga ada aspek lingkungan perlu mendapat perhatian kita.

Kita perlu belajar kepada malaikat, yang tidak pernah meninggalkan teologi kamalaikatannya, yakni selalu bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Tuhan, dimanapun mereka berada. Seandainya manusia selalu mengamalkan , apa yang selalu  diamalkan oleh para malaikatnya, maka dunia ini akan aman, damai dan sejahtera. 

Itulah sebabnya mengapa manusia atau Adam sebelum di turunkan ke bumi, oleh Tuhan ditransitkan dulu ke surga, itu artinya bahwa tugas manusia setelah sampai ke bumi, adalah untuk menyebarkan nilai-nilai kesurgahan atau nilai-nilai kedamaian ke muka bumi ini. Dan itu yang menjadi tugas utama manusia di muka bumi ini, serta potensi-potensi yang dimiliki manusia berupa nurani untuk difungsikan sebagaimana yang menjadi tugas utama malaikat, yang tidak pernah sepi dari kebiasaan tasbih, tahmid dan mensucikan Tuhan.

Itulah ilmu malaikat, sehingga mereka dapat memprediksi apa-apa yang akan terjadi kedepan. Kita perlu memikirkan kembali  keraguan malaikat tentang diciptakannya manusia. Manusia perlu untuk selalu mengevaluasi diri tentang eksistensinya. Kita perlu  membiasakan diri untuk selalu berwirid  atau kebiasaan yang baik, membersihkan diri, melalui tasbih-tasbih, tahmid-tahmid, bukan hanya tasbih, tahmid secara verbalistik  tetapi mencoba untuk merealitaskan dalam kehidupan sehari-hari. 

Manusia hanya pintar berinovasi, berkreasi, yang dilanjutkan dengan merusak lingkungan hidup, dan tidak diselingi dengan banyak melakukan evaluasi diri lewat  kemampuan untuk bermuhasabah, banyak melakukan interaksi dengan Tuhan, dengan sesama, dengan lingkungan, maupun dengan diri sendiri.

(Bumi Pambusuang, 5 Desember 2025)


Opini LAINNYA

Belajar Kepada Malaikat

Belajar Tafsir Ke Gus Nadir

PESAN AGAMA (2)

Ziarah Intelektual 

Nurani Yang Lumpuh