Masa Natal secara liturgis memang telah berlalu, namun semangat dan nuansanya masih terus dihidupi dalam kehidupan umat. Hal ini tampak dalam Perayaan Natal Bersama Kerukunan Keluarga Toraja (KKT) Kabupaten Mamuju yang dilaksanakan pada Kamis, 15 Januari 2026. Perayaan ini menjadi momen syukur sekaligus perwujudan iman yang tetap hidup dalam kebersamaan warga KKT di tanah rantau.
Perayaan Natal KKT Kabupaten Mamuju tahun ini mengusung tema Natal Nasional, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.” Sekitar 300 jemaat hadir dan berpartisipasi dalam perayaan ini. Menariknya, selain dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Barat dan Bupati Mamuju, perayaan Natal ini juga dihadiri oleh warga KKT yang beragama Muslim. Kehadiran lintas iman ini menjadi tanda nyata toleransi dan persaudaraan yang terjalin erat di tengah masyarakat Mamuju.
Ibadah Natal dimulai pukul 17.30 WITA dan dipimpin oleh Pdt. Hermin Sanggaria, S.Th. Dalam renungannya, beliau menekankan pentingnya keluarga sebagai tempat pertama untuk belajar saling memahami, mengampuni, dan saling mendukung. Dengan mengangkat ilustrasi sinetron Keluarga Cemara, beliau mengingatkan bahwa keluarga adalah wadah utama tumbuh dan berkembangnya setiap pribadi. Dari keluargalah iman, harapan, dan kasih mulai ditanam dan dipupuk.
Namun demikian, disadari pula bahwa tantangan keluarga masa kini tidaklah ringan. Berbagai persoalan seperti perjudian, kekerasan dalam rumah tangga, hingga perselingkuhan kerap menjadi penyebab retaknya kehidupan keluarga. Oleh karena itu, keluarga-keluarga KKT diharapkan mampu menjadi keluarga yang mengayomi, menjunjung tinggi nilai-nilai Kristiani, serta menjadi tempat yang aman dan penuh kasih demi terwujudnya keluarga yang sejahtera dan harmonis. Refleksi ini menegaskan bahwa kehadiran Allah dalam keluarga bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi dalam keseharian.
Dalam rangkaian perayaan Natal ini juga dilaksanakan penyalaan lilin sebagai simbol persatuan dan kesatuan. Pastor Wilhelmus Tulak, Pr menyalakan lilin pertama di depan gereja, kemudian perwakilan kelompok menyalakan lilin dan membagikannya kepada umat yang hadir. Tindakan simbolis ini melambangkan bahwa terang Kristus bersumber dari satu cahaya yang sama dan menyinari seluruh umat. Terang itu diharapkan menjadi penuntun perjalanan hidup umat sepanjang tahun 2026, agar tetap berjalan dalam iman, harapan, dan kasih.
Setelah ibadah Natal yang berlangsung sekitar satu setengah jam, Gubernur Sulawesi Barat beserta rombongan tiba di lokasi dan bergabung bersama umat di dalam gereja. Tidak berselang lama, Bupati Mamuju pun hadir. Para tamu undangan kemudian disambut dengan Tarian Pa’gellu, tarian syukur masyarakat Toraja yang biasa dipentaskan dalam acara-acara sukacita.
Salah satu unsur khas dalam tarian ini adalah pemberian saweran (toding) kepada para penari. Beberapa umat, termasuk Gubernur Sulawesi Barat, turut memberikan saweran yang disambut tepuk tangan meriah dari umat yang hadir.
Ketua Panitia Perayaan Natal KKT, Sampe Rombedatu, kemudian menyampaikan laporan singkat. Ia mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada Gubernur dan Bupati Mamuju yang di tengah kesibukan mereka masih berkenan hadir dalam perayaan Natal KKT. Disampaikan pula bahwa perayaan Natal ini menjadi salah satu perekat persaudaraan warga Toraja di tanah rantau, sekaligus sarana untuk saling menguatkan dan menjaga persatuan serta kekompakan.
Selanjutnya, Ketua KKT Kabupaten Mamuju, Marthen Tandiabang, menyampaikan sambutan yang diawali dengan sapaan hangat dan disambut tawa oleh para hadirin. Ia menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Gubernur dan Bupati atas kehadiran mereka. Menurutnya, inilah wajah KKT di Mamuju: persatuan antarwarga yang sangat baik, di mana umat Kristen dan Muslim saling mendukung dalam berbagai kegiatan. Hal ini menjadi cerminan nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Beliau juga berharap agar ke depan warga KKT di Mamuju semakin kompak dan bersatu dalam mendukung pembangunan daerah bersama pemerintah. Dalam sambutannya, Ketua KKT mengungkapkan beberapa pergumulan organisasi, khususnya terkait penyediaan lahan pekuburan dan pembangunan sekretariat KKT, yang diharapkan dapat direalisasikan ke depan. Ia menegaskan pentingnya menjaga persatuan, memelihara organisasi, menjunjung tinggi etika, serta mengedepankan keterbukaan dan dialog apabila muncul persoalan di tengah warga.
Gubernur Sulawesi Barat, Dr. H. Suhardi Duka, M.M., dalam sambutannya menyapa para rohaniwan dan seluruh umat dengan penuh kehangatan. Beliau menegaskan kembali tema Natal Nasional, bahwa Allah sungguh hadir untuk menyelamatkan keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan basis utama kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Ia juga menyoroti nilai toleransi yang kuat dalam masyarakat Toraja, di mana perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk hidup rukun dan saling menghormati.
Dalam sambutannya, Gubernur juga membagikan sebuah kisah inspiratif dari tradisi Islam tentang seorang perempuan yang menolong seekor anjing kehausan di padang pasir. Karena perbuatan kasihnya itu, perempuan tersebut memperoleh keselamatan. Kisah ini menjadi penegasan bahwa kasih dan kebaikan, bahkan kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan, dapat menjadi jalan menuju keselamatan. Natal, lanjutnya, adalah sukacita bagi seluruh bangsa, sebuah momen di mana pintu persaudaraan terbuka lebar. Beliau pun mengungkapkan kebanggaannya atas kekompakan masyarakat Toraja di Mamuju dan menutup sambutannya dengan ucapan selamat Natal serta ajakan untuk bersukacita bersama Tuhan yang senantiasa menyertai umat-Nya.
Rangkaian acara ditutup dengan foto bersama dan makan bersama dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan.
Selamat Natal dan selamat menghidupi tema Natal: “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.” Semoga terang Kristus yang dirayakan tidak hanya berhenti pada perayaan, tetapi sungguh menjadi terang yang menuntun setiap keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan Natal ini mengingatkan seluruh umat bahwa kehadiran Allah tidak berhenti pada peristiwa kelahiran Yesus di Betlehem, melainkan terus berlanjut dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Allah hadir dalam keluarga yang mau saling mengampuni, dalam persaudaraan yang menjunjung tinggi toleransi, serta dalam komunitas yang mau berjalan bersama dalam kasih. Natal menjadi panggilan iman agar setiap keluarga KKT sungguh menjadi “gereja rumah tangga”, tempat iman dirawat, harapan diteguhkan, dan kasih diwujudkan dalam tindakan nyata.
Terang lilin Natal yang dibagikan dari satu sumber yang sama menjadi simbol bahwa Kristus adalah terang sejati yang menyinari setiap perbedaan dan menyatukan keberagaman. Terang itu mengajak umat untuk tidak hanya merayakan Natal secara seremonial, tetapi juga menghidupinya dalam keseharian: melalui kepedulian terhadap sesama, kejujuran dalam hidup bermasyarakat, serta komitmen untuk membangun keluarga dan komunitas yang damai dan sejahtera. Dengan demikian, tema Natal “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” sungguh menjadi nyata, bukan hanya dalam perayaan, tetapi dalam seluruh perjalanan hidup umat sepanjang tahun 2026.
Kontributor : Anton Ranteallo, SS, M.Pd - Penyuluh Agama Kab. Mamuju ( Wakil Sekretaris KKT Kab. Mamuju)