Salah satu cara belajar agama dengan baik, adalah mempelajari konsep kunci atau term-term keagamaan, banyak buku-buku yang mengkaji tentang konsep kunci keagamaan tersebut dan menjelaskan satu-persatu konsep-konsep tersebut. Misalnya buku Prof Quraish yang terbaru, yaitu kosa kata keagamaan yang isinya mengupas tentang berbagai kosa kata penting dalam keagamaan. Buku ini sangat menarik dan disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami, tanpa meninggalkan maknanya yang dalam, buku ini sangat bagus dijadikan referensi utama dalam belajar agama.
Belajar agama yang berangkat dari kosa kata akan memudahkan kita dalam pengkajian selanjutnya. Kebanyakan tulisan-tulisan dari Prof. Quraish Shihab berangkat dari kupasan kosa kata di awal pembahasannya, yaitu dengan pendekatan kebahasaan, sehingga memudahkan pembaca dalam memahami persoalan yang akan dibahas. Pendekatan kebahasaan, dan berkembang dalam pengertian secara istilah dengan mengutip pendapat dari pakar atau ulama-ulama besar lalu dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadis dan mencoba untuk memberikan penjelasan dan dikaitkan dengan persoalan-persoalan kontemporer hari ini.
Salah satu juga yang menarik ketika Prof. Nurcholis Madjid atau Cak Nur, menjelaskan hadis Nabi yang cukup populer yang sering dikutip oleh para penceramah, "man shama ramadhana imanan wa ihtisaban gufira lahu ma taqaddama min dzanbihi". Barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan dengan iman dan ihtisaban maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. Dalam terjemahan yang populer dari makna ihtisaban yaitu mengharapkan ridhanya, tetapi Cak Nur mencoba menerjemahkan dari aspek kebahasaan terlebih dahulu, ihtisaban dari kata "hasiba" yang artinya menghitung.
Dengan pendekatan kebahasaan tersebut, Cak Nur menterjemahkan kata ihtisaban dengan "menghitung diri", banyak melakukan kritik diri, introspeksi diri, banyak melihat diri ke dalam. Terjemahan seperti ini, sangat tepat terkait dengan bulan ramadhan sebagai bulan untuk banyak mengevaluasi diri, bulan untuk mengasah ruhani kita, mensucikan kembali ruhani yang selama ini kurang berfungsi. Manusia ini adalah makhluk yang punya aspek biologis sekaligus aspek ruhani.
Aspek ruhani inilah yang menjadi jati diri manusia. Di sinilah kelebihan manusia jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain. Aspek keilahian ada dalam diri manusia, aspek keilahian ini akan nampak bilamana manusia menjalankan ajaran agama dengan baik. Seperti dalam hadis diatas, iman dan ihtisaban menjadi dasar dalam beribadah sehingga dosa-dosa yang telah lewat bisa terhapus, antara iman dan ihtisaban sangat erat kaitannya. Dan keduanya terkait dengan aspek diri manusia. Iman sifatnya sangat pribadi atau privat, namun iman juga sangat terkait dengan aspek sosial.
Begitupun dengan ihtisaban, sangat banyak menyentuh aspek dalam dari diri manusia, banyak terkait dengan perenungan yang mendalam terhadap keadaan manusia dari mana dia berasal, asal kejadiannya dan hendak kemana dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Ihtisaban ini sangat penting, karena kualitas ibadah itu sangat berpengaruh terhadap hasil renungan diri. Dengan banyak melakukan ihtisaban khususnya dalam bulan ramadhan ini, akan mengantarkan manusia dalam memperkuat jati diri keimanan mereka.
Nabi sangat menganjurkan untuk selalu memperbaharui iman, selalu mengevaluasi iman, mencas iman, tentunya dengan memperbanyak kalimat tauhid dan tauhid sangat menarik untuk kita kaji. Dalam pandangan Cak Nur, dalam kalimat tauhid terkandung bentuk tauhid yang murni, yang mencoba untuk membebaskan diri dari bentuk kepercayaan-kepercayaan yang palsu, membebaskan diri kita, itu dilambangkan kata "La Ilaha", tidak ada Tuhan, artinya kita membebaskan diri dari banyaknya yang dapat menghalangi jalan menuju Tuhan.
Kalimat tauhid dimulai dari kata negasi,yaitu kata "La", dan ditutup dengan itsbat atau peneguhan yaitu "Illallah", Dimulai dengan peniadaan dan ditutup dengan peneguhan. Itulah makna kalimat tauhid, makna yang begitu murni, bahwa Tuhan itu adalah mutlak, Tuhan adalah realitas, sesuatu yang ada. Bertauhid yang baik dan benar,adalah bertauhid secara realistik yaitu membebaskan diri kita dari berbagai sembahan-sembahan palsu menuju suatu sembahan yang mutlak yaitu Tuhan maha esa.
Demikianlah kualitas iman atau tauhid terkait dengan perenungan-perenungan atau ihtisaban terhadap diri kita, banyak melakukan koreksi diri guna untuk memperbaiki kualitas ibadah kita kepada Tuhan.
(Bumi Pambusuang, 24 Maret 2025)
