Pendidikan dan Kesadaran

Oleh : Hamzah (Guru MA Nuhiyah Pambusuang)

Sekolah masih berdiri kokoh seperti yang kita saksikan hari ini, ruang kelas, papan tulis, seragam, dan jadwal yang tersusun. Realitas ini belum tergantikan. Tapi diam-diam, ada yang terasa ganjil. Seolah kita sedang merawat sebuah bangunan yang fondasi ruhnya retak,  lalu berharap penghuninya tumbuh utuh di dalamnya.

Masalahnya bukan sekadar teknis bukan hanya soal kurikulum yang padat atau metode mengajar yang membosankan. Lebih dalam dari itu, ada sesuatu yang sering luput kita tanyakan, sebenarnya untuk apa pendidikan itu? Kita terlalu sibuk mengisi kepala, sampai lupa bertanya apakah hati ikut dibimbing? Kita terlalu fokus pada hasil, sampai tak sempat memahami proses. Bahkan, tanpa sadar, kita memperlakukan manusia seperti wadah kosong yang harus diisi, bukan seperti makhluk hidup yang punya arah tumbuhnya sendiri.

Di ruang-ruang kelas, anak-anak belajar banyak hal mulai dari ejaan, rumus, definisi, teori dan sederet pelajaran lainnya. Tapi berapa banyak dari mereka yang benar-benar belajar mengenal dirinya sendiri? Berapa yang diajari bagaimana mengelola kecewa, memahami rasa takut, atau menemukan makna dari apa yang mereka jalani? Kita mengajarkan mereka cara menjawab soal, tapi jarang mengajarkan cara menghadapi hidup.

Barangkali di sinilah letak kekeliruan paling halus. Kita mengira belajar itu selalu tentang penambahan, perkalian atau hafalan. Padahal sering kali ia justru tentang penyadaran. Bukan sekadar tahu lebih banyak, tapi melihat lebih jernih. Bukan sekadar menjadi pintar tapi bertumbuh dan menjadi utuh.

Sekolah, dalam bentuknya sekarang, masih berjalan dengan logika lama, seragam, standar, serba sama. Padahal manusia tidak pernah benar-benar sama. Setiap anak membawa semesta kecilnya sendiri, latar, luka, harapan, dan potensi yang tak bisa diukur dengan angka. Ketika semuanya dipaksa masuk ke satu cetakan, yang terjadi bukan pembentukan, melainkan penyempitan.

Namun, bukan berarti sekolah harus ditinggalkan. Ia masih bisa menjadi ruang yang bermakna asal kita berani menatapnya dengan jujur. Mengkritiknya bukan berarti meruntuhkannya, tapi justru menyelamatkannya dari keusangan yang perlahan menggerogoti.

Mungkin yang kita butuhkan bukan revolusi besar yang mengguncang segalanya, tapi keberanian kecil yang konsisten, guru yang mau mendengar lebih dalam, bukan sekadar menjelaskan dalam ruang kelas yang memberi tempat bagi pertanyaan, bukan hanya memberikan jawaban dan cara pandang baru yang melihat murid bukan sebagai angka, tapi sebagai manusia yang sedang mencari arah.

Bayangkan jika sekolah tidak lagi menjadi tempat yang membuat anak takut salah, tapi justru tempat di mana mereka berani mencoba. Bukan tempat yang menuntut mereka menjadi seperti orang lain, tapi ruang yang membantu mereka menjadi dirinya sendiri. Di sana, belajar bukan lagi beban, melainkan perjalanan yang pelan, tapi hidup.

Begitu pula, ada satu sisi lain yang jarang kita bicarakan, padahal dampaknya terasa begitu dekat,  siapa sebenarnya sosok yang berdiri di depan kelas itu? Dan lebih jauh lagi siapa mereka ketika tidak sedang di kelas?

Di zaman ketika batas antara ruang pribadi dan ruang publik makin kabur, seorang pendidik tidak lagi hanya “hadir” di sekolah. Ia juga hadir di layar di media sosial, di ruang-ruang digital yang diam-diam menjadi cermin lain dari dirinya. Dan di sanalah, sering kali kita melihat retakan yang tak tampak di ruang kelas.

Beberapa waktu terakhir, kita dikejutkan oleh berbagai kasus yang melibatkan pendidik. Bukan hanya soal kompetensi, tapi soal sikap, etika, bahkan integritas. Ini bukan sekadar persoalan individu. Ia seperti sinyal halus bahwa ada sesuatu yang mulai bergeser yaitu , marwah seorang pendidik tak lagi dijaga dengan kesadaran yang utuh.

Barangkali ini kembali pada titik yang sama tentang kesadaran. Menjadi pendidik bukan hanya soal menyampaikan materi. Ia adalah posisi yang secara diam-diam menuntut keteladanan. Bahkan ketika tidak sedang mengajar, seorang pendidik tetap sedang “mengajar” melalui sikapnya, pilihannya, bahkan cara ia berbicara di ruang publik. Termasuk di media sosial, yang hari ini sering dianggap sebagai ruang bebas tanpa konsekuensi.

Di ruang rimba medsos inilah justru karakter diuji tanpa panggung formal. Banyak pendidik muda hari ini tumbuh di tengah arus yang serba cepat serba ingin terlihat, serba ingin diakui. Tidak ada yang salah dengan ingin berekspresi. Tapi ketika ekspresi kehilangan arah, ketika batas antara pribadi dan tanggung jawab publik menjadi kabur, di situlah wibawa perlahan terkikis. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena mereka tidak cukup sadar.

Sadar bahwa apa yang mereka tampilkan bukan hanya tentang diri mereka, tapi juga tentang peran yang mereka emban.

Pendidik, pada hakikatnya, bukan sekadar profesi yang selesai ketika jam pelajaran berakhir. Ia adalah amanah yang melekat di dalam dan di luar kelas. Ia adalah panggilan untuk menjaga kata, sikap, dan arah hidup, bahkan ketika tidak ada yang menilai secara langsung.

Maka mungkin, selain membenahi sistem, kita juga perlu kembali pada hal yang lebih mendasar yaitu ,membenahi diri. Menumbuhkan kesadaran bahwa mendidik bukan hanya soal apa yang diajarkan, tapi juga siapa yang mengajarkan. Sebab pada akhirnya, murid tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan. Mereka belajar dari siapa kita sebenarnya.

Dan di zaman seperti sekarang, “siapa kita” sering kali justru paling terlihat di tempat yang kita anggap paling sepele yaitu, layar kecil di genggaman tangan.

Akhir kata, pendidikan bukan tentang mencetak manusia sesuai kebutuhan zaman semata. Ia tentang menumbuhkan manusia agar mampu berdiri di tengah zaman tanpa kehilangan dirinya. Manusia yang tidak hanya cerdas berpikir, tapi juga jernih merasa. Yang tidak hanya tahu banyak hal, tapi juga tahu untuk apa ia hidup.

Jika semua pendidik telah memahami hal ini dan mewujudkannya dalam ruang dan lingkungan sekolah, mungkin dari sana kita akan mulai melihat sekolah dengan cara yang berbeda bukan sebagai tempat menyiapkan masa depan, tapi sebagai ruang tempat manusia belajar menjadi manusia.


SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 


Opini LAINNYA