Tuhan Mengampuni, Manusia Menghakimi: Mengapa Dunia Kehilangan Kerahiman?

Anton Ranteallo - Penyuluh Agama Katolik Ahli Madya Sulawesi Barat

Di zaman ketika kesalahan sekecil apa pun bisa viral dalam hitungan detik, kita hidup dalam budaya yang ganjil: cepat menghakimi, lambat mengampuni. Media sosial menjadi “ruang sidang” tanpa hakim yang adil, tanpa proses, tanpa belas kasih. Satu kesalahan, satu aib, cukup untuk “menghukum” seseorang seumur hidup.

Ironisnya, di tengah dunia yang semakin religius secara simbolik, manusia justru semakin miskin kerahiman. Di sinilah Hari Raya Kerahiman Ilahi menemukan relevansinya—bukan sekadar sebagai perayaan liturgis, tetapi sebagai kritik tajam terhadap cara manusia memperlakukan sesamanya.

Jika kita menengok akar sejarahnya, devosi Kerahiman Ilahi lahir bukan dalam situasi normal. Ia muncul dari reruntuhan kemanusiaan pada awal abad ke-20—masa perang, kekerasan, dan dehumanisasi. Melalui Santa Faustina Kowalska, dunia mendengar pesan yang sederhana sekaligus mengganggu: manusia tidak hanya membutuhkan keadilan, tetapi kerahiman.

Pesan ini kemudian ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II, seorang pemimpin Gereja yang hidup di bawah bayang-bayang kekejaman ideologi dan perang. Ia tahu betul: ketika manusia hanya mengandalkan keadilan tanpa kerahiman, yang lahir bukan ketertiban—melainkan kehancuran. Hari ini, kita mungkin tidak hidup dalam perang dunia. Tetapi kita hidup dalam “perang sosial” yang tidak kalah brutal: saling menjatuhkan, membatalkan (cancel culture), dan mempermalukan.

Kita sering berbicara tentang keadilan. Namun, tanpa kerahiman, keadilan bisa berubah menjadi kekerasan yang dilegalkan. Keadilan tanpa kerahiman adalah menghitung kesalahan tanpa memberi ruang pemulihan, menghukum tanpa membuka peluang pertobatan, menutup masa depan seseorang hanya karena masa lalunya. Padahal, iman Kristiani justru menawarkan pendekatan yang radikal: Allah tidak memulai dari kesalahan manusia, tetapi dari kasih-Nya.

Dalam Injil Yohanes (20:19-31), Yesus tidak datang sebagai hakim yang menuntut pertanggungjawaban murid-murid-Nya yang lari. Ia datang sebagai pembawa damai. Ia tidak membuka daftar kesalahan, tetapi membuka jalan pemulihan. Di titik ini, iman Kristiani sebenarnya bersifat “subversif”—melawan naluri manusia yang suka menghakimi.

Kisah Rasul Tomas menjadi gambaran konkret. Dalam banyak komunitas religius, keraguan sering dianggap ancaman. Orang yang ragu dicurigai, bahkan disingkirkan. Namun Yesus melakukan sebaliknya. Ia tidak menyingkirkan Tomas, tetapi justru mendekatinya. Ia memberi ruang bagi keraguan untuk berproses menjadi iman.

Apakah komunitas kita—baik Gereja maupun masyarakat—masih menyediakan ruang bagi orang yang jatuh, ragu, dan gagal? Atau justru menjadi tempat yang paling cepat menghakimi? Jika Gereja kehilangan kerahiman, ia kehilangan jiwanya. Jika masyarakat kehilangan kerahiman, ia kehilangan kemanusiaannya.

Masalah terbesar manusia hari ini bukanlah kurangnya pengetahuan tentang kebaikan, tetapi kurangnya keberanian untuk berbelas kasih. Mengampuni itu sulit. Tidak menghakimi itu menantang. Menerima kembali orang yang pernah gagal itu tidak populer. Lebih mudah menyebarkan kesalahan orang lain, memberi label, dan menjauhkan diri. Padahal, secara jujur kita semua adalah “pelaku kesalahan” dalam bentuk yang berbeda-beda.

Hari Raya Kerahiman Ilahi mengingatkan sesuatu yang tidak nyaman untuk diakui. Kita semua membutuhkan pengampunan. Dan jika kita membutuhkan pengampunan, mengapa kita begitu pelit memberikannya kepada orang lain?

Dalam dunia yang keras, kerahiman sering dianggap kelemahan. Padahal, justru sebaliknya: kerahiman adalah tindakan paling radikal. Mengampuni di tengah budaya balas dendam adalah keberanian.

Tidak menghakimi di tengah budaya viral adalah integritas. Merangkul yang tersingkir di tengah budaya eksklusif adalah kesaksian iman. Kerahiman bukan sikap pasif. Ia adalah pilihan sadar untuk memutus rantai kebencian.

Pesan utama Kerahiman Ilahi sebenarnya sederhana: selalu ada jalan pulang. Namun, sering kali manusia menolaknya—bukan karena Allah tidak mengampuni, tetapi karena manusia tidak mau percaya bahwa dirinya masih layak dikasihi. Di sinilah doa sederhana dari Santa Faustina Kowalska menjadi sangat relevan: “Yesus, Engkau andalanku.” Kalimat ini bukan sekadar doa, tetapi sebuah keputusan: untuk berhenti mengandalkan diri sendiri dan mulai percaya pada kasih Allah.

Pada akhirnya, Hari Raya Kerahiman Ilahi bukan hanya berbicara tentang siapa Allah, tetapi juga tentang siapa kita seharusnya. Jika Allah adalah kerahiman, maka manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya dipanggil untuk melakukan hal yang sama. Pertanyaannya bukan lagi:

Apakah Tuhan mengampuni kita? Tetapi: Apakah kita bersedia mengampuni sesama? Karena bisa jadi, masalah terbesar dunia hari ini bukanlah kurangnya iman—melainkan kurangnya kerahiman. Mari membuka hati untuk semua. Allah Maharahim.


Opini LAINNYA