Hari Paskah kini tiba kembali sebagai perayaan rohani tahunan. Paskah bukan sekadar perayaan tahunan dalam Gereja Katolik. Paskah adalah jantung iman Kristiani, karena di dalamnya Gereja dirayakan misteri keselamatan Allah yaitu sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Tanpa Paskah, iman Kristiani kehilangan maknanya. Rasul Paulus dengan tegas menyatakan dalam Surat 1 Korintus 15:14: "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga iman kamu."
Peristiwa Paskah berakar kuat dalam seluruh sejarah keselamatan. Paskah Yahudi (Pesach) menjadi latar utama. Dalam Kitab Keluaran 12, bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan Mesir melalui darah anak domba. Peristiwa ini menjadi lambang keselamatan. Inilah yang disebut sebagai prafigurasi dalam Perjanjian Lama.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus kemudian dipahami sebagai Anak Domba Allah (bdk. Injil Yohanes 1:29) yang menghapus dosa dunia. Dengan demikian, Paskah Kristiani adalah penggenapan Paskah Yahudi - bukan lagi pembebasan dari perbudakan fisik, tetapi dari dosa dan maut.
Dalam Injil Markus 10:45 ditegaskan: "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Yesus dengan sadar menerima penderitaan dan salib. Maka itu, Salib bukan kegagalan, melainkan jalan keselamatan (Via Salutis). Dalam Yohanes 14:6 dikatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
Kebangkitan adalah inti Paskah. Dalam Injil Lukas 24:6 dikatakan, "Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit." Kebangkitan menegaskan bahwa dosa dan maut tidak memiliki kata terakhir. Allah sendiri membenarkan Yesus dan karya-Nya. Dalam terang iman Gereja, Paskah bukan sekadar peristiwa historis, tetapi kebenaran iman (dogma) yang harus diimani.
Gereja secara tegas mengajarkan bahwa Yesus sungguh bangkit secara nyata dan historis, bukan sekadar simbol. Hal ini dirumuskan dalam pengakuan iman (Credo):
"Pada hari ketiga Ia bangkit dari antara orang mati." Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 638) ditegaskan: Kebangkitan Yesus adalah kebenaran puncak iman kita kepada Kristus. KGK 654 menjelaskan bahwa kebangkitan Kristus: Meneguhkan keilahian-Nya, Menggenapi janji-janji Kitab Suci, Membuka jalan bagi kehidupan baru bagi manusia. Dengan kata lain, Paskah adalah sumber keselamatan universal. Dengan kebangkitan, Paskah menjadi kabar sukacita: hidup menang atas kematian, terang mengalahkan kegelapan.
Magisterium (ajaran resmi Gereja) menempatkan Paskah sebagai pusat seluruh kehidupan Gereja. Dalam Konsili Vatikan II, dokumen Sacrosanctum Concilium (no. 5) ditegaskan: Karya penebusan manusia dan pemuliaan Allah terlaksana secara istimewa dalam misteri Paskah Kristus. Artinya, seluruh liturgi Gereja berpusat pada Paskah.
Setiap perayaan Ekaristi adalah perayaan Paskah yang dihadirkan kembali. Yesus sendiri berkata dalam Injil Lukas 22:19: "Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku." Magisterium mengajarkan bahwa Ekaristi bukan sekadar kenangan. Kata “kenangan” (anamnesis) bukan sekadar mengingat, tetapi menghadirkan secara nyata karya keselamatan Kristus di sini dan sekarang. Melalui roti dan anggur yang dikonsekrasikan, umat beriman berjumpa dengan Yesus yang hidup dan mengambil bagian dalam kurban-Nya. Jadi, Ekaristi adalah kenangan yang hidup, di mana umat tidak hanya mengenang Yesus, tetapi mengalami kehadiran dan kasih-Nya secara nyata.
Paus Fransiskus sering menegaskan bahwa Paskah adalah: kemenangan harapan atas keputusasaan, terang atas kegelapan, dan kehidupan atas kematian. Paskah bukan hanya doktrin, tetapi harus menjadi pengalaman hidup yakni mati dan bangkit bersama Kristus
Dalam Surat Roma 6:4: "Kita telah dikuburkan bersama Dia… supaya kita hidup dalam hidup yang baru." Artinya: Prapaskah mati terhadap dosa, Paskah bangkit dalam hidup baru.
Paskah mengajarkan bahwa penderitaan bukan akhir, salib bukan kegagalan, kematian bukan penutup cerita. Paskah sebagai Gerakan Sosial. Iman Paskah harus nyata dalam tindakan: membela yang lemah, memperjuangkan keadilan, merawat kehidupan. Karena Kristus yang bangkit hadir dalam sesama (bdk. Mat 25:40).
Bahaya terbesar bagi kita adalah merayakan Paskah tanpa mengalami perubahan. Paskah menantang kita: dari egoisme menuju solidaritas, dari dosa menuju pertobatan, dari putus asa menuju harapan. Iman akan kebangkitan harus tampak dalam hidup sehari-hari dengan lebih mengampuni, lebih peduli, dan lebih setia.
Paskah adalah misteri kasih Allah yang paling radikal. Allah rela menderita, wafat, dan bangkit demi manusia. Ini bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi realitas iman yang terus hidup.
Karena itu, Paskah bukan hanya tentang Kristus yang bangkit, tetapi tentang kita yang diperbarui, diselamatkan, dan diutus menjadi saksi kehidupan. Seperti ditegaskan dalam Injil Matius 28:6: "Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya." Selamat merayakan Paskah—mari bangkit bersama Kristus dan menjadi tanda harapan bagi dunia.