Hari Asyura dan Lebaran Yatim: Merawat Iman, Menumbuhkan Kepedulian

Oleh : Sadikin, S.Pd., S.H., M.Pd (Penyuluh Agama Kemenag Mamuju)

Hari Asyura, 10 Muharram, adalah salah satu hari yang memiliki keutamaan dalam Islam. Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah atas pertolongan-Nya kepada Nabi Musa dan kaumnya dari kezaliman Fir'aun. Asyura mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan selalu ada jalan keluar bagi mereka yang tetap beriman, bersabar, dan bertawakal kepada Allah.

Namun, di tengah masyarakat Indonesia, Hari Asyura juga dikenal dengan istilah "Lebaran Yatim." Perlu dipahami bahwa istilah ini bukan merupakan nama hari raya yang ditetapkan dalam syariat Islam sebagaimana Idulfitri dan Iduladha. Sebutan tersebut adalah tradisi sosial yang berkembang sebagai momentum untuk memberikan perhatian, kasih sayang, dan santunan kepada anak-anak yatim, terutama pada bulan Muharram.

Makna terdalam dari "Lebaran Yatim" bukanlah perayaan, melainkan ajakan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang kehilangan kasih sayang seorang ayah. Islam sangat memuliakan anak yatim. Mereka bukan sekadar objek belas kasihan, tetapi amanah yang harus dijaga kehormatannya, dipenuhi hak-haknya, dididik dengan kasih sayang, dan dibimbing agar tumbuh menjadi generasi yang beriman dan berakhlak mulia. Kementerian Agama membuktikan secara nyata pada hari Asyura ini.

Hari Asyura mengingatkan kita bahwa keimanan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah kepada Allah, tetapi juga melalui kepedulian kepada sesama. Puasa Asyura mendidik hati agar semakin dekat kepada Allah, sementara menyantuni anak yatim mendidik hati agar semakin peka terhadap penderitaan manusia. Keduanya melahirkan keseimbangan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.

Di zaman yang semakin individualistis, semangat Asyura mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari banyaknya manfaat yang diberikan kepada orang lain. Senyum seorang anak yatim yang merasa diperhatikan sering kali menjadi doa yang mengalirkan keberkahan bagi mereka yang mengulurkan tangan dengan penuh keikhlasan.

Karena itu, marilah menjadikan Hari Asyura sebagai momentum untuk memperbanyak ibadah, memperkuat rasa syukur, memperbanyak istighfar, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap anak-anak yatim dan kaum yang membutuhkan. Dengan demikian, Muharram tidak hanya menjadi awal tahun baru Hijriah, tetapi juga awal lahirnya hati yang lebih lembut, iman yang lebih kuat, dan kepedulian yang lebih nyata.

Asyura mengajarkan kita untuk mendekat kepada Allah, sedangkan perhatian kepada anak yatim mengajarkan kita untuk mendekat kepada sesama. Ketika keduanya berpadu, lahirlah pribadi yang tidak hanya saleh dalam ibadah, tetapi juga mulia dalam kemanusiaan.


Opini LAINNYA