Launching 100 Tahun Baptisan Katolik Pertama di Toraja Barat

Launching 100 Tahun Baptisan Katolik Pertama di Toraja Barat

"Baptisan bukan sekadar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Baptisan adalah anugerah keselamatan yang menghadirkan janji penyertaan Roh Kudus sepanjang hidup. Percikan air baptis bukan sekadar membasahi tubuh, melainkan tanda kasih Allah yang menyucikan hati, mengangkat manusia menjadi anak-anak-Nya, serta mengutus setiap orang untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia."​​​​​​

Seratus tahun yang lalu, di sebuah kampung sederhana bernama Supiran, yang terletak di tepian Sungai Mamasa, Allah mulai menorehkan sejarah keselamatan bagi masyarakat Toraja Barat. Di tempat yang tampak sunyi itulah benih Gereja Katolik pertama kali ditanam. Pada tahun 1931, seorang anak bernama Wilem Alexander, putra dari Simon Sada dan Anna Sapoe, menerima Sakramen Baptis Kudus yang dilayankan oleh Pastor L. G. Houtepen, MSC, dengan Wilhelmus Siko sebagai wali baptisnya. Peristiwa sederhana itu ternyata menjadi awal perjalanan iman yang luar biasa. Dari satu jiwa yang dibaptis, iman terus bertumbuh, harapan berkembang, dan kasih Allah berbuah hingga kini.

Satu abad kemudian, benih yang dahulu ditaburkan telah berkembang menjadi Gereja yang hidup di delapan paroki yang tersebar di wilayah Kevikepan Sulawesi Barat: Paroki St. Fransuskus Messawa, Paroki St. Petrus Mamasa, Paroki St. Yosep Polewali, Paroki Sta. Maria Mamuju, Paroki St. Yusuf Pekerja Baras, Paroki St. Mikael Tobadak, Paroki St. Giovanni Bosco Supiran, dan Paroki Maria Bunda Allah Kondodewata . Sejarah ini menjadi bukti nyata bahwa benih Injil yang ditaburkan dengan kesetiaan akan bertumbuh, berakar kuat, berbunga, dan menghasilkan buah yang melimpah.

Dalam semangat syukur itulah Kevikepan Sulawesi Barat menyelenggarakan Launching 100 Tahun Baptisan Katolik Pertama di Toraja Barat sebagai awal rangkaian persiapan menuju perayaan satu abad baptisan pertama yang akan diperingati pada tahun 2031.
Mengusung tema: "Dibaptis untuk Diutus, Berjalan Bersama Mewartakan Kasih dalam Pelayanan." Tema ini mengingatkan seluruh umat bahwa baptisan bukanlah garis akhir perjalanan iman, melainkan titik awal perutusan. Setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus melalui pelayanan, kesaksian hidup, dan pewartaan Injil di tengah keluarga, Gereja, maupun masyarakat.

Launching tersebut dilaksanakan dalam Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Makassar, Mgr. Fransiskus Nipa, didampingi Vikaris Episkopalis Sulawesi Barat, P. Oc. Sam Bureny, Rektor Seminari Menegah St. Petrus Claver, P. Simon Refliandi, Sekretaris Keuskupan Agung Makassar, P. Aidan Putra Sidik, Pr., serta para pastor dari semua paroki di Kevikepan Sulawesi Barat. Hadir pula perwakilan pastor dari Kevikepan Toraja sehingga jumlah imam yang berpartisipasi dalam perayaan syukur ini mencapai 23 orang.

Pada kesempatan yang sama juga dilaksanakan pelantikan lima frater sebagai Lektor dan Akolit yang akan melanjutkan masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di berbagai paroki. Perayaan berlangsung di Lapangan Sepak Bola Messawa, Kabupaten Mamasa, pada Sabtu, 18 Juli 2026, dan dihadiri sekitar 700 umat yang datang dari seluruh paroki di Kevikepan Sulawesi Barat. Ekaristi dimulai pukul 08.45 WITA dan berlangsung dua jam dalam suasana penuh sukacita, syukur, dan persaudaraan. Petugas liturgi, termasuk koor, dipercayakan kepada umat Paroki St. Mikael Tobadak. Lagu-lagu liturgi yang dibawakan dengan penuh penghayatan menjadikan perayaan semakin khidmat sekaligus menggembirakan. Selain pelantikan para frater sebagai Lektor dan Akolit, pada perayaan ini juga dilantik formatur panitia inti yang akan mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan menuju perayaan satu abad Baptisan Katolik Pertama di Toraja Barat.

Dalam homilinya, Mgr. Fransiskus Nipa mengajak seluruh umat untuk melihat baptisan bukan sekadar sebagai peristiwa masa lalu, tetapi sebagai rahmat yang terus hidup dalam perjalanan Gereja. Beliau mengingatkan bahwa sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung kepada para murid: "Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku..." (Mat. 28:19)

Karena itu, baptisan selalu mengandung dimensi misioner. Setiap orang yang menerima baptisan menerima pula panggilan untuk diutus. Rahmat baptisan tidak boleh berhenti sebagai identitas administratif Gereja, melainkan harus menjadi kekuatan yang mendorong umat menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Uskup juga mengajak umat mengenang jasa para misionaris dan para awam yang telah merintis pewartaan Injil di Toraja Barat. Berkat pengorbanan mereka, benih Gereja yang ditanam satu abad silam kini bertumbuh menjadi Gereja yang hidup dan berkembang. Beliau mengusulkan agar lima tahun masa persiapan menuju satu abad baptisan tidak hanya dipenuhi kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum refleksi iman yang menyentuh seluruh umat hingga ke stasi-stasi terpencil. Mengutip semangat Paus Fransiskus, beliau menegaskan tiga arah refleksi menuju satu abad baptisan, yaitu:
1. Menyadari bahwa seluruh umat dipanggil menjadi misionaris.
2. Menghidupi misi sebagai rahmat yang lahir dari baptisan.
3. Berani keluar menjumpai semua orang, terutama mereka yang miskin, tersisih, dan terlupakan.

Perayaan ini mengingatkan kembali bahwa baptisan bukan sekadar tradisi keluarga atau budaya yang dilakukan karena kebiasaan. Baptisan merupakan sakramen keselamatan yang mengubah identitas seseorang menjadi anak Allah. Air baptis memang hanya dipercikkan sesaat, tetapi rahmatnya menyertai sepanjang hidup. Sejak saat itu seseorang dipanggil untuk hidup dalam terang Kristus, menjadi saksi kasih-Nya, serta menghadirkan damai di tengah dunia. Karena itu, makna baptisan tidak berhenti pada hari seseorang menerima sakramen. Baptisan harus terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari: hidup jujur, mengampuni, melayani tanpa pamrih, membangun persaudaraan, serta menjadi pembawa harapan bagi sesama.

Seratus tahun perjalanan Gereja di Toraja Barat menjadi bukti bahwa rahmat baptisan tidak pernah sia-sia. Apa yang dimulai dari satu anak kecil di Supiran kini telah melahirkan ribuan umat beriman yang menjadi saksi Kristus di berbagai tempat. Launching satu abad baptisan ini bukanlah sekadar mengenang sejarah, melainkan menjadi momentum untuk menatap masa depan. Gereja dipanggil terus bertumbuh, berakar semakin dalam pada Kristus, serta semakin kokoh mewartakan Injil kepada semua orang.Semoga benih iman yang dahulu ditanam para misionaris terus berbuah dalam kehidupan umat Katolik di Sulawesi Barat sehingga semakin banyak orang mengalami kasih Allah melalui kesaksian hidup Gereja.

Setelah homili Uskup Agung Makassar, perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan pelantikan lima frater sebagai Akolit. Pelantikan ini menjadi momen istimewa karena para frater secara resmi menerima tugas pelayanan di altar sebagai bagian dari persiapan mereka menuju tahapan pelayanan berikutnya dalam panggilan imamat.
Selain pelantikan para akolit, pada kesempatan yang sama juga dilaksanakan pelantikan formatur Panitia Perayaan 100 Tahun Baptisan Katolik Pertama di Toraja Barat. Formatur yang telah ditetapkan ini akan bertugas menyusun struktur kepanitiaan secara lengkap dan mempersiapkan berbagai program rohani maupun pastoral selama lima tahun ke depan hingga puncak perayaan satu abad baptisan pertama pada tahun 2031.

Perayaan Ekaristi kemudian ditutup dengan sesi foto bersama yang dipandu oleh P. Edy Octavianus Pr., selaku seremoniaris sekaligus Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Makassar. Seluruh imam, frater, panitia, dan umat mengabadikan momen bersejarah tersebut sebagai kenangan akan dimulainya perjalanan menuju satu abad baptisan pertama di Toraja Barat.

Sambil menunggu kehadiran Bupati Mamasa, rangkaian acara dilanjutkan dengan berbagai penampilan seni dan budaya. Drum band SMA Katolik Messawa tampil memukau dengan atraksi yang penuh semangat. Penampilan para siswa berhasil menghidupkan suasana dan disambut tepuk tangan meriah dari seluruh umat yang hadir. Tidak lama kemudian, Bupati Mamasa, Bapak Welem Sambolangi, tiba di lokasi acara. Kedatangannya disambut secara adat oleh Uskup Agung Makassar, Vikaris Episkopal Sulawesi Barat, serta para imam melalui prosesi pengalungan sarung khas daerah sebagai simbol penghormatan dan persaudaraan. Penampilan drum band kembali mengiringi prosesi penyambutan tersebut sehingga suasana semakin semarak.

Sebelum memasuki acara seremonial, umat kembali disuguhkan berbagai pertunjukan budaya, di antaranya tarian tradisional yang dibawakan oleh Orang Muda Katolik Paroki St. Mikael Tobadak serta kolaborasi lagu-lagu daerah yang dibawakan dengan sangat apik. Penampilan tersebut mendapat apresiasi tinggi dari umat. Bahkan beberapa umat memberikan saweran sebagai bentuk penghargaan atas penampilan para seniman muda tersebut. Suasana acara semakin hidup berkat kepiawaian pembawa acara (MC) yang memandu setiap rangkaian kegiatan dengan penuh semangat, komunikatif, dan mampu membangun interaksi hangat dengan seluruh peserta.

Memasuki acara sambutan, Vikaris Episkopal Sulawesi Barat, P. Oc. Sam Bureny, tampil pertama. Beliau menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas liturgi, khususnya koor dari Paroki St. Mikael Tobadak yang telah mempersembahkan pelayanan liturgi dengan sangat baik sehingga perayaan berlangsung khidmat dan penuh sukacita. Dalam sambutannya, beliau mengajak seluruh umat untuk mensyukuri penyertaan Tuhan selama perjalanan Gereja di Sulawesi Barat. Menurutnya, launching ini bukan sekadar pembukaan rangkaian kegiatan menuju satu abad baptisan, tetapi merupakan kesempatan berharga untuk melakukan refleksi bersama mengenai arah perjalanan Gereja pada masa depan.

Beliau mengajak seluruh umat untuk merefleksikan empat dimensi kehidupan Gereja, yaitu:
1. Penguatan kehidupan internal Gereja.
2. Pengembangan misi Gereja ke tengah masyarakat.
3. Penguatan relasi dengan masyarakat lintas agama.
4. Peningkatan kerja sama dengan pemerintah demi kesejahteraan bersama.

Di akhir sambutannya, Vikaris Episkopal berharap agar formatur yang telah dilantik segera menyusun kepanitiaan secara lengkap sehingga berbagai program persiapan menuju perayaan satu abad baptisan dapat segera dilaksanakan secara terencana dan berkesinambungan.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bupati Mamasa, Bapak Welem Sambolangi. Sebagai tuan rumah, beliau mengawali sambutannya dengan menyampaikan ucapan selamat datang kepada Uskup Agung Makassar, para imam, para religius, serta seluruh umat Katolik yang datang dari berbagai paroki di Kevikepan Sulawesi Barat. Beliau mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaan karena Kabupaten Mamasa kembali dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan besar Gereja. Menurutnya, kehadiran ratusan umat dari berbagai daerah merupakan sebuah kehormatan sekaligus kebanggaan bagi masyarakat Mamasa. Bupati juga mengajak seluruh umat untuk mensyukuri warisan iman yang telah dimulai seratus tahun silam.

"Kalau saja baptisan pertama itu tidak pernah terjadi seratus tahun yang lalu, tentu kita tidak akan berkumpul seperti hari ini." Beliau menegaskan bahwa identitas sebagai orang Kristen tidak boleh berhenti pada simbol-simbol keagamaan semata, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku hidup yang mencerminkan kasih, persaudaraan, dan keteladanan di tengah masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati menyampaikan bahwa selama kurang lebih sembilan belas bulan memimpin Kabupaten Mamasa, kehidupan kerukunan umat beragama terus terpelihara dengan baik. Semangat "Mamasa Menuju Mamase" diharapkan terus menjadi kekuatan bersama dalam membangun daerah dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Beliau juga berharap Gereja terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan masyarakat Mamasa yang semakin maju, damai, dan sejahtera.

Sambutan penutup disampaikan oleh Mgr. Fransiskus Nipa. Beliau mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya launching yang menjadi awal perjalanan menuju satu abad baptisan pertama di Toraja Barat. Dalam sambutannya, Uskup menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk terus bertumbuh. Pertumbuhan itu bukan hanya tampak dari pembangunan fisik, tetapi terutama melalui penguatan iman umat, pendalaman katekese, pewartaan Injil (kerygma), pendidikan iman, dan penghargaan terhadap budaya lokal melalui semangat inkulturasi. Beliau mengajak seluruh imam, biarawan-biarawati, serta umat awam untuk terus hadir melayani hingga ke pelosok-pelosok sebagai bentuk nyata perutusan Gereja.

Secara khusus beliau juga menyampaikan ucapan selamat kepada para frater yang telah dilantik sebagai Lektor dan Akolit. Kepada formatur panitia, Uskup berpesan agar segera bekerja menyusun peta jalan (road map) persiapan menuju tahun 2031 sehingga seluruh rangkaian kegiatan benar-benar menjadi proses pembinaan iman bagi seluruh umat, bukan sekadar rangkaian acara seremonial. Beliau menutup sambutannya dengan sebuah refleksi yang mendalam:

"Gereja di Sulawesi Barat hendaknya bertumbuh seperti pohon yang berakar kuat dalam Kristus. Dari akar iman yang kokoh akan tumbuh batang yang teguh, daun yang rindang, dan buah yang melimpah bagi kehidupan Gereja dan masyarakat."

Pemukulan Gendang Menandai Dimulainya Perjalanan Menuju Satu Abad Baptisan Sebagai puncak acara launching, Uskup Agung Makassar bersama Bupati Mamasa melakukan prosesi simbolis pemukulan gendang yang disambut hitungan bersama seluruh umat: "Satu... dua... tiga...". Dentuman gendang tersebut menjadi tanda resmi dimulainya masa persiapan menuju Perayaan 100 Tahun Baptisan Katolik Pertama di Toraja Barat yang akan diperingati pada tahun 2031. Bukan sekadar seremoni, bunyi gendang itu menjadi panggilan bagi seluruh umat untuk melanjutkan semangat para perintis iman. Lima tahun ke depan diharapkan menjadi masa pembinaan, refleksi, dan penguatan kehidupan menggereja sehingga ketika satu abad baptisan pertama dirayakan, Gereja di Sulawesi Barat sungguh hadir sebagai Gereja yang semakin dewasa dalam iman, kokoh dalam persaudaraan, dan setia dalam perutusannya mewartakan kasih Kristus kepada semua orang. Semoga!

 

Kontributor : Anton Ranteallo


Wilayah LAINNYA