Mamuju (Kemenag Sulbar) Merawat kerukunan di tengah keberagaman ibarat menjaga nyala lilin di tengah hembusan angin membutuhkan kecermatan, kepedulian, dan kepekaan rasa. Menyadari pentingnya respons cepat sebelum percik kesalahpahaman membesar menjadi api konflik, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat bergerak cepat. Lewat kolaborasi bersama Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kemenag RI, sebuah Bimbingan Teknis (Bimtek) Early Warning System (EWS) SiRukun digelar secara daring pada Selasa (21/7/2026).
Sebanyak 587 peserta menyatu dalam ruang virtual, mulai dari Kepala Bidang, Pembimas, Kepala Kankemenag Kabupaten/Kota, Kasubbag TU, Kepala KUA, hingga para penyuluh dan penghulu yang saban hari bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat.
Aplikasi EWS SiRukun yang sudah diluncurkan Menteri Agama akhir tahun lalu, hadir bukan sekadar sebagai deretan kode digital, melainkan sebagai sistem deteksi dini berbasis teknologi yang dirancang untuk merespons potensi gesekan sosial keagamaan secara presisi.
Kepala Kanwil Kemenag Sulawesi Barat, H. Adnan Nota, menegaskan bahwa aplikasi ini menjadi benteng penting dalam mengawal moderasi beragama dan harmoni sosial di wilayahnya.
“Setiap unsur memiliki peran penting dalam sistem ini. Penyuluh agama bertugas melakukan pelaporan kondisi lapangan, verifikator memastikan validitas data, sementara pimpinan dan pejabat terkait melakukan pemantauan serta tindak lanjut terhadap laporan yang masuk,” papar Adnan Nota.
Langkah ini bukanlah tanpa pijakan yang kuat. Sulawesi Barat saat ini mengantongi angka Indeks Kerukunan Umat Beragama mencapai 83,01, sebuah pencapaian membanggakan yang mencerminkan komitmen dingin antara para tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah daerah.
Kepala PKUB Kemenag RI, Adib Abdusshomad, memberikan apresiasi tinggi atas semangat luar biasa para peserta dari Sulawesi Barat. Ia mengingatkan bahwa merawat kedamaian adalah ikhtiar yang tiada henti.
Di sisi lain, Kepala Bidang Harmonisasi Umat Beragama PKUB Kemenag RI, Adimin Diens, mengupas tuntas teknis pengoperasian EWS SiRukun. Menurutnya, keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada kecepatan dan keakuratan laporan dari lapangan, yang kemudian ditopang oleh pendekatan preventif berbasis kekeluargaan.
Melalui Bimtek ini, Kanwil Kemenag Sulbar berharap seluruh peserta dapat langsung menerapkan SiRukun di wilayah kerja masing-masing. Sebab pada akhirnya, teknologi hanyalah alat—seketat apa pun sistemnya, kepedulian dan kehangatan interaksi manusialah yang menjadi perekat utama kerukunan di Sulawesi Barat.
Wilayah
PKUB Kemenag RI, Latih Ekosistem EWS SIRUKUN Provinsi Sulawesi Barat
- Selasa, 21 Juli 2026 | 19:05 WIB