Sepak Bola dan Pembangunan Zona Integritas

Hamzah Durisa (ASN Kankemenag Kab. Pasangkayu/Penggerak GUSDURian)

Piala dunia selalu menghadirkan pelajaran yang lebih besar dari sekadar hasil pertandingan. Di tengah euforia gol, taktik, dan persaingan antarnegara, ada satu pesan yang selalu berulang: tidak ada kemenangan yang lahir dari satu orang. Tim yang mampu bertahan hingga akhir biasanya bukan tim dengan pemain paling terkenal, melainkan tim yang paling solid bekerja sebagai satu kesatuan.

Semangat itu menjadi semakin relevan ketika dunia menyambut Piala Dunia FIFA 2026. Format kompetisi yang semakin besar menghadirkan tantangan yang juga semakin kompleks. Tim yang ingin melangkah jauh tidak cukup hanya memiliki lini depan tajam atau pemain berbakat. Mereka harus memiliki keseimbangan di semua lini. Pertahanan harus kokoh, lini tengah harus mampu menghubungkan permainan, dan lini depan harus efektif menyelesaikan peluang.

Filosofi tersebut sesungguhnya sangat dekat dengan semangat pembangunan Zona Integritas di lingkungan Kantor Kementerian Agama, mulai dari tingkat pusat hingga kabupaten. Sebab pembangunan integritas pada hakikatnya bukan pekerjaan individu, melainkan kerja tim yang membutuhkan arah yang sama, kekuatan yang merata, dan kemampuan untuk saling menopang.

Bermain Sebagai Satu Tim, Bukan Mengandalkan Bintang

Dalam sepak bola modern, era ketergantungan pada satu pemain semakin ditinggalkan. Tim-tim terbaik di dunia menyadari bahwa kemenangan tidak dibangun oleh satu sosok yang mencetak gol, tetapi oleh kerja kolektif yang berjalan secara terstruktur.

Penyerang memang mencatat nama di papan skor, tetapi proses menuju gol dimulai jauh sebelumnya. Ada kiper yang memulai serangan dengan distribusi bola yang baik. Ada bek yang menjaga pertahanan tetap aman. Ada gelandang yang mengatur tempo permainan. Bahkan pemain yang tidak banyak terlihat sering menjadi penentu keseimbangan tim. Ketika salah satu bagian gagal menjalankan perannya, seluruh sistem ikut terganggu. Begitu pula dalam pembangunan Zona Integritas.

Pembangunan Zona Integritas  tidak dapat disandarkan hanya kepada satu unit kerja atau tim tertentu. Tidak cukup bila hanya kelompok reformasi birokrasi yang bergerak. Tidak cukup pula bila hanya bagian pelayanan publik yang melakukan pembaruan. Zona Integritas adalah ekosistem. Ketika satu unit memperbaiki tata kelola, unit lain harus memperkuat pengawasan. Saat pelayanan publik berkembang, administrasi juga harus tertata. Ketika inovasi dilahirkan, dokumentasi dan pengendalian juga harus berjalan.

Kantor Kementerian Agama dari pusat hingga kabupaten sesungguhnya sedang memainkan pertandingan yang sama dengan tujuan yang sama pula: membangun pelayanan yang bersih, akuntabel, dan dipercaya masyarakat. Karena itu, setiap lini memiliki arti yang sama pentingnya.

Tidak Ada Gunanya Menang di Depan Jika Kalah di Belakang

Dalam sepak bola ada ungkapan sederhana tetapi sangat kuat maknanya: Buat apa memasukkan tiga bola kalau harus kebobolan empat bola. Kalimat ini bukan sekadar kritik terhadap pertahanan yang lemah, tetapi pengingat bahwa keberhasilan yang tidak seimbang pada akhirnya akan kehilangan makna.

Sebuah tim bisa terlihat menyerang dengan luar biasa, tetapi bila pertahanannya rapuh, hasil akhirnya tetap kekalahan. Prinsip yang sama dapat dibaca dalam pembangunan Zona Integritas. Apa artinya jika satu divisi berhasil menciptakan inovasi pelayanan yang luar biasa, tetapi masih ada bagian lain yang lambat dalam administrasi? Apa manfaatnya jika satu bidang memiliki capaian sangat tinggi sementara koordinasi internal masih lemah? Apa gunanya memperoleh pengakuan jika pengalaman masyarakat terhadap pelayanan belum berubah secara merata?

PMPZI mengajarkan bahwa organisasi dinilai sebagai satu kesatuan. Kemajuan yang tidak merata justru dapat menjadi titik lemah yang menghambat keseluruhan capaian. Di tingkat pusat, arah kebijakan harus jelas dan dapat diterjemahkan dengan baik. Di tingkat wilayah, koordinasi harus berjalan efektif. Di tingkat kabupaten, implementasi harus nyata dan dirasakan masyarakat.

Jika salah satu tingkatan mengalami hambatan, maka tujuan besar organisasi akan ikut tertahan. Karena itu, tidak boleh ada lini yang pincang. Semua harus kuat. Semua harus saling menjaga. Semua harus hadir untuk memperkuat bagian yang masih tertinggal. Sebab keberhasilan organisasi bukan ditentukan oleh siapa yang paling cepat berlari, tetapi oleh siapa yang mampu mencapai garis akhir bersama.

Menarik Semua Orang Maju Bersama

Pelajaran lain yang sering terlihat dalam turnamen besar adalah bagaimana tim juara selalu memiliki budaya saling mendukung. Ketika seorang pemain kehilangan bola, pemain lain datang membantu. Ketika pertahanan mendapat tekanan, seluruh tim turun menjaga. Ketika ada rekan yang melakukan kesalahan, tim tidak berhenti bermain untuk saling menyalahkan. Mereka tetap bergerak sebagai satu kesatuan.

Budaya seperti inilah yang menjadi fondasi penting dalam pembangunan Zona Integritas. Membangun integritas bukan sekadar memenuhi indikator atau menyusun dokumen penilaian. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan kerja yang sehat: saling terbuka, saling mendukung, dan tidak membiarkan ada bagian yang berjalan sendiri. Unit yang sudah berkembang memiliki tanggung jawab moral untuk membantu unit yang masih berproses.

Bagian yang sudah kuat harus menjadi penopang bagi bagian yang membutuhkan penguatan. Pemimpin harus menjadi pelatih yang mampu menyatukan visi, bukan sekadar mengejar hasil sesaat. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak melihat keberhasilan satu bidang secara terpisah. Yang dirasakan masyarakat adalah kualitas pelayanan organisasi secara keseluruhan.

Piala dunia mengajarkan bahwa trofi tidak diberikan kepada pencetak gol terbanyak semata. Trofi diberikan kepada tim yang mampu menjaga keseimbangan, disiplin, dan kerja sama sampai pertandingan berakhir. Demikian pula Zona Integritas. Predikat terbaik tidak lahir dari satu divisi yang menonjol, tetapi dari organisasi yang mampu bergerak bersama. Sehingga, pada akhirnya, keberhasilan sejati bukanlah ketika satu lini terlihat hebat, melainkan ketika seluruh lini tumbuh kuat, saling menopang, dan membawa organisasi mencapai tujuan bersama. Sebab dalam sepak bola maupun pembangunan Zona Integritas, kemenangan yang paling bernilai adalah kemenangan yang diraih oleh seluruh tim.


Opini LAINNYA