Pasar Murah Dinas Ketapang Sulbar di Gereja Katolik Santa Maria Mamuju

Pasar Murah di kompleks Gereja Katolik Santa Maria Mamuju.

Jumat, 5 Desember 2025, digelar Pasar Murah di kompleks Gereja Katolik Santa Maria Mamuju. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Barat. Sejak malam sebelumnya, panitia telah memasang lima tenda kerucut di halaman gereja sebagai tempat memajang bahan pokok. Sebelum pukul 09.00 WITA, masyarakat sudah tampak antusias berdatangan untuk membeli bahan kebutuhan pokok yang disiapkan oleh Dinas Ketapang.

Kegiatan ini dihadiri oleh anggota DPR RI, H. Sulfikar Suhardi; anggota DPRD Kabupaten Mamuju, Febrianto Wijaya; Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Barat, Drs. H. Bestari, M.Si; serta perwakilan Bulog. Mereka disambut oleh Pastor Vikaris Episkopalis Sulawesi Barat, P. Oc. Samson Bureny, Pr dan Pastor Paroki St. Maria Mamuju, P. Wilhelmus Tulak, Pr setelah memimpin Misa sekolah SD Katolik St. Clara Mamuju.

Sebelum penjualan bahan pokok dimulai, acara diawali dengan pembukaan singkat yang bertempat di depan Kantor Kopersasi KSP Marendeng. Dalam sambutannya, Pastor Samson menyampaikan salam hangat kepada seluruh hadirin dan mengucapkan terima kasih atas pelaksanaan kegiatan ini.

Beliau mengingatkan bahwa pada tahun sebelumnya juga digelar kegiatan serupa. Pastor berharap agar kegiatan ini berlangsung dalam penyertaan Tuhan dan membawa sukacita bagi semua. Ia juga mendoakan agar masyarakat semakin terbantu dalam memenuhi kebutuhan pokoknya.

Selanjutnya, Kadis Ketapang, H. Waris, menyampaikan salam hangat kepada jemaat dan masyarakat yang hadir. Beliau juga memperkenalkan anggota DPR RI dari Dapil Sulbar, H. Sulfikar Suhardi, yang hadir untuk memonitor ketersediaan bahan pangan nasional sebagai bagian dari tugas dan mitra kerja Ketapang.

Disampaikan pula bahwa ini merupakan kegiatan keempat yang dilaksanakan di lingkungan gereja, dan khusus untuk Gereja Katolik, ini adalah Pasar Murah yang kedua. Kadis mendukung harapan Pastor agar kegiatan semacam ini dapat terus dilanjutkan tahun depan.

Beliau juga menyampaikan salam dari Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka. Pada kegiatan ini disediakan lima ton beras, telur, minyak goreng, gas, cabai, dan beberapa komoditas pangan lainnya. Kadis menegaskan agar masyarakat tidak melakukan pemborongan karena semua bahan pokok tersedia dalam jumlah cukup. Ia berharap stabilitas harga dapat terus terjaga.

Akhirnya, H. Sulfikar menyampaikan sambutan penutup sekaligus membuka Pasar Murah. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa kehadirannya merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawabnya untuk mengawasi program Ketapang.

Tahun ini tersedia kuota sembilan titik Pasar Murah, lebih sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai dua puluh titik. Ia berkomitmen memperjuangkan agar pada tahun depan kegiatan ini dapat kembali ditambah, setidaknya mencapai dua puluh titik seperti tahun lalu. Beliau mengajak semua untuk berdoa agar usaha-usaha ini mendapat restu Tuhan demi terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat.

Setelah sambutan, Pasar Murah resmi dibuka oleh H. Sulfikar dengan mengetukkan mikrofon sebanyak tiga kali. Masyarakat segera bergegas memenuhi area penjualan untuk membeli kebutuhan pokok yang telah disediakan.

Semoga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan kegiatan seperti ini semakin membawa kebaikan bagi semua. Kegiatan Pasar Murah ini bukan sekadar transaksi jual beli, tetapi menghadirkan wajah kepedulian dan kasih Allah bagi umat-Nya.

Gereja menjadi ruang berkat, tempat di mana pemerintah, masyarakat, dan Gereja bersama-sama membangun kesejahteraan. Yesus mengajarkan agar kita berbagi, memperhatikan sesama, dan menghadirkan keadilan sosial. Ketika kebutuhan pokok masyarakat dipenuhi dengan harga yang terjangkau, saat itulah nilai Injil tentang solidaritas dan belas kasih nyata dalam tindakan.

Semoga kegiatan ini mengingatkan kita bahwa setiap bentuk pelayanan—sekecil apa pun—adalah kesempatan untuk menjadi saluran berkat Tuhan. Dan kiranya, melalui kerja sama yang tulus, semakin banyak keluarga merasakan damai dan penyelenggaraan Tuhan dalam hidup mereka.

 

Oleh : Anton Ranteallo​​​​​​​ (Penyuluh Agama Katolik Sulawesi Barat)


Wilayah LAINNYA