Mamuju (Humas) — Ruang digital kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Di dalamnya, informasi bergerak begitu cepat, termasuk di kalangan pelajar dan generasi muda. Melihat kondisi tersebut, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat bersama Densus 88 Antiteror Polri memperkuat sinergi untuk membangun ruang digital yang aman, sehat, dan damai melalui sosialisasi lintas agama, Rabu (9/9/2026).
Penguatan sinergi tersebut dibahas dalam kunjungan Kasatgaswil Densus 88, AKBP Sofyan Ansyari, ke Kanwil Kemenag Sulbar. Kunjungan diterima oleh Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sulbar, H. Suharli, yang hadir mewakili Kanwil Kemenag Sulbar.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan sosialisasi yang akan berlangsung di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mamuju Tengah, Jumat (11/9/2026). Koordinasi dilakukan agar kegiatan dapat berjalan tepat sasaran dan materi yang disampaikan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat di tengah semakin luasnya penggunaan ruang digital.
Sosialisasi akan melibatkan Penyuluh Agama, Guru Agama, dan pemuda dari berbagai latar belakang agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.
Bagi Kanwil Kemenag Sulbar, keterlibatan penyuluh menjadi salah satu kekuatan utama dalam kegiatan tersebut. Penyuluh Agama merupakan ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, pemuda, keluarga, hingga masyarakat luas.
H. Suharli menyampaikan, posisi penyuluh yang dekat dengan masyarakat membuat mereka memiliki peran penting dalam menyampaikan edukasi sekaligus membangun kesadaran masyarakat mengenai tantangan yang muncul di ruang digital.
“Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Barat menyambut baik sinergi ini. Penyuluh agama merupakan ujung tombak karena bersentuhan langsung dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, generasi muda hingga masyarakat luas. Karena itu, materi yang akan disampaikan perlu benar-benar relevan dengan kondisi yang mereka hadapi di lapangan,” ujar H. Suharli.
Menurutnya, sosialisasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman peserta. Pengetahuan yang diperoleh nantinya diharapkan dapat diteruskan oleh para penyuluh, guru agama, dan pemuda kepada lingkungan masing-masing.
“Yang kita harapkan bukan hanya peserta memahami materi, tetapi mereka juga dapat meneruskannya kepada masyarakat. Dengan begitu, pesan tentang pentingnya menjaga kerukunan, mengenali potensi radikalisme dan ekstremisme, serta menggunakan media sosial dan game online secara bijak bisa menjangkau lebih banyak orang,” lanjutnya.
Dalam sosialisasi yang dijadwalkan pada 11 September tersebut, terdapat tiga materi utama yang akan disampaikan, yakni Indikator Radikalisme dan Ekstremisme Terorisme (IRET), bahaya game online, serta bijak bermedia sosial.
AKBP Sofyan Ansyari menjelaskan, pemilihan materi tersebut tidak terlepas dari perkembangan ruang digital yang semakin dekat dengan keseharian masyarakat. Media sosial dan game online dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara tepat, namun juga memiliki potensi menjadi ruang penyebaran konten yang tidak sehat apabila tidak disikapi dengan bijak.
“Media sosial dan game online harus menjadi ruang belajar, kreativitas, dan persahabatan. Jangan biarkan menjadi sarana penyebaran intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme,” tegasnya.
Melalui materi IRET, peserta nantinya akan dibekali pemahaman untuk mengenali indikator awal yang berkaitan dengan radikalisme dan ekstremisme terorisme. Sementara materi bahaya game online akan memberikan perspektif mengenai penggunaan game secara sehat dan dampak yang perlu diwaspadai, khususnya bagi generasi muda.
Adapun materi bijak bermedia sosial diarahkan untuk membangun kemampuan peserta dalam menyaring informasi, mengenali konten yang berpotensi memicu perpecahan, serta mendorong penggunaan media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan informasi positif, edukasi, kreativitas, dan pesan perdamaian.
Pendekatan lintas agama dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga kerukunan. Keterlibatan peserta dari lima latar belakang agama menunjukkan bahwa menciptakan ruang digital yang aman bukan tanggung jawab satu kelompok, melainkan kepedulian bersama.
Kanwil Kemenag Sulbar memandang sinergi tersebut sebagai langkah preventif sekaligus edukatif. Penyuluh, guru agama, dan pemuda tidak hanya diharapkan mampu menjaga diri dalam menggunakan ruang digital, tetapi juga menjadi penggerak yang membantu masyarakat di sekitarnya lebih cerdas, kritis, dan bijak dalam berinteraksi di dunia maya.
Dengan kolaborasi yang terus diperkuat, Kanwil Kemenag Sulbar berharap ruang digital dapat tumbuh sebagai ruang bersama yang mempertemukan perbedaan dalam suasana yang sehat. Bukan menjadi tempat menyebarkan kebencian dan perpecahan, tetapi menjadi ruang untuk belajar, berkarya, membangun persahabatan, dan menebarkan kedamaian.
Wilayah
Jaga Ruang Digital Tetap Damai, Kanwil Kemenag Sulbar dan Densus 88 Perkuat Sinergi
- Rabu, 9 September 2026 | 13:47 WIB