Asta Protas Harus Berdampak, ASN Kemenag Sulbar Didorong Perkuat Layanan dan Komunikasi Publik

Pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat oleh Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, Lc., M.H.

Mamuju (Kemenag Sulbar) - Asta Protas Kementerian Agama bukan sekadar deretan program yang cukup dikenal atau dihafal. Program tersebut harus hadir dalam kerja nyata, terasa manfaatnya di tengah masyarakat, dan dikomunikasikan secara aktif kepada publik.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat yang menghadirkan Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, Lc., M.H., di Aula Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, Mamuju, Senin (7/9/2026).

Kepala Kanwil Kemenag Sulawesi Barat, Dr. H. Adnan Nota, M.A., menegaskan bahwa orientasi kerja jajaran Kementerian Agama harus bermuara pada manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

“Kementerian Agama kehadirannya itu harus berdampak di masyarakat,” tegas Adnan dalam sambutannya.

Menurutnya, semangat tersebut harus tetap dijaga di tengah berbagai keterbatasan. Pemanfaatan teknologi, termasuk dalam pembinaan ASN dan pelaksanaan evaluasi secara daring, menjadi salah satu cara Kanwil Kemenag Sulbar menjaga produktivitas dan memastikan pekerjaan tetap berjalan.

Adnan menyebut jajaran Kementerian Agama di Sulawesi Barat memiliki sekitar 4.000 ASN. Potensi sumber daya tersebut, kata dia, harus terus diarahkan untuk memperkuat kualitas kinerja sekaligus pelayanan kepada masyarakat.

Ia juga menekankan bahwa peningkatan pelayanan publik merupakan bagian penting dari semangat Kemenag Berdampak. Upaya peningkatan fasilitas dan kualitas pelayanan, termasuk perhatian terhadap kebutuhan penyandang disabilitas, terus dilakukan secara bertahap untuk memberikan kenyamanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Kakanwil berharap pembinaan tersebut tidak berhenti sebagai forum seremonial, tetapi menjadi pemicu bagi ASN untuk melakukan evaluasi dan meningkatkan kualitas kinerja ke depan.

“Mudah-mudahan apa yang disampaikan oleh beliau menjadi pemicu buat kita untuk lebih memperbaiki kinerja kita pada masa-masa yang akan datang,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, Lc., M.H. mengajak seluruh ASN Kemenag Sulbar menyamakan cara pandang terhadap Asta Protas Kementerian Agama. Menurutnya, inti dari berbagai program tersebut adalah menghadirkan Kementerian Agama yang memberikan dampak.

“Pada intinya adalah bagaimana Kemenag berdampak,” ungkap Bunyamin.

Ia menjelaskan bahwa penguatan kerukunan dan cinta kemanusiaan merupakan salah satu bagian penting dari kerja besar Kementerian Agama. ASN, penyuluh agama, tokoh agama, hingga satuan kerja Kemenag memiliki peran untuk menghadirkan kehidupan keberagamaan yang lebih damai dengan memperbesar ruang persamaan, bukan justru mempertajam perbedaan.

Bunyamin juga menyoroti pentingnya kehadiran Kementerian Agama di tengah masyarakat. Menurutnya, Kemenag jangan hanya terlihat ketika muncul persoalan keagamaan. Penyuluh dan seluruh jajaran harus menjadi representasi institusi yang hadir, melayani, dan membawa solusi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tak kalah penting, ia memberi perhatian serius pada komunikasi publik dan media sosial. Di era digital, kerja bagus tidak cukup hanya dilakukan. Publik juga perlu mengetahui apa yang telah dikerjakan pemerintah.

Bunyamin mendorong ASN untuk ikut mengestafetkan informasi mengenai program, kebijakan, serta kegiatan Menteri Agama dan jajaran Kementerian Agama kepada masyarakat melalui ruang digital.

“Tolong berkabar tentang kegiatan. Tentang upload di media sosial,” pesannya.

Menurutnya, ruang media sosial bekerja dengan logika penyebaran informasi yang sangat cepat. Jika informasi positif mengenai kerja Kementerian Agama tidak aktif disampaikan, ruang publik digital dapat lebih mudah dipenuhi informasi yang keliru, negatif, atau tidak utuh.

Karena itu, ia mendorong keluarga besar Kemenag Sulbar tidak hanya menjadi penonton di media sosial. Aktivitas pelayanan, program keagamaan, pemberdayaan rumah ibadah, penguatan kerukunan, hingga kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat perlu dikomunikasikan secara konsisten.

Menutup pemaparannya, Bunyamin kembali mengingatkan bahwa pelaksanaan Asta Protas harus berjalan beriringan antara aksi nyata di lapangan dan komunikasi kepada publik. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mendengar slogan “Kemenag Berdampak”, tetapi benar-benar melihat, mengetahui, dan merasakan kehadiran Kementerian Agama dalam kehidupan mereka.


Wilayah LAINNYA