Empat Imam Rayakan 40 Tahun Imamat, Gereja di Sulawesi Barat Teguhkan Semangat Kesetiaan dan Persaudaraan

Perayakan 40 tahun imamat.

Polewali, 7 September 2026 — Suasana penuh syukur dan persaudaraan menyelimuti Paroki Santo Yosef Polewali, Senin (7/9/2026), saat empat imam merayakan 40 tahun imamat dalam sebuah Perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat dan meriah.

Keempat imam yang merayakan 40 tahun imamat tersebut adalah P. Jimmy Sattu, Pr., P. Alexander Lethe, Pr., P. Victor Patabang, Pr., dan P. Herman Panggalo, Pr. Perayaan syukur ini dihadiri sekitar 700-an umat dari seluruh wilayah Paroki Santo Yosef Polewali serta para tamu undangan, termasuk umat dari Paroki Mamajang.

Perayaan Ekaristi dimulai sekitar pukul 16.00 WITA dan dipimpin bersama oleh para imam yang hadir. Sebanyak 18 imam dari Kevikepan Sulawesi Barat dan beberapa imam tamu turut mempersembahkan Ekaristi sebagai ungkapan syukur atas perjalanan panggilan keempat jubilaris selama empat dekade.

Perayaan tersebut berlangsung dengan khidmat, tertib, dan penuh sukacita. Kemeriahan semakin terasa melalui pelayanan koor paroki di bawah pimpinan Ibu Desi, Guru Agama Katolik, yang mengiringi umat dalam doa dan nyanyian liturgis.

“Kami Bertahan karena Penyertaan Tuhan”
Dalam renungannya, P. Jimmy Sattu, Pr., mewakili para jubilaris, mengajak umat untuk melihat kembali perjalanan panjang panggilan imamat yang telah mereka jalani selama 40 tahun.

Dengan sederhana dan penuh kerendahan hati, P. Jimmy mengungkapkan berbagai pengalaman yang telah mereka lalui bersama. Empat dekade perjalanan imamat bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada berbagai tantangan, lika-liku, pengalaman suka dan duka, serta dinamika kehidupan yang harus dihadapi. Namun, satu hal yang menurutnya tetap menjadi kekuatan utama adalah penyertaan Tuhan.

“Kami bisa sampai seperti ini karena penyertaan Tuhan yang selalu hadir. Dalam perjalanan ini ada banyak lika-liku yang kami hadapi, tetapi karena Tuhan selalu menyertai, kami masih tetap setia sampai saat ini.” Ungkapan tersebut menjadi inti refleksi perayaan 40 tahun imamat. Kesetiaan bukan semata-mata karena kekuatan manusia, tetapi karena rahmat Tuhan yang terus bekerja dalam kehidupan setiap orang yang dipanggil-Nya.

Bagi keempat jubilaris, 40 tahun imamat bukan hanya sebuah angka atau pencapaian, melainkan sebuah kesaksian bahwa panggilan akan tetap bertumbuh ketika dijalani dalam iman, persaudaraan, pengorbanan, dan kepercayaan kepada penyelenggaraan Tuhan.

Dari Altar Menuju Kebersamaan Umat
Setelah Perayaan Ekaristi selesai, umat kemudian berkumpul di halaman gereja yang telah dipersiapkan untuk acara ramah tamah. Suasana syukur semakin terasa melalui berbagai penampilan dan kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia dan umat.

Acara ramah tamah diawali dengan berbagai penampilan, antara lain permainan, lagu, dan tari kreasi, yang menambah semarak suasana perayaan.

Ketua panitia dalam laporannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh umat yang telah mengambil bagian dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan. Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik berkat kerja sama, partisipasi, dan dukungan seluruh umat.

“Perayaan ini dapat terlaksana dengan baik karena kebersamaan seluruh umat. Ini bukan hanya kegiatan panitia, tetapi merupakan perayaan kita bersama sebagai umat,” demikian inti laporan panitia.

Dalam kesempatan tersebut, Pembimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Anton Ranteallo, S.S., M.Pd., turut menyampaikan sapaan kepada para jubilaris dan seluruh umat yang hadir.

Dalam sambutannya, Pembimas menyampaikan bahwa kehadirannya di Sulawesi Barat merupakan bagian dari upaya membangun kemitraan antara Gereja dan pemerintah.

Menurutnya, Kementerian Agama, khususnya Pembimas Katolik, memiliki tanggung jawab untuk terus memperkuat komunikasi, koordinasi, dan kerja sama dengan Gereja serta berbagai pemangku kepentingan.

Ia menegaskan bahwa ke depan pihaknya akan melanjutkan berbagai program yang telah dirintis oleh Pembimas sebelumnya, sekaligus memperkuat kehadiran Gereja di tengah masyarakat melalui pendekatan kelembagaan dan koordinasi lintas sektoral.

“Gereja dan pemerintah bukan dua pihak yang berjalan sendiri-sendiri. Kita adalah mitra yang bersama-sama memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kebaikan bagi masyarakat. Karena itu, komunikasi, koordinasi, dan kerja sama lintas sektor perlu terus kita bangun,” ungkapnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Vikaris Episkopalis (Vikep) Sulawesi Barat. Dalam sambutannya, Vikep mengajak umat melihat perjalanan hidup keempat jubilaris melalui foto-foto mereka ketika pertama kali ditahbiskan sebagai imam dan foto mereka saat ini yang ditampilkan pada baliho perayaan.

Perbandingan kedua foto tersebut menjadi gambaran perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Menurut Vikep, keempat imam tersebut memiliki bakat, karakter, dan kepribadian yang berbeda-beda. Namun, perbedaan tersebut justru menjadi kekayaan dalam persaudaraan mereka.

Mereka telah berjalan bersama selama kurang lebih 50 tahun dalam persahabatan dan persaudaraan, sehingga satu sama lain telah saling mengenal dengan sangat baik.
Tidak ada lagi sekat di antara mereka. Yang ada adalah persaudaraan yang telah ditempa oleh waktu, pengalaman, pelayanan, dan perjalanan panggilan.

Kesetiaan terhadap panggilan dan kesetiaan dalam persaudaraan menjadi salah satu kekuatan yang membuat mereka mampu bertahan dan terus melayani hingga usia 40 tahun imamat.

Sebuah kejadian menarik sekaligus penuh makna terjadi ketika acara ramah tamah sedang berlangsung. Tiba-tiba listrik padam, sementara hujan turun rintik-rintik. Namun, keadaan tersebut tidak menyurutkan semangat umat dan panitia bekerja. Pak Beni dan kawan-kawan dengan Gerakan cepat mencari solusi. Acara tetap dilanjutkan dalam suasana gelap dengan penerangan seadanya dari lampu kendaraan dan lampu darurat.

Justru dalam kesederhanaan tersebut, suasana persaudaraan semakin terasa.
Tidak ada yang meninggalkan tempat. Umat tetap bertahan, para imam tetap hadir, dan acara terus berlangsung.

Peristiwa sederhana itu seolah menjadi simbol dari perjalanan keempat jubilaris selama 40 tahun: ketika keadaan tidak selalu terang, iman dan persaudaraan tetap menjadi cahaya yang menuntun perjalanan.

Kesan Tiga Sahabat untuk P. Jimmy
Suasana semakin hangat ketika tiga rekan imam P. Jimmy—P. Alexander Lethe, Pr., P. Victor Patabang, Pr., dan P. Herman Panggalo, Pr.—diminta tampil ke depan untuk menyampaikan kesan dan pengalaman mereka bersama P. Jimmy.

Ketiganya menyampaikan kesan yang berbeda-beda, tetapi memiliki satu benang merah yang sama: P. Jimmy adalah pribadi yang kuat, tegas, berani, dan berpegang teguh pada prinsip.

P. Jimmy juga dikenal sebagai pribadi yang tidak banyak neko-neko dan berbicara apa adanya. Ia dikenal berani menghadapi berbagai tantangan, memiliki semangat olahraga, termasuk bermain voli, serta memiliki karakter yang kuat.

Dalam suasana penuh canda dan keakraban, muncul pula ungkapan bahwa P. Jimmy adalah pribadi yang “sangar, tetapi berhati lembut.”

Di balik ketegasan dan keberaniannya, tersimpan kepedulian dan hati seorang gembala yang selalu berusaha hadir bagi umat.

P. Jimmy kemudian kembali berbagi cerita mengenai perjalanan hidup dan panggilannya kepada umat. Ia mengenang berbagai pengalaman pahit dan manis yang telah dilalui selama menjadi imam.
Baginya, perjalanan tersebut dapat dilalui karena persaudaraan di antara mereka berempat dan penyertaan Tuhan yang tidak pernah berhenti.

Tumpeng, Cenderamata, dan Makan Bersama
Rangkaian acara dilanjutkan dengan penyerahan cenderamata dari umat kepada keempat jubilaris sebagai ungkapan kasih dan penghargaan atas pengabdian mereka selama 40 tahun.

Selanjutnya dilakukan pemotongan tumpeng yang kemudian diserahkan kepada keluarga besar P. Jimmy Sattu, Pr., sebagai salah satu bentuk penghormatan dan ungkapan syukur dalam perayaan tersebut.

Menariknya, seluruh rangkaian kegiatan tetap berlangsung meskipun suasana masih dalam kondisi gelap akibat padamnya listrik.
Sebelum makan bersama, P. Marsel Maggau, CICM, diminta oleh pembawa acara, Regina Darra, untuk memimpin doa.

Setelah doa, umat kemudian menikmati hidangan yang telah disiapkan bersama. Dalam suasana sederhana, bahkan di tengah keterbatasan penerangan, umat makan bersama dengan penuh sukacita dan persaudaraan.

Malam itu, halaman Gereja Santo Yosef Polewali menjadi ruang perjumpaan antara imam, umat, keluarga, dan para tamu undangan. Perayaan 40 tahun imamat tidak hanya menjadi pesta bagi empat imam, tetapi menjadi perayaan iman seluruh umat yang berjalan bersama para gembalanya.
Refleksi: Empat Puluh Tahun, Rahmat yang Terus Menyala

Empat puluh tahun imamat adalah perjalanan yang panjang. Dalam perspektif manusia, 40 tahun adalah waktu yang cukup untuk melihat begitu banyak perubahan: manusia datang dan pergi, zaman berubah, tantangan pastoral berkembang, dan Gereja terus berhadapan dengan realitas baru.

Namun, bagi seorang imam, yang paling penting bukanlah berapa lama ia telah berada di altar, melainkan seberapa setia ia tetap berdiri di sana ketika perjalanan menjadi berat.

Perayaan keempat jubilaris mengingatkan kita bahwa panggilan tidak selalu berjalan dalam terang. Ada saat-saat ketika perjalanan terasa gelap. Ada masa ketika persoalan datang silih berganti. Ada kelelahan, kekecewaan, bahkan mungkin saat ketika seseorang bertanya apakah dirinya masih mampu melanjutkan perjalanan.
Menariknya, perayaan 40 tahun imamat di Polewali justru mengalami simbol yang sangat sederhana: lampu padam dan hujan turun. Namun, perayaan tidak berhenti.

Lampu kendaraan dan lampu darurat menjadi penerang. Umat tetap tinggal. Para imam tetap bersama. Acara tetap berjalan.
Bukankah demikian pula perjalanan iman?
Ketika terang kita terbatas, Tuhan menyediakan cahaya-Nya. Ketika kekuatan kita hampir habis, Tuhan menghadirkan saudara-saudara untuk menopang kita.

Ketika jalan terasa gelap, Tuhan tidak selalu langsung mengubah keadaan, tetapi Ia memberikan kekuatan agar kita mampu terus berjalan. Inilah kesaksian yang terpancar dari 40 tahun perjalanan keempat jubilaris.

Mereka tidak mengatakan bahwa perjalanan itu mudah. Mereka justru mengakui adanya lika-liku. Tetapi mereka sampai pada satu kesimpulan sederhana: Tuhan selalu menyertai. Karena itu, 40 tahun imamat bukan terutama tentang keberhasilan manusia, melainkan tentang kesetiaan Tuhan yang bekerja melalui kelemahan manusia.

Persaudaraan keempat imam juga memberikan pelajaran penting. Mereka memiliki karakter yang berbeda, tetapi perbedaan tidak memisahkan mereka. Waktu justru membuat mereka semakin mengenal, memahami, dan menerima satu sama lain.
Gereja masa kini membutuhkan kesaksian seperti itu: imam yang setia kepada Tuhan, setia kepada panggilan, dan setia membangun persaudaraan.

Perayaan ini juga menjadi pengingat bahwa Gereja tidak berjalan sendirian. Kehadiran umat, keluarga, pemerintah, para imam, dan berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa karya pelayanan akan semakin kuat ketika dibangun dalam semangat sinergi, komunikasi, dan persaudaraan.

Empat puluh tahun telah berlalu. Namun, panggilan itu belum selesai. Masih ada umat yang membutuhkan pelayanan. Masih ada anak-anak yang membutuhkan pendampingan iman. Masih ada keluarga yang membutuhkan penguatan. Masih ada masyarakat yang membutuhkan kehadiran Gereja sebagai pembawa damai dan harapan. Maka, perayaan 40 tahun imamat bukanlah titik akhir, melainkan ungkapan syukur sekaligus pembaruan komitmen untuk terus melayani.

Selamat merayakan 40 Tahun Imamat kepada P. Jimmy Sattu, Pr., P. Alexander Lethe, Pr., P. Victor Patabang, Pr., P. Herman Panggalo, Pr. Semoga Tuhan yang telah memanggil, menyertai, dan meneguhkan selama 40 tahun perjalanan imamat, senantiasa memberikan kesehatan, sukacita, kekuatan, dan kesetiaan untuk melanjutkan karya pelayanan.

Ad multos annos! Selamat 40 Tahun Imamat. Tuhan memberkati dan menyertai selalu.

 

Kontributor : Anton Ranteallo


Wilayah LAINNYA