Silahturahmi adalah salah satu cara atau bentuk menjalin relasi satu dengan yang lain sebagai sesama makhluk sosial. Salah satu dimensi dalam diri manusia adalah bersosial, hidup dalam sebuah kebersamaan. Manusia tidak bisa tidak hidup berdampingan mengadakan relasi dan komunikasi bahkan dengan semua entitas dunia. “No man is an Island”, kata penyair Inggris, John Done, menggambarkan betapa manusia itu saling membutuhkan, saling tergantung satu sama lain, saling mengadakan. Dimensi inilah yang setiap saat dihidupi oleh setiap orang siapa pun dia tanpa memandang perbedaan dan inilah yang dikenal dengan istilah silahturahmi.
Kamis, (15/8/2024) di desa Toabo, Kecamatan Papalang, Kabupaten Mamuju hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten Mamuju dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mamuju bersama seluruh tokoh lintas agama. Silahturahmi yang dikemas dalam bentuk sedikit lebih formal ini untuk mempertemukan para tokoh agama agar mereka bisa saling mengenal dengan lebih dekat dan semakin akrab dengan perjumpaan ini. Peserta dalam kegiatan silahturahmi ini sebayak 200 orang yang merupakan perwakilan dari setiap agama.
Kegiatan silahturahmi ini dibawah koordinator Hardiman dan ibu Dharma berjalan dengan baik. Saat Bupati tiba di lokasi, beliau disambuat oleh para siswa MTs DDI Toabo yang melambaikan bendera merah putih sambil diiringi musik Marawis dan tarian Pa’duppa. Selanjutnya dilakukan pengalungan kain tenun oleh Ibu Kankemenag Mamuju kepada Bupati sebagia simbol selamat datang dalam acara silahturahmi. Bupati diantar oleh ketua FKUB bersama anggota FKUB memasuki tempat pertemuan. Rasa lelah, capek, dan panas yang dirasakan oleh para peserta kini menjadi terobati dengan kehadiran Sang Srikandi Kota Manakarra. Semua peserta larut dalam kegembiraan dan kebersamaan menyatu dalam acara silaturahmi.
Bupati Mamuju, Dr. Hj. Sitti Sutinah Suhardi, SH, M.Si yang membuka acara secara resmi mengucapkan terima kasih yang tulus kepada para peserta dan para panita yang memfasilitasi kegiatan ini dengan baik. Beliau berpesan agar kehidupan keagamaan di desa Toabo pada khususnya semakin meningkat di hari-hari yang akan datang. “Desa Toabo yang dicanangkan oleh pemerintah sebagai Kampung Moderasi harus menjadi pionir dalam hal kehidupan beragaman di tanah Manakarra ini sehigga dapat menjadi contoh bagi daerah lain”, harap beliau.
Kakanwil Kemenag Sulbar, Dr. H. Adnan Nota, MA, yang baru sebulan bertugas sebagai Kakanwil di Sulbar juga dalam sambutannya menyampaikan bahwa bicara moderasi tidak perlu berkotak-katik pada literasi semata tetapi moderasi hakikatnya mencakup 3 hal yaitu: memberi ruang kepada saudara melakukan ibadahnya, moderasi beragama itu ketika dapat menikmati ibadahnya saudara-saudaramu, tidak terusik lagi, dan moderasi beragama merupakan refleksi cinta, dapat menjaga saudara seperti diri kita sendiri. Beliau mengakhiri sambutannya dengan mengatakan bahwa bila kita masih melihat suatu keburukan kita bagian dari keburukan, tapi bila ada tindakan atasnya maka kita adalah solusi. Jangan hanya katakan astafirullah tetapi lebih pada kata alhamdulillah. “Agama harus direfleksikan dalam kontekstual bukan tekstual”, tutup beliau.
Kepala Kantor Kemenag Mamuju, Dr. H. Mustafa Tangangli, MA juga menyampiakan bahwa misi Kementarian Agama adalah untuk meningkakan kesalehan umat beragama. Mamuju itu heterogen/pluralis. Kemenag dengan satu desa 1 penyuluh agama belum berbanding lurus dengan jumlah umat. Tetapi, dengan kehadiran FKUB dapat meningkatkan kegiatan keagamaan. Mengakhiri sambutannya, beliau menyampaikan indikator moderasi beragama yakni: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan adaptif terhadap budaya.
Ketua FKUB Kabupaten Mamuju, H. Usman, S.Ag, M.Si dalam laporannya menyampaikan berbagai pencapaian yang didapatkan oleh Kementarian Agama dalam menjaga kerukunan umat beragama, seperti penghargaan yang baru diterima oleh Menteri Agama, Bintang Mahaputra Utama. Beliau juga menyampaikan kegiatan FKUB bersama pemerintah kabupaten Mamuju dalam hal menjaga kerukunan umat beragama.
Puncak acara silahturahmi ini adalah dialog dengan para tokoh agama. Para narasumber menyampaikan materi inti dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Ahmad Solahuddin, LC, MH, dari BIN menyampaikan materi terkait deteksi dini dan cegah dini konflik. Beliau memaparkan serentetan peristiwa yang terjadi selama ini dalam hal konfik. Agama menjadi sangat sensitif diboncengi untuk melahirkan konflik. Untuk itu, diharapkan agar FKUB dapat menjadi solusi adanya konflik keagamaan tersebut. FKUB diharapkan menjaga integritas dan netralitas dalam kehidupan bersama apalagi dalam pesta demokrasi yang tidak lama lagi.
Dr. Mustafa, juga kembali menekankan kolaborasi antar semua agama. Kita hidup dalam masyarakat yang multikultur maka kita harus saling menghormati atas segala perbedaan yang ada. FKUB hadir untuk meretas kekurangan pelayanan dari Kementerian Agama di tengah masyarat. H. Usman juga kembali menjelakan tugas dan tanggung jawabnya FKUB di tengah masyarakat.
Dalam forum ini tokoh agama mengusulkan agar pada saat hari-hari besar keagamaan, perwakilan setiap agama dapat berpartisipasi dalam hal mejaga keamanan sebagai salah satu bentuk kerja sama dan membina silaturahmi dan persaudaraan. Usul lain yang disampaikan adalah agar ke depan Pemda bersama FKUB dapat memfasilitasi kegiatan pemuda lintas agama dalam bentuk kemah karya. Usul terakhir yang disampiakan adalah tersedianya suatu tempat atau lokasi untuk upacara keagamaan misalnya melasti bagi umat Hindu.
Silaturahmi adalah jembatan kasih yang tak terlihat, menghubungkan hati dengan benang-benang doa dan harapan. Dalam setiap langkah menuju pertemuan, ada kehangatan yang tak terucap, namun terasa di setiap pelukan dan senyuman. Seperti aliran sungai yang tak pernah kering, silaturahmi membawa kesejukan, menebarkan kedamaian di hati yang rindu akan pertemuan. Semoga!