"Bacalah,,,", demikian perintah Tuhan yang sangat tegas pada ayat pertama turun ke Muhammad saw, berkali-kali Jibril mengulangi kata-kata tersebut, sebagai perantara Tuhan untuk menyampaikan Wahyu tersebut. Perintah ini turun ketika Nabi sementara berkhalwat atau beribadah di gua hira, Nabi bolak-balik ke gua hira untuk menenangkan diri karena banyaknya problem yang dihadapi dimasyarakat Makkah, yang banyak diliputi pemujaan-pemujaan terhadap berhala disekitar Ka'bah. Dan ini sangat bertentangan dengan apa yang akan menjadi misi Nabi untuk memberantas nilai-nilai politeisme yang menggerogoti masyarakat Makkah yang notabene sebagai tempat suci yang telah diwariskan oleh Nabi Ibrahim dan putranya yaitu Ismail.
Ada nilai-nilai spiritual dalam perintah membaca, bukan hanya sekedar membaca biasa dalam perintah Tuhan kepada Nabinya, yang dimediasi Jibril. Perintah ini turun kepada Nabi. Sebelum perintah ini turun kepada Muhammad saw, Nabi sudah mempersiapkan dirinya untuk banyak melakukan kontemplasi dengan mendatangi gua hira, untuk melakukan perenungan diri, mencari ketenangan karena masyarakat Makkah waktu itu sangat identik dengan masyarakat yang syarat dengan nilai-nilai kemusrikan yang mengitarinya, sehingga Nabi mencoba untuk menenangkan diri, beribadah dengan khusyuk, memisahkan diri dari keramaian. Setelah beberapa lama Nabi beruzlah atau bertahannus di gua hira, Nabi akhirnya didatangi oleh malaikat Jibril yang merupakan perintah dari Tuhan untuk diperintahkan untuk membaca.
Membaca adalah sumber peradaban, keberhasilan Nabi dalam misi membangun peradaban baik ketika berada di Makkah maupun berada di Madinah itu tidak terlepas dari sumber peradaban yakni membaca. Dalam arti kebahasaan kata "qara'a" yang merupakan asal dari kata iqra' yang pada mulanya berarti "menghimpun", lalu dalam perkembangannya ditemukan beraneka ragam arti kata tersebut, diantaranya menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan sebagainya. Dalam perintah membaca dalam kata iqra' tidak ditemukan apa yang menjadi obyek dari kata tersebut, oleh sebab itu obyeknya bersifat umum mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata "baca", demikian penjelasan Prof Quraish Shihab dalam salah satu bukunya.
Dengan merujuk arti-arti dari kata iqra' diatas, yakni membaca, menelaah, meneliti, mengetahui ciri segala sesuatu, termasuk alam raya, kitab suci, masyarakat, dan apapun yang dapat dijangkau kata iqra', membaca menjadi sangat luas pengertiannya, bukan hanya secara secara tekstual tetapi lebih lebih dari itu membaca secara kontekstual. Lewat pembacaan secara tekstual maupun kontekstual, kita akan membangun peradaban yang unggul, seperti yang dilakukan oleh Nabi, dimulai dari pembacaan secara teks lewat perintah Allah melalui Jibril yang disuruh untuk membaca secara teks dari perintah membaca. Kemudian pasca peristiwa di gua hira tersebut, Nabi melanjutkan pembacaan secara kontekstual, yaitu pembacaan masyarakat Makkah dan Madinah secara sosiologis.
Pembacaan teks dan kontekstual keduanya harus dikawinkan, peradaban unggul lahir dari kegiatan membaca secara holistik, sesuai dengan arti kata membaca diatas. Tuhan sudah menurunkan Al-Qur'an untuk menjadi media bacaan dan menjadi petunjuk yang jelas untuk umat manusia. Begitupun alam raya ini yang begitu teratur adalah pelajaran yang besar atau buku yang besar untuk menjadi bahan renungan untuk umat manusia. Betapa teraturnya alam raya ini, suatu desain dari Tuhan yang maha agung, dan butuh perenungan yang mendalam untuk bisa membaca alam raya ini.
Manusia diberikan kecerdasan yang cukup oleh Tuhan supaya bisa mempelajari dan mendalami keteraturan alam raya ini, Tuhan telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memikirkan alam ciptaannya, tafakkaruu fi khalkillah, wa la tafakkaruu fi dzatihii, pikirkanlah ciptaan-ciptaan Tuhan tapi jangan memikirkan dzatnya, demikian bunyi salah satu sabda Nabi. Kita diberikan kebebasan yang seluas-luasnya untuk memikirkan ciptaan Tuhan, potensi manusia sangat besar dengan dianugerahkannya akal kepada mereka, untuk dapat merasakan atau membaca alam raya ini dengan baik.
Kemajuan tekhnologi saat ini, sangat membantu dalam memahami fenomena alam, yang terjadi disekitar kita. Dulu tidak terbayangkan atau tidak terpikirkan, bahwa tekhnologi akan maju seperti sekarang ini, semua persoalan-persoalan teknis dengan mudah terbaca oleh tekhnologi. Begitupun dengan ciptaan-ciptaan yang ada dimuka bumi ini, dapat terbaca dengan kemajuan tekhnologi. Dan kedepan kemajuan teknologi akan semakin maju, dan manusia akan semakin nyaman dalam menikmati teknologi kedepan.
Jejak-jejak Tuhan dimuka bumi akan semakin, al terbuka kedepan, lewat penggunaan akal manusia, kemajuan teknologi, hasilnya akan kembali kepada manusia, mereka akan menikmati hasil ciptaannya, tapi bahan mentahnya disiapkan oleh Tuhan, Tuhan menyuruh untuk berjalan dimuka bumi, dan perjalanan manusia akan menghasilkan temuan yang baru, lewat pemikiran-pemikirannya.
(Bumi Pambusuang, 17 Agustus 2024)