Mamuju — Upaya memperkuat perlindungan terhadap perempuan terus digencarkan melalui pendekatan lintas sektor dan lintas nilai kemanusiaan. Dinas Sosial, P3A, dan PMD Provinsi Sulawesi Barat menggelar Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemateri dari unsur pemerintah, akademisi, psikolog, hingga lembaga sosial yang memaparkan materi secara panel guna membangun pemahaman komprehensif tentang pentingnya perlindungan perempuan di tengah masyarakat.
Mewakili Kepala Dinas Sosial, P3A, dan PMD Sulawesi Barat, Sekretaris Dinas Muh. Aditya Arie Yudistira, S.IP., dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi seluruh elemen dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan. Menurutnya, persoalan kekerasan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif tokoh agama, keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas untuk menciptakan lingkungan yang aman dan bermartabat bagi perempuan.
Dalam sesi pemaparan materi, Kantor Wilayah Kementerian HAM membahas konsep gender dan HAM yang menitikberatkan pada prinsip non-diskriminasi, kesetaraan, dan kepentingan terbaik bagi perempuan. Sementara itu, psikolog yang hadir sebagai narasumber menjelaskan dampak psikologis jangka pendek maupun jangka panjang yang dialami korban kekerasan, mulai dari trauma emosional, kehilangan rasa percaya diri, hingga gangguan kesehatan mental yang memerlukan pendampingan serius dan berkelanjutan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Adnan Nota, turut memberikan materi bertema “Nilai-nilai Agama tentang Penghormatan dan Perlindungan Perempuan”. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa seluruh ajaran agama menempatkan perempuan pada posisi yang mulia dan terhormat. Secara khusus dalam ajaran Islam, perempuan dimuliakan sebagai bagian penting dalam membangun peradaban dan menjaga keberlangsungan generasi.
“Agama melindungi perempuan karena setiap manusia diciptakan mulia dan setara di hadapan Tuhan. Tidak boleh ada diskriminasi sosial maupun fisik berdasarkan jenis kelamin,” ujar Adnan Nota di hadapan peserta sosialisasi.
Ia menjelaskan bahwa penghormatan terhadap perempuan merupakan bentuk implementasi ketakwaan dan kasih sayang. Menurutnya, perempuan adalah tiang keluarga yang memiliki peran krusial dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa. Dalam perspektif Islam, lanjutnya, laki-laki diamanahkan sebagai pelindung lahiriah dan batiniah bagi perempuan sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nisa.
Adnan Nota juga mengutip pesan Rasulullah SAW dalam khutbah perpisahan Haji Wada’ yang menekankan pentingnya bersikap lembut, penuh kasih, serta menjaga kehormatan perempuan sebagai pilar spiritual rumah tangga. Ia kemudian menguraikan empat prinsip utama perlindungan perempuan dalam Islam, yakni perlindungan hidup dengan menolak segala bentuk kekerasan verbal maupun non-verbal, keadilan dan kesetaraan amal, hak memperoleh pendidikan, serta perlindungan terhadap hak kepemilikan harta dan ekonomi perempuan.
Tidak hanya dari perspektif Islam, Kakanwil juga menegaskan pentingnya harmoni lintas iman dalam memperkuat perlindungan perempuan dan menegakkan nilai kemanusiaan yang adil di Indonesia. Menurutnya, agama-agama lain juga memiliki ajaran luhur yang memuliakan perempuan.
Dalam ajaran Kristen dan Katolik, perempuan dipandang sebagai penolong sepadan yang harus dihormati secara timbal balik dalam kasih.
Buddhisme mengajarkan kesetaraan spiritual bagi perempuan untuk mencapai pencerahan dan terbebas dari diskriminasi. Sementara dalam Hindu, perempuan disebut sebagai sumber keberkahan kehidupan ketika dihormati dan dimuliakan. Adapun Konghucu menempatkan perempuan sebagai penopang harmoni moral keluarga dan kehormatan bangsa.
Pada penghujung materinya, Adnan Nota menyampaikan hadis riwayat At-Tirmidzi sebagai pesan universal tentang penghormatan terhadap perempuan.
“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik perilakunya terhadap istri-istrinya,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Barat berharap nilai-nilai agama dapat menjadi fondasi moral dalam membangun kesadaran kolektif untuk mencegah segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, sekaligus memperkuat budaya saling menghormati dan melindungi di tengah kehidupan masyarakat.
Wilayah
Kemenag Sulbar Gaungkan Nilai Keagamaan dalam Perlindungan Perempuan di Sulawesi Barat
- Kamis, 21 Mei 2026 | 14:59 WIB