Kemah Mahabbah Pandu Maarif NU di Majene, Ruang Menumbuhkan Karakter Generasi Emas 2045

Kemah Mahabbah Pandu Maarif NU

Majene (Kemenag Sulbar) — Sebanyak 1.275 peserta pramuka bersama 125 pembina pendamping mengikuti Scout Camp atau Kemah Mahabbah Pandu Maarif NU se-Sulawesi Barat di Lapangan Buruk' Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Kamis–Ahad, 17–20 September 2026. Mengusung tema “Pandu Maarif NU Hebat, NKRI Kuat”, kegiatan ini menjadi ruang pembinaan generasi muda melalui penguatan karakter, kemandirian, kepedulian sosial, dan semangat kebersamaan.

Kemah Mahabbah dibuka Ketua Umum Pandu Maarif NU Nasional, Mujiburrohman, Kamis (17/9/2026). Ia mengatakan, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi aktivitas kepramukaan, tetapi juga menjadi wadah untuk mempertemukan peserta dari latar belakang yang beragam dalam suasana kebersamaan.

“Pertama, kemah ini bisa menyatukan keberagaman dalam kebersamaan sebagai nilai kemanusiaan, karena fitrah manusia saling membutuhkan. Kedua, kemah ini membentuk karakter mandiri, inovasi, kebersamaan, saling menghargai, dan saling tolong-menolong,” kata Mujiburrohman dalam rilis yang diterima NU Online.

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Program Prioritas Kementerian Agama, khususnya dalam membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian sosial. Melalui kegiatan di alam terbuka, peserta diajak belajar bekerja sama, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, sekaligus mengasah keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Majelis Pembimbing Daerah Pandu Maarif NU Sulawesi Barat, H. Adnan Nota, mengapresiasi pelaksanaan Kemah Mahabbah sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi yang memiliki bekal ilmu sekaligus karakter. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pandu Maarif NU Nasional dan Pandu Maarif NU Sulawesi Barat yang telah menghadirkan kegiatan tersebut.

“Adik-adikku peserta Kemah Mahabbah, tahun 2045 Indonesia Emas. Sampaikan Pandu Maarif NU sampai tahun 2045. Modalnya memiliki karakter, berilmu, etika, birrul walidain, maka sampai 2045,” ujar Adnan.

Menurut Adnan, pendidikan harus memberikan ruang yang lebih luas bagi pengembangan life skill, kemandirian, kemampuan bersosialisasi, improvisasi, serta gotong royong. Nilai-nilai tersebut, katanya, tumbuh secara alami melalui kegiatan kepramukaan yang menempatkan peserta sebagai bagian dari kelompok dan mendorong mereka belajar menyelesaikan berbagai tantangan bersama.

“Ilmu tidak menjadi kebutuhan semata. Jiwa karakter dan memiliki life skill, pembinaan karakter kemandirian, improvisasi, sosialisasi, gotong royong, itu ada dalam kepramukaan,” katanya.

Adnan berharap para peserta Kemah Mahabbah dapat tumbuh menjadi generasi yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Di tengah masifnya penggunaan gawai dan media sosial, ia menilai kegiatan yang mempertemukan anak-anak dalam interaksi langsung menjadi penting sebagai ruang pembentukan karakter dan pengalaman sosial.

“Adik-adik yang ikut kemah ini menjadi pemenang generasi emas 2045, di mana adik-adik yang lain sibuk dengan gadget-nya yang berseliweran di media sosial yang tidak mendidik,” ujarnya.

Ia juga menekankan agar pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan tidak berhenti di lokasi kemah. Setiap keterampilan dan nilai yang dipelajari diharapkan dapat dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Majene, H. Ardiansyah, mengajak peserta memaknai mahabbah atau cinta secara lebih luas. Menurutnya, cinta tidak hanya diwujudkan melalui hubungan antarsesama, tetapi juga melalui kepedulian terhadap diri sendiri dan lingkungan.

“Temanya mahabbah, cinta dirinya, cinta sesama manusia, lingkungan, jaga kesehatan, tingkatkan skill kepramukaan dan silaturahmi. Terakhir, jangan tinggalkan volume sampah, jaga kebersihan seperti sedia kala,” katanya.

Pesan tersebut turut memperkuat nilai ekoteologi yang menjadi salah satu perhatian Kementerian Agama, yakni membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Dalam suasana kemah, kepedulian terhadap kebersihan lingkungan menjadi pengalaman sederhana yang dapat membentuk kebiasaan positif peserta.

Kemah Mahabbah Pandu Maarif NU merupakan hasil kerja sama Pandu Maarif NU Daerah Sulawesi Barat dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat. Ketua Pandu Maarif NU Kalimantan Barat, Azis Nota, menyebut kegiatan tersebut diikuti 1.275 peserta pramuka dari berbagai wilayah di Sulawesi Barat serta 125 pembina pendamping.

“Kemah ini merupakan kerja sama Pandu Maarif NU Daerah Sulbar dengan Kantor Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, mengambil tema Pandu Maarif NU Hebat, NKRI Kuat,” katanya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal Pandu Maarif NU Nasional Soleh Abwa dan Pengurus Pandu Maarif NU Nasional Tata Setiawan. Selama pelaksanaannya, Kemah Mahabbah diisi dengan berbagai kegiatan kepramukaan, pembinaan karakter, penguatan kebersamaan, serta aktivitas yang mendorong peserta mengembangkan keterampilan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Bagi Kementerian Agama, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan yang unggul, ramah, dan terintegrasi—pendidikan yang tidak hanya mengasah kemampuan intelektual, tetapi juga menumbuhkan karakter, kecakapan hidup, toleransi, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.


Wilayah LAINNYA