Dari Mamasa, Gereja Toraja Mamasa Teguhkan Peran Agama yang Berdampak bagi Masyarakat

Pembukaan Sidang Majelis Sinode AM XXI Gereja Toraja Mamasa (GTM) di Klasis Balla Sattoko

Mamasa (Humas) – Semangat menghadirkan kehidupan beragama yang berdampak bagi masyarakat mengemuka dalam Pembukaan Sidang Majelis Sinode AM XXI Gereja Toraja Mamasa (GTM) di Klasis Balla Sattoko, Kabupaten Mamasa, Senin (20/7/2026). Mewakili Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Kristen Kanwil Kemenag Sulbar, Ayub, hadir sekaligus menyampaikan sambutan dalam agenda strategis yang menjadi forum tertinggi pengambilan keputusan Gereja Toraja Mamasa tersebut.

Mengusung tema “Hiduplah Sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan dan Kebenaran,” sidang yang berlangsung selama enam hari, 20–25 Juli 2026, diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus perumusan arah pelayanan gereja yang semakin nyata dirasakan umat dan masyarakat. Tema tersebut tidak hanya menjadi pesan spiritual, tetapi juga panggilan bagi gereja untuk menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial melalui pelayanan yang mendorong kebaikan, keadilan, kebenaran, serta kepedulian terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan.

Sidang secara resmi dibuka oleh Bupati Mamasa dan dihadiri Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat, Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) Gereja Toraja Mamasa beserta jajaran, para pendeta, serta perwakilan dari 75 klasis GTM yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Selain mengevaluasi program pelayanan, forum ini juga membahas arah kebijakan strategis gereja serta pemilihan pengurus baru BPMS-GTM periode 2026–2031.

Dalam sambutannya, Ayub menegaskan pentingnya melahirkan keputusan-keputusan strategis yang memperkuat pelayanan gereja sekaligus memperluas kontribusinya bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya, gereja memiliki peran penting dalam mendorong kemajuan pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, serta berbagai upaya pembangunan manusia yang berkelanjutan.

“Agama harus hadir dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, gereja diharapkan terus menjadi ruang yang menumbuhkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran, sekaligus ikut menjawab berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mendorong penguatan gerakan “Gereja Hijau” (Green Church) sebagai bentuk nyata tanggung jawab iman dalam merawat lingkungan dan keutuhan ciptaan. Menurutnya, isu perubahan iklim, pelestarian lingkungan, dan mitigasi bencana perlu diintegrasikan dalam visi, misi, serta program pelayanan gereja.

Semangat tersebut sejalan dengan arah delapan program prioritas Kementerian Agama yang menempatkan kehidupan beragama sebagai kekuatan untuk menghadirkan kemaslahatan dan perubahan nyata di tengah masyarakat. Melalui penguatan kerukunan, kepedulian sosial, pelestarian lingkungan, serta kolaborasi lintas sektor, lembaga keagamaan diharapkan tidak berhenti pada pelayanan internal, tetapi turut menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan kemanusiaan dan pembangunan.

Kehadiran Kementerian Agama dalam forum tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk memperkuat sinergi dengan lembaga-lembaga keagamaan Kristen. Kolaborasi antara pemerintah, gereja, dan seluruh elemen masyarakat dinilai penting untuk membangun kehidupan yang rukun, damai, harmonis, serta sejahtera.

Dari forum yang mempertemukan para pemimpin dan perwakilan umat dari berbagai wilayah itu, diharapkan lahir keputusan-keputusan yang tidak hanya menguatkan pelayanan Gereja Toraja Mamasa, tetapi juga menyalakan peran agama sebagai terang yang hadir di tengah masyarakat—membuahkan kebaikan, menegakkan keadilan, dan memperjuangkan kebenaran.


Wilayah LAINNYA