Rukun St. Antonius Padua, salah satu rukun di Paroki St. Maria Mamuju yang digembalakan oleh P. Wilhelmus Tulak, Pr., merayakan ulang tahun pelindungnya dengan penuh sukacita dan semangat persaudaraan pada Sabtu–Minggu, 13–14 Juni 2026, di Villa Kita, Pantai Tapandulu, Rangas. Kegiatan yang diikuti sekitar 60 peserta ini menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan, memperdalam kehidupan iman, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Santo Antonius Padua, yang menjadi pelindung rukun ini, adalah seorang imam Fransiskan yang lahir di Portugal pada tahun 1195 dan wafat di Padua, Italia, pada tahun 1231. Ia dikenal sebagai pengkhotbah ulung, ahli Kitab Suci, serta pribadi yang memiliki kasih mendalam kepada kaum miskin dan mereka yang membutuhkan pertolongan.
Dalam tradisi Gereja Katolik, Santo Antonius juga dikenal sebagai santo pelindung bagi mereka yang kehilangan barang. Namun lebih dari itu, ia merupakan teladan hidup yang sederhana, rendah hati, dekat dengan Sabda Allah, dan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Spiritualitas Santo Antonius inilah yang menjadi inspirasi bagi umat Rukun St. Antonius Padua. Keteladanannya diharapkan terus hidup dalam keluarga-keluarga kristiani, sehingga setiap anggota rukun semakin bertumbuh dalam iman, kasih, dan pelayanan kepada sesama.
Perayaan dimulai pada Sabtu sore, 13 Juni 2026. Seluruh peserta berkumpul di Pantai Tapandulu dan mengikuti acara pembukaan yang diawali dengan perarakan menuju pelataran Villa Kita. Dalam perarakan tersebut, Arrang bertugas sebagai pembawa salib, Theresia membawa lilin, dan Odil membawa patung Santo Antonius Padua sebagai simbol kehadiran santo pelindung di tengah umat. Dengan penuh khidmat, peserta mengelilingi area kegiatan sambil menghayati makna kebersamaan sebagai satu keluarga Allah.
Setelah perarakan, Ibu Dina Yustin membacakan riwayat singkat kehidupan Santo Antonius Padua sebagai sumber inspirasi bagi seluruh peserta. Suasana kemudian semakin meriah melalui berbagai permainan dan lomba yang melibatkan seluruh anggota rukun. Kegiatan dilanjutkan dengan makan malam bersama yang semakin mempererat relasi dan persaudaraan antarumat.
Pada malam hari, peserta mengikuti rekoleksi keluarga yang dipimpin oleh Fr. Christo, TOP-er Paroki St. Maria Mamuju. Rekoleksi dikemas dalam nuansa doa Taizé yang sederhana namun mendalam. Dalam suasana hening dan reflektif, peserta diajak memasuki pengalaman perjumpaan pribadi dengan Tuhan.
Salah satu momen yang menyentuh adalah ketika setiap peserta menuliskan kelemahan, dosa, dan pergumulan hidup mereka pada secarik kertas, lalu membakarnya di api unggun sebagai simbol pertobatan dan kerinduan untuk memulai hidup yang baru. Tindakan sederhana ini mengingatkan bahwa belas kasih Allah selalu terbuka bagi setiap orang yang datang kepada-Nya dengan hati yang tulus.
Setelah doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan penyalaan api unggun yang diiringi lagu-lagu rohani dan lagu persaudaraan. Suasana hangat, akrab, dan penuh kekeluargaan terasa begitu kuat. Pada kesempatan tersebut, umat juga menyerahkan cenderamata kepada Fr. Christo sebagai ungkapan terima kasih atas pelayanan dan pengabdiannya selama menjalani masa tugas di Paroki St. Maria Mamuju.
Di sela-sela rangkaian kegiatan, umat turut merayakan ulang tahun Ibu Yenny Wijaya. Perayaan sederhana namun meriah itu dimeriahkan dengan penyalaan lilin oleh anak-anak SEKAMI dan pemotongan kue ulang tahun yang semakin menambah suasana sukacita bersama.
Memasuki Minggu pagi, 14 Juni 2026, kegiatan diawali dengan olahraga bersama dan sarapan pagi. Selanjutnya, peserta mengikuti sosialisasi pengelolaan sampah organik yang menghadirkan Asdiyani, S.Si., M.Si., dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan sebagai narasumber.
Kegiatan yang dipandu oleh Agustina Palimbong dan Dina Yustin ini diawali dengan kuis berhadiah untuk mengukur pemahaman awal peserta. Setelah pemaparan materi, peserta dibagi dalam kelompok-kelompok untuk mempraktikkan pengolahan sampah organik menjadi eco enzyme. Praktik tersebut dikemas dalam bentuk perlombaan yang berlangsung meriah dan edukatif. Pada akhir kegiatan diumumkan para pemenang mulai dari Juara I, II, III hingga Harapan I, II, dan III.
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru tentang pengelolaan sampah, tetapi juga diajak untuk menyadari bahwa merawat lingkungan merupakan bagian dari panggilan iman. Kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Seluruh rangkaian kegiatan dimahkotai dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh P. Oc. Sam Bureny, Pr., selaku Vikaris Episkopal Sulawesi Barat. Selain anggota Rukun St. Antonius Padua, perayaan ini juga dihadiri oleh perwakilan Rukun St. Yusuf, Rukun St. Fransiskus Asisi, pengurus dan anggota Legio Maria, Ketua SEKAMI, para koster gereja, serta umat lainnya yang turut memberikan dukungan dan kebersamaan.
Dalam homilinya, Vikep menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan kebersamaan sebagai ciri khas hidup orang beriman. Ia juga mengajak seluruh umat untuk semakin peduli terhadap lingkungan hidup sebagai wujud tanggung jawab iman, sebagaimana ditekankan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’. Menurutnya, menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan panggilan spiritual untuk merawat ciptaan Tuhan dan mewariskan bumi yang layak bagi generasi mendatang.
Setelah Perayaan Ekaristi, seluruh peserta menikmati makan siang bersama. Doa makan dipimpin oleh Sr. Benedicta. Acara kemudian ditutup dengan pembagian hadiah yang telah disediakan oleh para sponsor.
Keberhasilan seluruh rangkaian kegiatan tidak terlepas dari kerja sama dan dukungan berbagai pihak, terutama Yakobus Kanan selaku Ketua Rukun St. Antonius Padua bersama panitia inti yang terdiri atas Daniel, Agustina, Dina, Yenny, Marlin, dan Seyti. Berkat persiapan yang matang, semangat gotong royong, serta partisipasi aktif seluruh umat, kegiatan dapat berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh sukacita.
Perayaan ulang tahun Rukun St. Antonius Padua tahun ini menjadi pengingat bahwa iman tidak hanya diwujudkan dalam doa dan liturgi, tetapi juga dalam persaudaraan yang hangat, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Kebersamaan selama dua hari ini menjadi ruang untuk saling mengenal, saling menguatkan, dan mempererat ikatan sebagai satu keluarga Allah.
Semangat Santo Antonius Padua yang dikenal karena kerendahan hati, kecintaannya pada Sabda Tuhan, serta kepeduliannya kepada sesama, menjadi inspirasi bagi seluruh anggota rukun untuk terus bertumbuh dalam iman dan pelayanan. Melalui perayaan ini, umat diajak untuk tidak hanya menjadi pendengar Sabda, tetapi juga pelaku Sabda yang menghadirkan kasih Allah secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, perayaan ini menegaskan bahwa Gereja yang hidup adalah Gereja yang berjalan bersama, saling menopang, dan terus menghadirkan harapan melalui tindakan kasih yang sederhana namun nyata. Dalam semangat Santo Antonius Padua, umat diajak untuk menjadi saksi iman yang membawa damai, membangun persaudaraan, dan merawat keutuhan ciptaan sebagai anugerah Allah bagi seluruh umat manusia.
Wilayah
Ulang Tahun Rukun St. Antonius Padua Dirayakan Penuh Sukacita dan Semangat Persaudaraan di Pantai Tapandulu
Ulang Tahun Rukun St. Antonius Padua Dirayakan Penuh Sukacita dan Semangat Persaudaraan di Pantai Tapandulu
- Senin, 15 Juni 2026 | 21:44 WIB