Menag Nasaruddin Umar Dianugerahi Gelar Tomakaka Mala’bi di Botteng

Menag Nasaruddim Umar

Mamuju, Humas Kanwil – Kunjungan Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar ke Desa Botteng, Dusun Pasada, Mamuju, Senin (21/9/2026), berlangsung dalam suasana hangat dan sarat makna budaya. Dalam kesempatan tersebut, Menag dianugerahi gelar adat Tomakaka Mala’bi sebagai bentuk penghormatan masyarakat adat Botteng.

Prosesi penganugerahan gelar tersebut dilakukan langsung oleh Tomakaka Botteng bersama perangkat adatnya melalui rangkaian prosesi adat.

Penganugerahan tersebut berlangsung bersamaan dengan agenda peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Cabang Mamuju, yang diharapkan menjadi bagian dari penguatan pendidikan keagamaan dan pembentukan generasi berkarakter di Sulawesi Barat.

Rangkaian adat diawali dengan prosesi Dipaenda di Bassi, yang secara harfiah berarti menapaki atau menginjakkan kaki di atas besi. Prosesi yang dipandu oleh Tomakaka Botteng beserta perangkat adat tersebut mengandung doa agar tamu kehormatan senantiasa terhindar dari marabahaya, rintangan, dan hal-hal buruk selama berada di wilayah adat Botteng. Besi menjadi simbol kekuatan, keteguhan, sekaligus benteng perlindungan.

Selanjutnya, dilaksanakan prosesi pemberian Sakke-Sakke. Prosesi ini juga dilakukan oleh perangkat adat Botteng sebagai simbol doa dan ikhtiar agar Menag Nasaruddin Umar senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin serta keafiatan selama menapakkan kaki dan beraktivitas di wilayah adat Botteng.

Prosesi adat tersebut memperlihatkan bagaimana nilai-nilai budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan kehidupan keagamaan. Penghormatan terhadap kearifan lokal menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang harmonis antara agama, masyarakat, dan budaya, sejalan dengan semangat Kementerian Agama dalam menghadirkan kehidupan beragama yang ramah, inklusif, dan menghargai keberagaman.

Kehadiran Menag dalam prosesi adat sekaligus peletakan batu pertama pembangunan pesantren menjadi ruang perjumpaan antara nilai agama, pendidikan, dan budaya lokal. Pembangunan pesantren pun tidak hanya dimaknai sebagai pembangunan sarana pendidikan, tetapi juga sebagai ikhtiar menyiapkan generasi yang memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, berkarakter, serta tetap menghargai akar budaya dan kearifan masyarakat setempat.


Wilayah LAINNYA