Memaknai Resolusi Jihad di Balik Peringatan Hari Santri

Hamzah Durisa (Analis KebIjakan pada Subbagian TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasangkayu)

Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober mengajak kita mengenang Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari 81 tahun silam sebagai seruan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat tersebut menjadi bagian penting dari sejarah lahirnya Hari Santri Nasional (HSN). Kini, semangat jihad dapat diwujudkan melalui perjuangan menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, menebar kedamaian, menjaga lingkungan, dan merawat persaudaraan. Menjadi santri bukan sekadar belajar agama, tetapi juga menumbuhkan cinta kepada Tuhan, sesama manusia, dan tanah air. Di Pasangkayu, semangat ini berarti menghormati perbedaan, menolong sesama, serta menjaga persatuan dalam keberagaman. Inilah makna jihad santri masa kini: meneruskan perjuangan dengan ilmu, iman, akhlak, dan pengabdian untuk Indonesia yang damai dan bermartabat.

Kemah Santri dan Keberagaman Keberagaman

Pasangkayu tidak hanya terlihat dalam kehidupan orang dewasa, tetapi juga tumbuh di ruang-ruang pendidikan. Anak-anak dari berbagai suku, bahasa, dan tradisi bertemu, belajar, serta bermain bersama. Mereka berbagi cerita, makanan, dan pengalaman tanpa mempersoalkan perbedaan. Dari keseharian itu, kita melihat bahwa persahabatan dapat tumbuh ketika anak-anak diberi kesempatan untuk saling mengenal. Pasangkayu pun menjadi ruang belajar tentang arti hidup bersama dalam kemajemukan.

Semangat tersebut menemukan ruang nyata melalui kegiatan Kemah Santri yang berlangsung dari 19-22 Oktober sebagai rangkaian dari peringatan HSN yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Pondok Pesantren bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasangkayu dan jajaran Pemerintah Kabupaten Pasangkayu. Kegiatan ini bukan sekadar perkemahan atau pertemuan antarpeserta didik, melainkan ruang untuk mengenal kebudayaan, membangun persahabatan, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap Indonesia. Melalui interaksi, permainan, pertunjukan seni, dan penguatan literasi dan jurnalistik, para santri belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling memahami.

Kerja kolaboratif ini menunjukkan pentingnya sinergitas dalam membangun generasi yang berkarakter. Pendidikan karakter dan kecintaan terhadap Indonesia tidak dapat dibebankan hanya kepada pesantren atau sekolah. Keluarga, lembaga keagamaan, pemerintah, dan masyarakat perlu berjalan bersama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan terbuka terhadap perbedaan.

Namun, hidup berdampingan belum tentu membuat manusia saling menghargai. Kedekatan tempat tinggal tidak selalu melahirkan kedekatan hati. Prasangka dapat tumbuh ketika anak-anak mendengar ucapan yang merendahkan kelompok lain. Karena itu, keluarga, sekolah, pesantren, masyarakat, dan pemerintah perlu menghadirkan teladan yang baik. Anak-anak membutuhkan pengalaman nyata agar mampu memahami makna cinta, bukan sekadar mendengar nasihat. Kemah Santri memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengalami langsung indahnya persahabatan dalam perbedaan.

Pendidikan pesantren mengajarkan bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak. Kecintaan kepada Tuhan seharusnya membuat seseorang semakin jujur, rendah hati, dan penyayang. Kecintaan kepada manusia tumbuh melalui kebiasaan menolong, menghormati perbedaan, dan menolak kekerasan sebagaimana alam Kurikulum Berbasis Cinta Kementerian Agama ini digaungkan. Kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan dengan menjaga kebersihan dan merawat alam. Sementara itu, cinta kepada Indonesia ditunjukkan dengan menghargai kebudayaan, menjaga persatuan, dan menghormati sesama warga bangsa.

Pada akhirnya, Kemah Santri bukan hanya tentang mengenalkan keragaman tradisi pesantren, tetapi juga tentang menanamkan kesadaran bahwa Indonesia dibangun oleh banyak identitas yang disatukan oleh cita-cita kebangsaan. Semangat Resolusi Jihad mengajarkan keberanian untuk memperjuangkan kemerdekaan, sedangkan semangat HSN masa kini mengajak kita mengisi kemerdekaan dengan ilmu, akhlak, persaudaraan, dan pengabdian.

Kecintaan yang Diteladankan

Barangkali, kita terlalu sering meminta anak-anak menghargai perbedaan, tetapi lupa memberikan teladan. Kita ingin mereka hidup rukun, padahal kerukunan harus dimulai dari sikap orang dewasa. Cinta juga tidak hanya berkaitan dengan manusia, tetapi dengan lingkungan. Tanah, sungai, pepohonan, dan laut Pasangkayu merupakan bagian penting dari kehidupan. Anak-anak perlu dibiasakan membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, merawat tanaman, dan menjaga kebersihan. Kebiasaan sederhana ini akan bermakna jika dilakukan setiap hari, bukan hanya saat peringatan tertentu.

Mencintai alam berarti menyadari bahwa kehidupan harus dirawat, bukan dirusak. Kerusakan lingkungan hari ini dapat menjadi beban bagi generasi mendatang. Dalam hal ini, kecintaan kepada Tuhan, manusia, dan lingkungan saling berkaitan. Keimanan seharusnya mendorong kita untuk menjaga ciptaan-Nya dan bertanggung jawab terhadap kehidupan.

Begitu pula dengan kecintaan kepada bangsa dan negara. Bagi anak-anak Pasangkayu, Indonesia hadir melalui teman-teman yang berbeda suku, bahasa, budaya, dan agama. Mereka dapat belajar tentang kebangsaan melalui pergaulan sehari-hari. Mencintai Indonesia bukan sekadar menghafal Pancasila atau menyanyikan lagu kebangsaan, melainkan juga menghormati hak orang lain, menaati aturan, menolak kekerasan, dan menjaga persatuan.

Setara dalam Keberagaman

Kita boleh bangga terhadap suku, bahasa, dan tradisi masing-masing, tetapi tidak boleh merasa lebih baik daripada orang lain. Identitas seharusnya membantu kita mengenal diri, bukan memisahkan kita dari sesama. Pasangkayu memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar hidup dalam keberagaman sejak dini. Keluarga, sekolah, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat berperan menanamkan nilai nilai cinta. Semua dapat dimulai melalui teladan sederhana dalam kehidupan sehari hari. Perbedaan bukan ancaman, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan belajar menghargai pengalaman hidup orang lain. Dari sana, persaudaraan dapat tumbuh kuat.

Pasangkayu disebut miniatur Indonesia karena masyarakatnya memiliki beragam suku, agama, bahasa, dan tradisi. Namun, makna terpentingnya adalah kesempatan untuk belajar hidup bersama secara damai. Anak-anak yang kini duduk sebangku kelak tumbuh dengan profesi dan jalan hidup berbeda. Nilai-nilai yang mereka pelajari hari ini akan memengaruhi cara mereka memperlakukan sesama. Karena itu, pendidikan cinta perlu diwujudkan melalui kebiasaan, keteladanan, dan pengalaman bersama.

Warisan terbaik bagi anak-anak bukan hanya pengetahuan dan keberhasilan, melainkan juga kasih sayang dan kepedulian. Pelajaran tersebut dapat dimulai dari rumah, sekolah, tempat ibadah, dan lingkungan masyarakat. Kita perlu menjaga keberagaman agar menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan. Hidup rukun tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi tumbuh melalui kesediaan untuk saling memahami. Dari Pasangkayu, kita belajar bahwa mencintai kehidupan berarti menghormati Tuhan, manusia, lingkungan, dan bangsa.

Pada akhirnya, Hari Santri dapat menjadi ajakan untuk merawat cinta dalam kehidupan sehari-hari. Pasangkayu sebagai miniatur Indonesia memberi kita kesempatan membuktikan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan. Kita tidak harus sama untuk saling menghormati, dan tidak harus sekeyakinan untuk saling menolong. Pendidikan agama semakin bermakna ketika melahirkan manusia yang mencintai Tuhan sekaligus menyayangi ciptaan-Nya. Dari Pasangkayu, semangat santri dapat tumbuh menjadi semangat kemanusiaan, kepedulian, dan kecintaan kepada Indonesia


Wilayah LAINNYA