Minggu, 26 Juli 2026, menjadi hari yang penuh sukacita dan bersejarah bagi Kongregasi Misionaris Claris (MC) yang berkarya di Mamuju. Pada hari yang istimewa ini, para suster Misionaris Claris merayakan 75 Tahun Aprobasi Pontifikal Kongregasi MC sekaligus mengenang 45 tahun wafatnya pendiri kongregasi, Beata Maria Inés Teresa Arias dalam sebauh Perayaan Ekaristi. Perayaan syukur tersebut dipimpin oleh Pastor Paroki St. Maria Mamuju, P. Wilhelmus Tulak, Pr., bersama Pastor Paroki St. Mikael Tobadak, P. Fredy Jampur, CMF.
Sejak awal, suasana syukur sudah begitu terasa. Prosesi pembukaan berlangsung khidmat dan semarak. Arak-arakan diawali dengan pembawa 18 bendera, terdiri atas 16 bendera negara tempat Kongregasi Misionaris Claris berkarya, ditambah Bendera Vatikan dan Bendera Kongregasi MC. Iringan para penari bersama petugas liturgi dan para Suster MC: Sr. Wigbertha Gapi, Sr. Maria Goretti Adjo, Sr. Klara They Immakulata, Sr. Benedicta Suhanantini semakin memperindah prosesi. Pada ksempatan ini, hadir juga suster yagn berkarya di Paroki St. Mikael Tobadak, Sr. Lensi, RMI dan Sr. Tina RMI.
Perayaan Ekaristi semakin hidup dengan iringan Koor Ecclesia Paroki St. Maria Mamuju, dibawa komando ibu Alfrida Tarukan, sementara petugas liturgi, mulai dari lektor, pemazmur hingga doa umat, dipercayakan kepada para siswa SD Katolik St. Clara Mamuju, sebuah karya pendidikan yang lahir dari pelayanan para Suster Misionaris Claris.
Setelah Injil dibacakan oleh P. Fredy Jampur, CMF, homili disampaikan oleh P. Wilhelmus Tulak, Pr. Beliau mengawali renungannya dengan mengajak umat memaknai kehadiran 18 bendera yang diarak pada awal perayaan. "Ada satu bendera Kongregasi, satu bendera Vatikan, dan enam belas bendera negara tempat para Suster Misionaris Claris diutus. Bendera-bendera ini menjadi lambang bahwa kasih Allah telah menjangkau berbagai bangsa melalui karya para suster."
Mengacu pada tema perayaan, "Bersyukur Bersama Para Suster atas Kasih Allah yang Dialami melalui Kongregasi," Pastor Wilhelmus menegaskan bahwa seluruh perjalanan Kongregasi MC merupakan bukti nyata penyelenggaraan Allah. Beliau kemudian mengaitkan Injil hari ini yang berbicara mengenai harta terpendam dan mutiara yang sangat berharga (Mat. 13:44-52).
Menurutnya, menjual seluruh harta demi memperoleh mutiara berharga merupakan gambaran penyerahan diri secara total kepada Allah. Bagi para religius, penyerahan itu diwujudkan melalui pengikraran kaul-kaul hidup membiara. "Kerajaan Allah adalah mutiara yang paling berharga. Bila seseorang sungguh percaya, maka ia berani menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Itulah yang telah dijalani para Suster Misionaris Claris," ungkapnya. Beliau juga mengajak umat bersyukur karena nilai-nilai Injil yang diajarkan Yesus terus dihidupi secara nyata melalui karya Kongregasi MC. "Melepaskan segala sesuatu demi Injil bukan sekadar kata-kata, tetapi menjadi komitmen hidup para suster."
Dalam homilinya, Pastor Wilhelmus juga mengingatkan bahwa Kongregasi MC memang baru berusia 75 tahun sejak berdiri pada 22 Juni 1951, namun karya kasihnya telah menjangkau berbagai belahan dunia. Di Indonesia, Kongregasi telah berkarya lebih dari enam dekade, sedangkan di Mamuju telah hadir selama 12 tahun.
Selama waktu tersebut, kehadiran para suster sungguh dirasakan masyarakat. Mereka tidak hanya hadir dalam pelayanan pastoral, tetapi juga membuka karya pendidikan mulai dari Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, hingga SD Katolik St. Clara Mamuju, yang kini menjadi salah satu lembaga pendidikan yang semakin dipercaya masyarakat lintas agama. Mengutip Mazmur hari itu, Pastor Wilhelmus mengatakan, "Kasih Allah harus diwartakan sampai ke ujung bumi." Beliau kemudian mengajak umat memandang Mamuju sebagai salah satu "ujung bumi" tempat kasih Allah dihadirkan.
Dengan penuh syukur beliau mengenang bagaimana perjumpaan pertama dengan para Suster MC, yang diawali melalui perantaraan P. Pasomba,Pr, Vikep kala itu akhirnya menjadi jalan Allah menghadirkan Kongregasi ini di Mamuju. "Ini bukan kebetulan, tetapi karya Allah. Selama dua belas tahun, kasih Tuhan terus nyata melalui pelayanan para suster."
Menghubungkan Bacaan Pertama dengan situasi masyarakat, Pastor Wilhelmus menjelaskan bahwa kegelapan tidak selalu berarti dosa, tetapi juga dapat dimaknai sebagai keadaan hidup yang tanpa harapan. Salah satu cara mengusir "kegelapan" tersebut adalah melalui pendidikan. Beliau mengapresiasi kehadiran sekolah yang dibangun para Suster MC, karena sekolah tersebut terbuka bagi semua kalangan tanpa membedakan agama. Anak-anak Katolik, Kristen, Hindu, Buddha bahkan Muslim belajar bersama dalam semangat persaudaraan. "Inilah wajah Kerajaan Allah yang dihadirkan melalui pendidikan," tutup beliau.
Usai Perayaan Ekaristi, seluruh umat menuju Basement Gereja St. Maria Mamuju untuk mengikuti acara ramah tamah. Sekitar 500 umat mengikuti rangkaian acara dalam suasana penuh kekeluargaan. Acara dipandu dengan hangat oleh Irene Miranti dan Shelin Alfionita. Sebelum acara dimulai, 18 bendera kembali diarak menuju panggung sebagai simbol semangat misioner Kongregasi MC yang terus berkobar hingga kini.
Dalam sambutannya, Sr. Maria Goretti, MC, menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas perjalanan panjang Kongregasi serta mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan karya para suster di Mamuju. Acara kemudian diselingi dengan penampilan ceria anak-anak TK St. Clara Mamuju melalui gerak dan lagu yang menghibur seluruh hadirin.
P. Wilhelmus Tulak, Pr. membuka sambutan dengan sebuah pantun yang langsung disambut meriah oleh umat. Beliau kemudian menyampaikan tiga hal penting. Pertama, Ucapan Selamat. Atas nama Paroki St. Maria Mamuju, beliau mengucapkan selamat atas 75 Tahun Aprobasi Pontifikal Kongregasi MC. Menurutnya, bila dibandingkan usia manusia mungkin sudah tergolong tua, tetapi bagi sebuah kongregasi religius, usia tersebut justru menandakan masa yang semakin matang dalam berkarya. "Kehadiran para suster di Mamuju adalah karya Tuhan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan."
Kedua, Ucapan Terima Kasih. Beliau menyampaikan penghargaan atas dedikasi para suster selama melayani di Mamuju. Menurutnya, kehadiran para Suster MC telah memberi semangat baru bagi kehidupan umat, khususnya dalam bidang pendidikan. Kini banyak orang tua mempercayakan pendidikan anak-anaknya di TK maupun SD St. Clara. Beliau juga mengapresiasi pelayanan para suster di gereja maupun di stasi-stasi.
Ketiga, Harapan. Pastor Wilhelmus berharap karya pendidikan Kongregasi MC dapat terus berkembang. Beliau berharap suatu saat nanti dapat terwujud SMP Katolik St. Clara sehingga anak-anak memiliki kesinambungan pendidikan. Beliau juga menyampaikan harapan agar pelayanan pendidikan suatu saat dapat menjangkau Salutiwo, wilayah dengan sekitar enam puluh kepala keluarga yang memiliki banyak anak usia sekolah.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemotongan kue ulang tahun dan tumpeng. Sebelumnya, para pastor, para suster, pengurus WKRI, perwakilan rukun dan kelompok kategorial dipanggil ke depan. Dipandu Sr. Wigbertha Gapi, MC, seluruh perwakilan menari dan bernyanyi mengelilingi ruangan sambil diiringi tepuk tangan meriah dari seluruh umat. Suasana sederhana namun penuh kegembiraan ini menjadi simbol bahwa sukacita panggilan religius selalu melahirkan persaudaraan. Kue ulang tahun dan tumpeng kemudian dipotong bersama sebagai ungkapan syukur atas perjalanan Kongregasi MC. Acara semakin meriah dengan berbagai penampilan, antara lain:
• Gerak dan lagu dari anak-anak TK St. Clara Mamuju dibawa asuhan ibu Ninik.
• Tari kreasi alumni TK St. Clara binaan Kak Eka.
• Penampilan SEKAMI di bawah binaan Ibu Alexa.
• Tari kreasi siswa SD St. Clara dengan balutan busana adat Toraja binaan ibu Irene
Seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh P. Fredy Jampur, CMF, kemudian dilanjutkan makan bersama sambil menikmati hiburan lagu-lagu yang dibawakan oleh Ibu Irene dan penampilan spontanitas.
Perayaan 75 Tahun Aprobasi Pontifikal Kongregasi Misionaris Claris bukan sekadar peringatan usia sebuah kongregasi. Lebih dari itu, perayaan ini mengingatkan bahwa Allah terus bekerja melalui orang-orang yang berani menyerahkan hidupnya secara total kepada-Nya. Injil tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga menemukan wujud nyatanya dalam kehidupan para Suster Misionaris Claris. Mereka meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, dan berbagai kenyamanan hidup untuk mewartakan kasih Kristus hingga ke "ujung bumi". Mamuju menjadi salah satu tempat di mana mutiara itu kini bersinar melalui pelayanan pendidikan, pastoral, dan karya sosial yang menjangkau siapa saja tanpa memandang suku maupun agama.
Selama dua belas tahun berkarya di Mamuju, kehadiran para suster telah menjadi tanda harapan. Sekolah yang mereka dirikan bukan hanya mencerdaskan anak-anak, tetapi juga membangun persaudaraan lintas iman. Di ruang-ruang kelas St. Clara, anak-anak belajar bukan hanya membaca dan berhitung, tetapi juga belajar hidup bersama dalam damai dan saling menghargai.
Syukur atas 75 tahun perjalanan Kongregasi MC menjadi ajakan bagi seluruh umat untuk bertanya kepada diri sendiri: Apakah Kristus sungguh menjadi mutiara paling berharga dalam hidup kita? Sebab setiap orang dipanggil menjadi misionaris sesuai panggilannya masing-masing, menghadirkan kasih Allah di keluarga, di tempat kerja, di sekolah, dan di tengah masyarakat. Semoga semangat Beata Maria Inés terus menginspirasi para Suster Misionaris Claris untuk tetap setia pada karisma kongregasi, dan semoga karya kasih yang telah ditaburkan di Mamuju semakin bertumbuh, menghasilkan buah yang melimpah bagi Gereja dan masyarakat.
Proficiat Kongregasi Misionaris Claris atas 75 Tahun Aprobasi Pontifikal. Ad multos annos! Semoga kasih Allah yang telah diwartakan hingga ke ujung bumi terus menyala melalui semangat pelayanan para suster bagi generasi-generasi yang akan datang.
Kontributor : Anton Ranteallo