Siklus dan Keterkaitan Alam (Refleksi 4 Tahun Gempa Bumi 6,2 di Sulbar)

Oleh : H. M. Sahlan

Alam adalah segala yang ada di langit dan dibumi. Alam raya tidak dapat dibayangkan betapa luasnya. Dalam Alquran di nyatakan :

Adz Dzariyat ayat 47 :

وَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ

" dan langit kami bangun dengan " tangan-tangan " kami, dan sesungguhnya kami benar-benar maha Meluaskan ".

Memandang langit dan bumi dengan pandangan biasa saja bersama sedikit kesadaran, sudah cukup untuk mengantar manusia mengetahui bahwa dia adalah makhluk yang kecil dan kecil, bahkan dia adalah nol besar di sisi Allah SWT. Apalagi jika manusia mengetahui sekelumit dari hakikat alam raya ini. Bumi tempat berpijak hanyalah setetes dari samudra ciptaan Allah. Matahari yang cahayanya menyilaukan mata dan menjadi sumber kehangatan bahkan hidup makhluk di bumi ini hanyalah satu dari setatus juta matahari dalam satu galaksi yang terdekat, dari jutaan lainnya yang ada. Banyak yang dapat dipelajari dari alam, salahsatunya diantaranya adalah keterkaitan dan keharmonisan. Sungai-sungai mengairi tumbuhan, hutan membendung banjir, matahari tak jemu memberi kehangatan, air yang menguap akibat matahari dikembalikan oleh kerjasama awan dan angin. Kerjasama yang luarbiasa indahnya.

Namun, bisa menjadi bom waktu bila manusia tidak bisa menjaga dan merawatnya. Adakah keterkaitan  antara manusia dan alam ? Pasti ada ...... tumbuhan bisa tumbuh lebih subur jika ada upaya manusia menyangkut tanah dan pemeliharaannya. Banjir dapat terjadi bila manusia menebang pepohonan, itilah dua contoh diatas yang mudah kita temukan. 

Di sisi lain, semakin banyak yang kita ketahui tentang alam raya, semakin banyak pula yang dapat di persembahkan Atas izin Allah kepada kita. Demikian juga, semakin erat kerjasama antar manusia, semakin banyak pula manfaat  yang dapat mereka raih. Lalu, adakah kaitan antara kedurhakaan manusia kepada Allah seperti kekufuran dengan bencana Alam ? Agaknya tidak keliru jika kita menegaskan bahwa alquran menyatakan adanya.

Dosa dan pelanggaran yang dilakukan manusia mengakibatkan gangguan keseimbangan di darat, di laut dan di udara. Ketiadaan keseimbangan itu, mengakibatkan bencana bagi makhluk hidup termasuk manusia. Semakin banyak pengrusakan terhadap lingkungan, semakin besar pula dampak buruknya. Semakin banyak dan beraneka ragam dosa  manusia, semakin para pula kerusakan lingkungan. Hakikat ini merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri lebih-lebih dewasa ini. Demikian Allah SWT menciptakan semua makhluk, saling kait terkait. Dalam keterkaitan yang harmonis, lahir keserasian dan keseimbangan dari yang terkecil hingga yang terbesar, dan semua tunduk dalam pengaturan Allah yang maha besar. Jika terjadi gangguan pada keharmonisan dan keseimbangan itu, maka kerusakan terjadi, dan ini skala kecil atau besar. Pasti berdampak pada seluruh bagian Alam. termasuk manusia, baik yang merusak maupun yang merestui pengrusakan itu.

Sebagaimana dijelaskan oleh Alquran dalam surah Arrum ayat 41 :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

" Telah nampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, sehingga akibatnya Allah memcicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ".

Bertumpu pada ayat diatas,  manusia yang menyimpang dari jalan yang lurus,  menjadikan keadaan sekelilingnya, termasuk hukum-hukum sebab akibat yang berkaitan dengan alam raya ikut pula terganggu dan pada gilirannya menimbulkan dampak negatif. Bila itu terjadi, maka akan lahir krisis dalam kehidupan bermasyarakat, serta gangguan dalam interaksi sosial mereka, seperti krisis moral, ketiadaan cinta dan kasih sayang, menjamurnya kekejaman di berbagai suasana. Bahkan lebih dari itu, akan bertumpuk musibah dan bencana alam seperti, " keengganan langit menurunkan hujan atau ketidakmauan bumi menumbuhkan tumbuh- tumbuhan ". Datangnya banjir dan air bah, longsor, kebakaran dan gempa bumi serta bencana alam lainnya. Semua itu merupakan ayat-ayat atau tanda-tanda yang diberikan Allah SWT kepada manusia.  Maukah kita sadar dan mengambil hikmah serta pelajaran.

Wallahu A'lam bissh shawab.


Opini LAINNYA

Benarkah Kita Menang di Hari yang Fitri?

Manisnya Iman

Ihtisaban

Ramadhan Sebagai Bulan Membaca

Generasi dan Ancaman Masa Depan Peradaban

Menahan atau Melampiaskan Amarah?

Puasa Yang Mencerdaskan

Ramadhan, Negeri yang Puasa

Investasi Kenikmatan