Pesantren Disiapkan Jadi Pusat Ilmu dan Karakter, Wamenag: New Baitul Hikmah

Wamenag Romo Syafi'i memberikan arahan dalam finalisasi distingsi Ditjen Pesantren, di Bandung, Kamis (9/4/2026)

Bandung (Kemenag) --- Pemerintah tengah menyiapkan arah baru pengembangan pesantren agar tidak hanya jadi tempat belajar agama, tapi juga melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap menjawab tantangan zaman.

Langkah ini dibahas dalam finalisasi distingsi Direktorat Jenderal Pesantren di Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026).

Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i mengatakan, penguatan pesantren akan berdampak langsung bagi masyarakat. Santri ke depan diharapkan tidak hanya paham agama, tapi juga punya kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia menegaskan bahwa pesantren memiliki fondasi kuat dalam membangun peradaban berbasis nilai-nilai Al-Qur’an, Sunnah, dan khazanah turats yang telah diwariskan para ulama. Karena itu, arah pengembangan pesantren bukan meninggalkan tradisi tersebut, melainkan menguatkannya sekaligus mengintegrasikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Pada masa klasik Islam, para ulama mampu menguasai berbagai disiplin ilmu tanpa meninggalkan akar keislaman. Inilah yang perlu kita kuatkan kembali menuju konsep New Baitul Hikmah,” ujar Wamenag.

Baitul Hikmah adalah pusat ilmu pengetahuan terbesar dalam sejarah Islam yang pernah berdiri di Baghdad pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, terutama di era kepemimpinan Sultan Harun al-Rasyid. Pada masa itu, berbagai ilmu pengetahuan berkembang pesat menjadi tanda kejayaan peradaban Islam.

“Dulu ulama menguasai banyak ilmu sekaligus. Itu yang ingin kita hidupkan lagi,” katanya.

Menurutnya, kekuatan utama pesantren justru ada pada pembentukan karakter. Hal ini penting karena masyarakat tidak hanya butuh orang pintar, tapi juga yang berakhlak.

“Kalau ingin membangun masyarakat yang kuat, fondasinya akhlak. Di pesantren, itu dibentuk setiap hari,” tegasnya.

Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu menambahkan, pesantren ke depan harus punya peran lebih besar, termasuk melahirkan pemimpin dan solusi bagi masyarakat.

“Pesantren bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat lahirnya gagasan dan pemimpin,” ujarnya.

Direktur Pesantren Basnang Said menyebut, penyusunan arah pengembangan ini penting agar manfaat pesantren bisa dirasakan lebih luas.

“Harus jelas arah pendidikannya, dari awal sampai hasil akhirnya. Supaya lulusannya benar-benar siap di masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Kakanwil Kemenag Jawa Barat Dudu Rohman mengatakan, potensi pesantren sangat besar. Di Jawa Barat saja ada sekitar 13 ribu pesantren dengan lebih dari 200 ribu santri.

“Ini kekuatan besar. Kalau dikelola dengan baik, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Dengan arah baru ini, pesantren diharapkan tidak hanya menjaga tradisi, tapi juga menjadi solusi nyata bagi persoalan sosial, ekonomi, dan pendidikan di tengah masyarakat. (Moh.Salapudin)


Wilayah LAINNYA