Dukung Penuh Pengembangan Pendidikan Keagamaan di Sulbar, Kakanwil Adnan Hadiri Pemberkatan dan Peresmian SD Katolik St. Clara Mamuju

Kakanwil Adnan Hadiri Pemberkatan dan Peresmian SD Katolik St. Clara Mamuju

Senin, 2 Februari 2025, menjadi hari bersejarah bagi SD Katolik St. Clara Mamuju. Pada hari itu dilaksanakan pemberkatan dan peresmian gedung sekolah yang telah dibangun dengan megah sebagai wujud komitmen Gereja dalam pelayanan pendidikan.

Pemberkatan dilakukan oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Makassar, Mgr. Fransiskus Nipa, Pr., didampingi oleh Vikaris Episkopal (Vikep) Sulawesi Barat, P. Oc. Samson Bureny, Pr dan Pastor Sekretaris Keuskupan Agung KAMS, Pastor Aidan Putra Sidik, Pr; Pastor Paroki St. Maria Mamuju, P. Wilhelmus Tulak, Pr; serta Pastor Martinus Pasomba, Pr, kini Vikep Luwu yang juga pernah menjadi Vikep Sulbar, serta tiga imam dari Paroki St. Mikael Tobadak.

Meskipun cuaca mendung dan hujan turun sepanjang rangkaian acara, seluruh prosesi tetap berjalan lancar dengan berbagai penyesuaian. Situasi ini justru menambah nuansa reflektif bahwa karya Tuhan tidak selalu hadir dalam cuaca cerah, tetapi juga dalam keterbatasan dan dinamika kehidupan.

Sebelum perayaan liturgi dimulai, dilakukan pengguntingan pita di lorong masuk sekolah sebagai tanda resmi dibukanya gedung baru. Prosesi ini dipandu oleh MC, Helda Muliati Pakiding. Pengguntingan pita dilakukan oleh Mgr. Frans bersama Sr. Rina Rosalina, MC, selaku pimpinan regional Suster-suster MC.

Perayaan Ekaristi dilangsungkan di halaman tengah sekolah yang dikelilingi bangunan. Tamu undangan dan orang tua murid telah memenuhi lokasi sejak pagi. Koor guru-guru SD Katolik St. Clara yang dipimpin konduktor Kristian Rista Beati dan dikoordinir oleh Sr. Bertha, MC, turut memeriahkan liturgi. Karena hujan, umat menempati area teras sekolah. Walau sederhana, suasana doa tetap terjaga dengan khidmat.

Dalam homilinya, Mgr. Frans mengangkat tema pemberkatan, “Let Your Light Shine” (Mat. 5:16) — “Biarlah terangmu bercahaya.” Tema ini, menurut beliau, bukan sekadar slogan, melainkan panggilan hidup. Terang itu lahir dari iman, doa, dan kerja nyata.

Uskup mengapresiasi perjuangan para suster, pastor, dan umat yang dengan tekun mendoakan serta mengupayakan terwujudnya sekolah ini.

Beliau juga menyinggung hujan yang turun sebagai bahasa simbolis: bahwa karya Tuhan sering bertumbuh dalam proses, perjuangan, dan kesabaran. Hujan tidak memadamkan terang, justru menyuburkan benih-benih harapan.

Sebagai ilustrasi, Uskup menceritakan kisah seorang anak yang sulit tidur karena kecemasan. Berbagai terapi dilakukan tanpa hasil hingga seorang guru menyarankan hal sederhana: memendekkan kaki ranjang. Setelah itu, anak tersebut bisa tidur nyenyak. Pesan dari ilustrasi ini adalah bahwa solusi pendidikan tidak selalu rumit; sering kali dibutuhkan pendekatan yang bijaksana, penuh perhatian, dan menyentuh kebutuhan nyata anak.

Mgr. Frans menegaskan bahwa kerasulan pendidikan di sekolah Katolik mencakup empat pilar utama: kecukupan peserta didik, sarana-prasarana, kurikulum yang selaras dengan kebijakan pemerintah, dan sumber daya manusia yang berkualitas. Keempat aspek ini sudah mulai tampak di SD Katolik St. Clara dan perlu terus dikembangkan.
Beliau menekankan pentingnya SDM sebagai pelayan misi pendidikan. Identitas sekolah Katolik adalah pewartaan Injil melalui kualitas, keteladanan, dan keberpihakan kepada yang lemah. Pendidikan Katolik harus unggul secara akademik sekaligus membentuk karakter dan spiritualitas.

Pada bagian ritus pemberkatan, Uskup memberkati air dan garam yang kemudian digunakan untuk memerciki seluruh ruangan sekolah. Prosesi ini menjadi tanda penyerahan sekolah kepada penyelenggaraan Tuhan. Setelah Misa, acara dilanjutkan dengan peresmian secara seremonial.

Hadir dalam kesempatan ini perwakilan pemerintah daerah, Aisten III Bpk. Alexander Patola, Kakanwil Kemenag Sulbar, Bpk. Dr. Adnan Nota, perwakilan Kejaksaan Negeri,Bpk. Anton, Pembimas Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha, serta para undangan lainnya. Kehadiran lintas unsur ini menunjukkan dukungan luas terhadap dunia pendidikan.

Tamu disambut penampilan drum band siswa-siswi SD St. Clara yang meriah.Acara kemudian diisi dengan tarian dan lagu dari anak-anak SD dan TK. MC berikutnya, Ibu Astuti Toding dan Brielle (siswa SD St. Clara), memandu jalannya acara dengan baik.

Ketua panitia, Febrianto Wijaya, dalam laporannya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, khususnya orang tua murid yang terlibat aktif sebagai panitia. Ia berharap SD Katolik St. Clara dapat menjadi model sekolah yang membangun kerja sama semua unsur demi masa depan anak-anak.

Sr. Rina Rosalina, MC, menyampaikan rasa syukur atas terwujudnya sekolah ini berkat dukungan banyak pihak. Harapannya, sekolah ini menjadi tempat pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di Mamuju dan Sulawesi Barat.

Perwakilan Bupati Mamuju, Asisten III Alexander Pattola, menyampaikan apresiasi pemerintah daerah atas hadirnya sekolah Katolik sebagai mitra pembinaan generasi muda yang disiplin dan berkarakter.

Dalam sambutan penutup, Mgr. Frans menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi masa depan. Anak-anak perlu dibina dengan cinta dan disiplin sejak dini. Acara ditutup dengan penandatanganan prasasti dan foto bersama, lalu dilanjutkan dengan ramah tamah.

Peresmian SD Katolik St. Clara Mamuju bukan sekadar pembukaan gedung baru, melainkan penegasan misi Gereja dalam dunia pendidikan. Sekolah ini dipanggil menjadi “pelita” di tengah masyarakat — bukan hanya menghasilkan siswa cerdas, tetapi pribadi yang berkarakter, peduli, dan beriman.

Tema Let Your Light Shine mengingatkan bahwa terang sejati lahir dari kasih. Terang itu tampak dalam kesabaran guru mendidik, perhatian pada siswa yang lemah, kejujuran dalam proses belajar, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Hujan yang menyertai peresmian seolah menjadi simbol: terang Kristus tidak pernah padam oleh situasi. Justru dalam keterbatasan, terang itu semakin bermakna. Sekolah ini diharapkan menjadi tempat di mana anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar menjadi manusia seutuhnya.

Akhirnya, sekolah Katolik adalah misi kasih. Ketika kasih menjadi dasar, pendidikan menjadi sarana pembentukan generasi yang membawa terang bagi Gereja, bangsa, dan dunia. Let your light shine. Semoga terang itu terus menyala dari St. Clara Mamuju untuk banyak generasi.

 

Kontributor : Anton Ranteallo


Wilayah LAINNYA