Belajar dari Fenomena Piala Dunia, Pembina Apel Ajak ASN Kemenag Sulbar Jadi Tim “Hands On”

Dr. H. Syamsul, M.Pd. Kepala Bidang Pendidikan Madrasah

Sulbar (Kemenag) — Kesuksesan sebuah program tidak cukup hanya dirayakan dari pinggir lapangan. ASN Kementerian Agama dituntut hadir, terlibat, dan mengambil peran nyata dalam setiap proses pencapaian tujuan organisasi.

Pesan tersebut disampaikan Pembina Apel, Dr. H. Syamsul, M.Pd., saat memberikan amanat kepada jajaran pegawai Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat. Dengan mengambil analogi dari fenomena Piala Dunia, ia mengajak seluruh ASN memahami dua pola keterlibatan, yakni hands on dan hands off.

Menurutnya, fenomena dukungan dalam ajang sepak bola dunia memperlihatkan bagaimana seseorang dapat merasakan kebanggaan luar biasa ketika tim yang didukung berhasil meraih kemenangan, meskipun dirinya tidak terlibat langsung dalam perjuangan tersebut. Kondisi ini digambarkan sebagai pola hands off, yaitu ikut menikmati dan merayakan keberhasilan tanpa mengambil bagian secara langsung dalam prosesnya.

Sementara itu, pola hands on menggambarkan sikap seseorang yang memilih untuk turun langsung, mengambil peran, dan menjadi bagian dari proses menuju keberhasilan.

“Secara psikologis, seseorang yang memiliki sikap ekstrem terhadap sesuatu yang didukung bisa jadi pernah memiliki keinginan dalam dirinya yang belum berhasil diwujudkan,” ungkap Syamsul.

Ia kemudian menarik fenomena tersebut ke dalam konteks dunia kerja, khususnya di lingkungan Kementerian Agama. Menurutnya, perilaku pejabat dan ASN dalam menjalankan tugas juga dapat terlihat dalam dua kecenderungan.

Ada pegawai yang ketika ingin mencapai suatu tujuan memilih untuk terlibat secara langsung, bekerja bersama tim, dan mengambil bagian dalam proses. Namun, ada pula yang merasa senang ketika sebuah program berhasil, meskipun tidak terlibat langsung dalam pelaksanaannya. Pada titik inilah ASN Kemenag Sulbar diajak untuk menentukan posisi.

Syamsul menegaskan bahwa setiap pegawai seharusnya memilih menjadi bagian dari kelompok hands on. Artinya, bukan sekadar menjadi penonton ketika program berhasil, tetapi hadir sejak proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.

“Dalam pelaksanaan tugas dan pembagian tim, kita harus selalu memposisikan diri sebagai kelompok yang hands on,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan organisasi tidak lahir dari satu atau dua orang saja. Dibutuhkan kolaborasi, rasa memiliki, serta kemauan untuk turun tangan dan mengambil tanggung jawab sesuai peran masing-masing.

Bagi jajaran Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Barat, semangat hands on menjadi bagian penting dalam membangun budaya kerja yang aktif, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil. Sebab dalam sebuah tim, ikut senang ketika berhasil memang baik, tetapi ikut bergerak agar keberhasilan itu benar-benar terwujud tentu jauh lebih berdampak.


Wilayah LAINNYA