Sebagai orang Pambusuang, selalu ada kebanggaan tersendiri ketika menyebut diri sebagai bagian dari kampung ini. Betapa tidak, Pambusuang sejak dahulu hingga sekarang selalu menjadi bahan perbincangan, baik di kalangan orang luar maupun masyarakat Pambusuang sendiri. Banyak hal yang membuat Pambusuang menarik untuk dibicarakan, mulai dari bahasa, karakter masyarakat, hingga tradisi keilmuan yang telah mengakar dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu kekhasan yang mudah dikenali adalah bahasa orang Pambusuang. Ketebalan intonasinya membuat seseorang sering kali dapat dikenali asal-usulnya hanya dari cara berbicara. Namun, bahasa Pambusuang bukan sekadar persoalan logat. Di dalamnya terdapat logika, simbol, dan makna yang kadang tidak serta-merta dapat dipahami. Ada ungkapan-ungkapan yang baru menemukan maknanya setelah direnungkan beberapa saat kemudian. Bahasa dengan demikian bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas dan cara pandang masyarakat Pambusuang.
Pambusuang juga dikenal sebagai tempat lahir dan tumbuhnya sejumlah tokoh yang memiliki nama besar. Dari masa lalu hingga sekarang, sederet nama seperti Imam Lapeo, Annangguru Saleh, Prof. Baharuddin Lopa, Prof. Basri Hasanuddin, KH Mochtar Husein, Prof. Ahmad M. Sewang, dan sejumlah tokoh lainnya telah ikut mengharumkan nama Pambusuang melalui keulamaan, kepakaran, keilmuan, dan integritas mereka.
Mereka bukan sekadar nama yang tercatat dalam sejarah. Lebih dari itu, mereka telah memberikan kontribusi besar dalam menanamkan nilai-nilai moral, keagamaan, keilmuan, dan keteladanan kepada generasi pada masanya. Warisan tersebut kemudian menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat yang terus dikenang oleh generasi sekarang dan diharapkan tetap hidup pada generasi yang akan datang.
Namun, ada satu hal yang barangkali menjadi ciri paling khas dari Pambusuang: tradisi pengajian kitab dan laboratorium dakwah yang hidup di tengah masyarakat. Pengajian kitab kuning bukan sekadar aktivitas keagamaan, melainkan telah menjadi bagian dari denyut kehidupan Pambusuang. Dari rumah-rumah Annangguru hingga masjid, tradisi keilmuan itu berlangsung secara turun-temurun.
Berbagai tempat pengajian di Pambusuang menjadi magnet bagi para pencari ilmu, bukan hanya dari Pambusuang, tetapi juga dari berbagai daerah di luar Pambusuang. Para santri datang untuk mendalami ilmu-ilmu keislaman, terutama ilmu yang berkaitan dengan kemampuan membaca kitab kuning. Ilmu sharaf, misalnya, dipelajari untuk memahami perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab. Demikian pula ilmu nahwu yang berkaitan dengan struktur dan hubungan antarkata dalam bahasa Arab.
Kedua ilmu tersebut menjadi perangkat penting dalam membaca kitab-kitab klasik yang tidak berbaris. Di hadapan Annangguru, para santri tidak sekadar membaca teks, tetapi belajar memahami struktur bahasa, maksud kalimat, serta kandungan ilmu yang terdapat di dalamnya.
Para santri, baik yang berasal dari luar Pambusuang maupun santri lokal, memanfaatkan kesempatan tersebut dengan penuh kesungguhan. Mereka bergerak dari satu Annangguru ke Annangguru lainnya. Dari selepas Subuh hingga malam hari, waktu mereka dipenuhi dengan aktivitas keilmuan. Satu kitab selesai dikaji, mereka berpindah kepada kitab lainnya; satu guru selesai ditemui, mereka mencari guru berikutnya.
Pemandangan semacam ini merupakan sesuatu yang menyejukkan bagi siapa saja yang mencintai ilmu. Rumah-rumah Annangguru berubah menjadi ruang-ruang pendidikan yang hidup. Di sana dibaca berbagai kitab, mulai dari fikih, hadis, akhlak, tafsir, tasawuf, hingga berbagai disiplin ilmu keislaman lainnya, baik kitab klasik maupun karya-karya yang lebih kontemporer.
Di samping pengajian yang berlangsung di rumah-rumah Annangguru, Masjid Besar At-Taqwa Pambusuang juga menjadi salah satu sentral keilmuan. Pengajian kitab biasanya berlangsung setelah Magrib hingga menjelang waktu Isya. Para Annangguru secara bergiliran menyampaikan pengajian berdasarkan jadwal yang telah ditentukan oleh pengurus atau imam masjid.
Tradisi tersebut telah berlangsung secara turun-temurun. Dari satu generasi ke generasi berikutnya selalu muncul kader-kader baru yang melanjutkan tradisi keilmuan dan keulamaan. Di sinilah letak kekuatan tradisi Pambusuang: keilmuan tidak berhenti pada satu generasi, tetapi terus diwariskan.
Para Annangguru menjalankan tugas tersebut dengan penuh keikhlasan. Mengajarkan ilmu bukan semata-mata pekerjaan, tetapi dipandang sebagai bagian dari misi kenabian. Sebab, para ulama adalah pewaris para nabi. Karena itu, mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya merupakan amanah yang sangat mulia.
Para Annangguru mengajar hampir tanpa mengenal waktu. Para santri datang secara bergelombang dari satu guru ke guru lainnya dengan membawa kitab masing-masing. Mereka duduk langsung di hadapan guru, membuka kitab yang akan dibaca, kemudian Annangguru mengurai teks tersebut secara perlahan dan mendalam.
Salah satu kekhasan pengajian Pambusuang adalah perhatian yang sangat kuat terhadap aspek kebahasaan, terutama i'rab, yakni penentuan harakat atau kedudukan akhir kata dalam sebuah kalimat bahasa Arab. Ketelitian dalam membaca akhir kata menjadi bagian penting dalam tradisi pengajian kitab di Pambusuang. Kesalahan dalam membaca harakat akhir sebuah kata tidak dianggap sebagai persoalan kecil. Santri akan langsung ditegur dan dibenarkan oleh Annangguru.
Di sinilah para santri belajar bahwa membaca kitab kuning bukan sekadar membaca tulisan Arab tanpa baris. Ia membutuhkan ketelitian, penguasaan gramatika, kesabaran, dan kedalaman pemahaman. Tradisi semacam inilah yang secara perlahan membentuk karakter keilmuan para santri Pambusuang.
Namun, tradisi Annangguru tidak berhenti di ruang pengajian. Setelah bergelut dengan kitab, mereka turun ke tengah masyarakat melalui dakwah. Para Annangguru Pambusuang telah lama memberikan pencerahan ke berbagai daerah, terutama di wilayah Sulawesi Barat. Bahkan, sebagian di antara mereka melakukan dakwah hingga ke Kalimantan dan berbagai wilayah lainnya.
Menariknya, para Annangguru Pambusuang memiliki karakter tersendiri ketika berada di mimbar. Logat Pambusuang yang khas, suara yang kuat, serta intonasi yang tegas justru menjadi kekuatan tersendiri dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Bahasa dakwah mereka terasa dekat dengan masyarakat karena mampu menerjemahkan bahasa kitab yang terkadang berat menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh jamaah.
Penguasaan terhadap kitab kuning menjadi modal utama dalam aktivitas dakwah tersebut. Berbagai kisah, nasihat, persoalan fikih, akhlak, tafsir, hadis, dan nilai-nilai moral yang bersumber dari kitab klasik diolah kembali dalam bahasa yang lebih komunikatif. Di tangan Annangguru, bahasa kitab tidak berhenti sebagai teks yang tersimpan di dalam lembaran, tetapi dihidupkan kembali menjadi pesan yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Yang menarik, nilai-nilai klasik tersebut tidak selalu disampaikan secara apa adanya. Para Annangguru berusaha menghubungkannya dengan persoalan kehidupan kekinian. Di sinilah terjadi perjumpaan antara tradisi dan modernitas: nilai lama tidak ditinggalkan, sementara perkembangan zaman tidak pula diabaikan.
Mereka boleh saja setiap hari bergelut dengan kitab-kitab kuning yang tidak berbaris, tetapi itu bukan berarti mereka hidup di luar zaman. Para Annangguru tetap mengikuti perkembangan informasi dan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Kitab kuning menjadi fondasi, sementara realitas kehidupan menjadi ruang untuk mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Para Annangguru Pambusuang, baik yang senior maupun generasi yang lebih muda, memiliki kedekatan yang kuat dengan referensi-referensi klasik. Kitab kuning seakan menjadi kurikulum yang tidak pernah berakhir. Dari kitab-kitab dasar dalam gramatika bahasa Arab, kajian kemudian berkembang menuju fikih, usul fikih, hadis, tafsir, tasawuf, akhlak, dan berbagai disiplin keislaman lainnya.
Rumah-rumah Annangguru pun menjadi ruang belajar yang terbuka. Tidak hanya santri lokal Pambusuang yang datang, tetapi juga para pencari ilmu dari luar daerah. Di tempat-tempat sederhana itulah berlangsung proses pewarisan ilmu yang barangkali tidak selalu tercatat secara formal, tetapi jejaknya dapat ditemukan pada banyak orang yang pernah belajar di dalamnya.
Karena itu, membaca Pambusuang tidak cukup hanya dengan melihat letak geografisnya sebagai sebuah kampung. Pambusuang juga harus dibaca sebagai ruang budaya dan ruang intelektual, tempat tradisi keilmuan tumbuh melalui relasi guru dan murid, rumah dan masjid, kitab dan mimbar.
Di sana, kitab kuning tidak hanya menjadi bacaan. Ia menjadi jalan pewarisan pengetahuan. Annangguru bukan hanya pengajar. Mereka menjadi penjaga mata rantai keilmuan. Dan mimbar bukan sekadar tempat berceramah. Ia menjadi ruang untuk membawa pesan-pesan kitab ke tengah kehidupan masyarakat.
Mungkin karena itulah Pambusuang selalu memiliki alasan untuk dibicarakan. Bukan hanya karena bahasa dan tokoh-tokohnya, tetapi karena di balik kehidupan masyarakatnya terdapat tradisi panjang yang terus berusaha menjaga ilmu agar tidak putus di tengah zaman.
Pambusuang adalah kampung yang membaca masa lalu melalui kitab, memahami masa kini melalui realitas, dan berusaha menyiapkan masa depan melalui pewarisan ilmu. Di antara lembaran kitab kuning dan suara Annangguru di atas mimbar, di sanalah salah satu wajah Pambusuang menemukan maknanya.
Bumi Pambusuang, Agustus 2026