Rapat Koordinasi Daerah FKUB Sulawesi Barat

Rapat Koordinasi Daerah FKUB Sulawesi Barat

Mamuju, 24 November 2025. Siang itu, cuaca panas menyelimuti kompleks Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Barat. Para pegawai tampak sibuk menyelesaikan tugas di ruang masing-masing. Namun, di depan aula kanwil, suasana berbeda terlihat: para pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dari seluruh kabupaten di Sulawesi Barat mulai berdatangan. Ada yang telah berangkat sejak pagi, menempuh perjalanan jauh demi hadir dalam pertemuan penting ini—sebuah kesempatan untuk menyatukan persepsi, memantapkan komitmen, dan mempererat silaturahmi.

Tepat pukul 13.30, acara dimulai bersamaan dengan kedatangan Gubernur Sulawesi Barat. Kehadiran beliau disambut hangat oleh para pengurus FKUB, para tokoh lintas agama, serta ketua FKUB dari enam kabupaten se-Sulbar. Gubernur hadir bersama Ketua FKUB Provinsi, Dr. H. Sahabudin Kasim, M.H.I., Kepala Kanwil Kemenag yang diwakili oleh Kepala Bidang Haji, serta sejumlah pejabat terkait. Tidak lama kemudian, hadir pula Wakil Ketua DPRD Provinsi Dr. Hj. Suraidah Suhardi, menandai pentingnya pertemuan ini.

Acara dibuka dengan lagu Indonesia Raya dan Mars FKUB yang dinyanyikan bersama-sama oleh seluruh hadirin, diiringi tayangan visual di layar videotron. Sebagai insan beriman, kegiatan dilanjutkan dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Ustaz H. Mawardin. Tampak pula hadir Plt. Kepala Biro Kesra dan Plt. Kepala Biro Tata Pemerintahan Provinsi Sulawesi Barat, menambah kesempurnaan pertemuan lintas lembaga ini.

Laporan Panitia dan Sambutan Ketua FKUB
Ketua Panitia, Dr. H. Nur Salim Ismail, menyampaikan laporan kegiatan tanpa teks, penuh percaya diri. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh pengurus FKUB dan menegaskan bahwa untuk pertama kalinya rapat koordinasi dihadiri langsung oleh Gubernur. Beliau berharap forum ini dapat menjadi ruang dialog tentang arah pembangunan Sulawesi Barat ke depan. Dengan rendah hati, beliau juga memohon maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan terdapat hal yang kurang berkenan.

Ketua FKUB Provinsi, Dr. H. Sahabudin Kasim, kemudian memberikan sambutan. Ia mengapresiasi kehadiran Gubernur dan Wakil Ketua DPRD, yang menurutnya menjadi teladan bagi generasi muda tentang pentingnya kerja sama lintas sektor. Dalam sambutannya, hadir pula seluruh Pembimbing Masyarakat dari masing-masing agama: Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Pak Sahabudin membuka sambutannya dengan pantun:
“Minum kopi di pagi hari, terasa pahit tanpa gula.
Jika umat beragama semakin rukun, hidup pun terasa manis seperti gula.”
Pantun itu mengundang tawa dan tepuk tangan hadirin.

Beliau menegaskan bahwa FKUB merupakan garda terdepan dalam menjaga kerukunan. Dalam masyarakat yang majemuk, potensi gesekan selalu ada—perbedaan keyakinan, suku, budaya, dan kepentingan dapat berubah menjadi sumber konflik bila tidak dikelola dengan bijak. Karena itu, tokoh agama perlu memahami kondisi sosial dengan lebih mendalam agar mampu hadir sebagai penyejuk dan penuntun umat.

Lebih jauh beliau menyampaikan bahwa FKUB adalah “rumah bersama” tempat semua tokoh duduk setara, mendiskusikan persoalan masyarakat, baik terkait isu agama maupun sosial ekonomi. Salah satu isu nasional yang disinggung adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dinilai mampu membantu anak-anak sekolah yang sering tidak sempat sarapan.

Sambutannya ditutup dengan pantun kedua:
“Jika ingin makan ikan segar, jangan lupa singgah di kota Majene.
Jika ingin umur panjang dan berkah, jangan lupa berdoa dan bersilaturahmi.”

Sambutan Gubernur Sulawesi Barat
Gubernur kemudian tampil memberi sambutan. Dengan tegas dan penuh wibawa, beliau menyatakan syukur karena masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk menghadiri forum yang penting ini. Ia menceritakan bahwa perjalanan hidupnya tidak terduga: semula berencana bertugas sebagai anggota DPR RI di Jakarta, tetapi kehendak Tuhan membawanya kembali ke Sulawesi Barat untuk mengemban amanah sebagai Gubernur.

Beliau menyinggung berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang rendah hingga tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Efisiensi anggaran pada tahun 2025 juga menjadi tantangan berat. Namun, dengan diplomasi politik yang kuat, beliau mampu menghadirkan berbagai bantuan dari pemerintah pusat, sehingga pembangunan di banyak sektor dapat terus berjalan.

Dalam pertemuan ini, Gubernur memberikan kabar yang menggembirakan bagi FKUB kabupaten: ia berkomitmen mengupayakan anggaran sebesar 50 juta rupiah setiap tahun untuk masing-masing FKUB kabupaten. Selain itu, beliau menjelaskan bahwa tahun 2026 direncanakan sebagai tahun padat karya, dengan alokasi anggaran sekitar 70 miliar rupiah, serta program penanganan stunting di 120 desa yang lokasinya akan ditentukan oleh para bupati.

Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Menanggapi berbagai masukan, Gubernur menegaskan pentingnya memperkuat kerukunan internal umat beragama. “Kita terlalu mudah marah,” ujar beliau. “Karena itu, yang perlu kita bangun adalah kesadaran kemanusiaan. Jika membangun rumah ibadah, bangunlah. Urusan iman tidak boleh saling mengganggu. Namun dalam ruang sosial, kita harus saling menghormati.”

Pertemuan yang berlangsung setengah hari itu meninggalkan kesan mendalam bagi para pengurus FKUB se-Sulawesi Barat. Kehadiran Gubernur, dialog yang terbuka, dan komitmen bersama untuk menjaga kerukunan menjadi angin segar bagi seluruh peserta. Semoga pertemuan ini memperteguh semangat toleransi, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan suasana damai bagi seluruh masyarakat Sulawesi Barat.

Salam kerukunan.

Refleksi Spiritual
Rapat Koordinasi Daerah FKUB bukan sekadar agenda administratif; ia adalah perjumpaan iman—tempat di mana para pemimpin agama meneguhkan panggilan luhur mereka sebagai penjaga damai (peacekeepers) dalam masyarakat.

Dalam pertemuan ini, kita melihat bahwa kerukunan bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja. Ia adalah buah dari dialog, hasil dari kesediaan mendengarkan, dan tanda kesetiaan kita pada nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan setiap agama.

Perbedaan agama, suku, atau budaya bukanlah ancaman, tetapi anugerah yang memperkaya. Tuhan menciptakan manusia dalam keberagaman agar kita belajar saling memahami, saling mengasihi, dan saling melengkapi. Seperti yang disampaikan Gubernur:

“Urusan iman tidak saling mengganggu; urusan sosial adalah ruang kita untuk membangun hormat bersama.” Tugas FKUB bukan hanya mencegah konflik, tetapi menghadirkan wajah Tuhan yang penuh kasih dalam kehidupan sosial. Ketika tokoh-tokoh agama duduk bersama, mereka sesungguhnya sedang menghidupkan sabda Tuhan: “Berbahagialah para pembawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9)

Semoga setiap dialog, setiap senyuman, dan setiap langkah bersama menjadi wujud nyata dari komitmen kita untuk menghadirkan Sulawesi Barat yang rukun, teduh, dan penuh harapan.


Wilayah LAINNYA