32 Santri Sulbar di PPSN VI, Menguatkan Karakter dan Kepedulian Lingkungan

Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026

Malang — Sebanyak 32 santri dari empat pondok pesantren di Sulawesi Barat mengikuti Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di Pesantren An-Nur II Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pertemuan dengan santri dari berbagai daerah menjadi kesempatan untuk memperluas persaudaraan, belajar bekerja sama, serta menguatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Semangat tersebut sejalan dengan penguatan pendidikan pesantren yang berdampak bagi masyarakat. Melalui kegiatan kepramukaan, santri diharapkan membawa keteladanan dalam mencegah kekerasan dan perundungan, menjaga alam, serta membangun kehidupan bersama yang saling menghargai.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat hadir langsung pada pembukaan PPSN VI, Kamis (1/10/2026), didampingi Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Papkis), Dr. H. Muhammad Dinar Faisal. Kakanwil menilai perjumpaan santri dari berbagai provinsi memiliki arti penting bagi pembentukan karakter dan wawasan kebangsaan.

Menurutnya, kesempatan berkolaborasi dengan sangga dari seluruh Nusantara akan membantu santri tumbuh menjadi pribadi yang lebih dinamis dan siap menghadapi kehidupan.

“Dengan wawasan dan kemampuan berkolaborasi yang luas dengan seluruh sangga yang ada se-Nusantara, itu akan membuat anak-anak kita semakin dinamis, semakin berkarakter menghadapi hidupnya,” ujar Kakanwil.

Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bekal bagi lahirnya kader-kader yang mampu melihat keberagaman Indonesia secara lebih luas, dengan tetap menjaga nilai dan jati diri kepesantrenan.

“Ke depan kita berharap anak-anak kita ini akan melahirkan kader-kader yang berwawasan Nusantara, tetapi tetap dalam posisi sebagai santri,” tuturnya.

Kontingen Sulawesi Barat berjumlah 45 orang, terdiri atas dua pimpinan kontingen, empat pembina pendamping, 32 peserta santri, dan tujuh official. Para peserta terbagi dalam empat sangga atau regu, dengan jumlah putra dan putri masing-masing 16 orang.

Santri putra berasal dari Pondok Pesantren Nahdlatul Ummah Kanang dan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum DDI Baruga Majene. Sementara itu, santri putri berasal dari Pondok Pesantren Darul Mahfudz Lekopa’dis dan Pondok Pesantren Hasan Yamani. Mereka membawa semangat dari pesantren masing-masing untuk belajar dan membangun persaudaraan dalam perkemahan tingkat nasional tersebut.

Pada upacara pembukaan, Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, selaku inspektur upacara, menegaskan bahwa pramuka santri memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Peran itu diwujudkan melalui keteladanan yang dapat dirasakan di pesantren maupun di tengah masyarakat.

“Anak-anak pramuka santri adalah duta-duta antikekerasan dan antiperundungan, sekaligus duta-duta generasi santri peduli lingkungan hidup,” tegas Basnang.

Ia menilai kegiatan kepramukaan menjadi ruang untuk melatih kemandirian dan ketangguhan santri. Bekal tersebut diperlukan untuk menyiapkan calon pemimpin bangsa yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Pramuka santri bisa bertahan hidup dan *survive* dalam kondisi apa pun. Ini bekal penting untuk menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.

Basnang juga mengingatkan bahwa nilai-nilai kepramukaan memiliki hubungan erat dengan pendidikan pesantren. Ketakwaan, cinta alam, kedisiplinan, dan tanggung jawab merupakan nilai yang perlu tumbuh bersama dalam diri santri.

“Nilai-nilai Dasadarma Pramuka satu napas dengan nilai-nilai kepesantrenan. Keduanya sama-sama mengajarkan ketakwaan, cinta alam, kedisiplinan, dan tanggung jawab,” lanjutnya.

Kepedulian terhadap alam menjadi salah satu penekanan dalam PPSN VI. Basnang mengapresiasi Pesantren An-Nur II Bululawang sebagai tuan rumah sekaligus contoh pesantren yang hijau dan lestari.

“Keteladanan Indonesia Asri ada di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, Malang,” katanya.

Ketua Panitia PPSN VI Tahun 2026, Endi Suhendi, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membentuk karakter santri dalam semangat kebangsaan serta menumbuhkan kesadaran ekologis untuk mewujudkan ekoteologi. Menjaga lingkungan ditempatkan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai agama.

“PPSN bukan sekadar perkemahan. Di sini, santri ditempa untuk mencintai bangsa dan negaranya, sekaligus dibangun kesadarannya untuk menjaga alam sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai agama,” ujar Endi.

Menurut laporan panitia, PPSN VI diikuti 4.524 pramuka santri dan berlangsung pada 30 September hingga 6 Oktober 2026. Bagi kontingen Sulawesi Barat, kegiatan ini menjadi kesempatan membawa pulang pengalaman, persaudaraan, dan semangat pengabdian untuk diterapkan di lingkungan masing-masing.

Basnang berpesan agar seluruh peserta menjaga akhlakul karimah selama perkemahan dan setelah kembali ke daerah asal. Ia berharap keteladanan santri terus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

“Kedepankan akhlakul karimah dan jadilah teladan. Jadilah teladan dalam pencegahan kekerasan, di pesantren, di lingkungan, dan di tengah masyarakat,” pungkasnya.


Wilayah LAINNYA