Pesan Wamenag RI : Jadikan Agama Sebagai Semangat Untuk Menampilkan Wajah Sejuk Dalam Pesta Demokrasi 2024

Silaturahmi Nasional Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi dan Tokoh Agama yang diselenggarakan di Hotel Borobudur Jakarta (19/12/23).

Jakarta - Indonesia kembali akan menggelar pesta demokrasi yang berpuncak pada Bulan Februari Tahun 2024. Tak kurang dari 60 hari kedepan, masyarakat indonesia akan menggunakan hak pilihnya untuk menentukan arah masa depan bangsa.

Kontestasi Politik yang melibatkan calon legislatif hingga Pemimpin bangsa akan menyemarakkan pesta demorasi lima tahunan tersebut. Berbagai cara dilakukan para kompetitor dalam meraup suara, mulai dari kampanye hingga adu argumen untuk menyakinkan calon pemilih.

Namun kontestasi politik yang harusnya berjalan aman dan damai, harus ternoda oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. berbagai konflik terjadi hanya karena kesalahpahaman dan perbedaan pilihan politik.

Hal tersebut sempat disinggung oleh Wakil Menteri Agama RI, Saiful Rahmat Dasuki sesaat sebelum membuka Acara Silaturahmi Nasional Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi dan Tokoh Agama yang diselenggarakan di Hotel Borobudur Jakarta (19/12/23).

Saiful Rahmat Dasuki mengingatkan situasi pada kontestasi politik yang terjadi tahun 2019 silam, dimana dua kelompok massa yang saling menistakan hanya karena perbedaan pilihan dan pandangan politik.

"Dalam Islam Manusia adalah makhluk paling mulia yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa tetapi di (pesta demokrasi) 2019 kita menistakan sesama umat manusia".

Hal tersebut terjadi disebabkan karena adanya pemanfaatan politik identitas yang terus dikedepankan oleh kelompok tertentu untuk meraup suara elektoral dalam memenangkan kontestasi politik.

Sehingga Wamenag RI menginginkan kejadian saling sindir dengan sebutan cebong dan kampret tidak terjadi lagi di pesta demokrasi tahun 2024 mendatang. 

Saiful menegaskan jika pemilihan umum yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali itu tidak berkaitan dengan kepentingan agama, hidup dan mati, bahkan tidak terkait dengan persoalan surga dan neraka. Namun pesta demokrasi hanyalah sebuah proses konstitusional dalam sebuah negara demokrasi.

Ia pun menitipkan pesan kepada para tokoh agama dan penyuluh lintas agama untuk selalu menyampaikan pesan damai kepada masyarakat. Dirinya juga berharap para calon pemilih diberikan pemahaman dan pengembangan wawasan tentang arti dan tujuan pemilu yang sebenarnya.

Hal tersebut bertujuan agar pesta demokrasi dapat dilalui dengan gegap gempita dan riang gembira. Selain itu, para calon pemilih juga diharapkan dapat mengambil sikap bijak dalam menyikapi setiap persoalan yang terjadi pada pemilu tahun 2024.

Wamenag RI tidak ingin ada oknum yang merusak kontestasi politik dengan tindakan-tindakan yang mengedepankan kekerasan, menyebar berita hoax, hingga menjadikan agama sebagai kekuatan elektoral untuk meraih kemenangan.

Saiful pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melawan kampanye-kampanye yang menjadikan agama sebagai alat politik identitas untuk menyerang atau menjatuhkan lawan politiknya.

Ia berharap agama dijadikan sebagai dasar semangat pergerakan untuk menampilkan wajah sejuk dalam kontestasi Pemilu tahun 2024 mendatang.

"Jadikan Agama Sebagai Semangat Untuk Menampilkan Wajah Sejuk Dalam kontestasi (pemilu)".


Wilayah LAINNYA