Empat Guru Besar STAIN Majene Dikukuhkan, Kemenag Sulbar: Perkuat Tradisi Keilmuan untuk Kemajuan Umat dan Daerah

Forum sidang senat terbuka pengukuhan guru besar STAIN Majene

MAJENE — Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas pengukuhan empat guru besar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene. Momentum akademik ini menjadi penanda penting tumbuh dan menguatnya tradisi keilmuan di perguruan tinggi keagamaan, sekaligus menjadi kebanggaan bagi masyarakat Sulawesi Barat.

Pengukuhan empat profesor tersebut dilakukan secara resmi oleh Kamaruddin Amin dalam forum sidang senat terbuka yang digelar di Aula Gedung Kuliah Terpadu lantai 5 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene, Rabu (29/4). Empat akademisi yang dikukuhkan masing-masing adalah Prof. Dr. Baharuddin, S.Ag., M.Ag sebagai Guru Besar bidang Ilmu Tafsir Ahkam, Prof. Dr. H. Anwar Sadat, M.Ag sebagai Guru Besar Ilmu Sosiologi Hukum Islam, Prof. Dr. Muliadi, S.Ag., M.Sos.I sebagai Guru Besar Ilmu Sosiologi Dakwah, serta Prof. Abdul Rahman, M.Pd., M.H., Ph.D., CPM sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara dengan konsentrasi Hak Asasi Manusia dan Perlindungan Anak.

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat dan dihadiri Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene Wasilah, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat Adnan Nota, Sekretaris Provinsi Sulawesi Barat Junda Maulana, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Adnan Nota, menyampaikan bahwa pengukuhan empat guru besar ini merupakan capaian besar yang patut disyukuri bersama. Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan bagi civitas akademika STAIN Majene, tetapi juga menjadi kebanggaan Kementerian Agama dan masyarakat Sulawesi Barat.

“Pengukuhan ini adalah bukti bahwa tradisi akademik dan pengembangan keilmuan di Sulawesi Barat terus tumbuh dan menguat. Guru besar bukan sekadar gelar akademik tertinggi, tetapi amanah besar untuk melahirkan gagasan, membimbing generasi, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa,” ujar Adnan Nota.

Ia menegaskan, Kementerian Agama akan terus mendukung penguatan mutu pendidikan tinggi keagamaan, karena kampus memiliki peran strategis dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan, nilai-nilai keagamaan, dan kemanusiaan.

“Keberadaan guru besar harus menjadi energi baru dalam memperkuat ekosistem keilmuan di Sulawesi Barat, memperluas ruang pengabdian, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan kemaslahatan masyarakat,” tambahnya.

Bagi Kementerian Agama, pengukuhan guru besar merupakan prosesi akademik tertinggi yang tidak hanya menandai pencapaian intelektual, tetapi juga mengukuhkan tanggung jawab moral dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi: mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat.

Salah satu guru besar yang dikukuhkan, Anwar Sadat, menyebut momentum tersebut sebagai tonggak kehormatan sekaligus panggilan tanggung jawab yang lebih besar. Ia menegaskan komitmennya untuk memastikan ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang akademik, tetapi menjadi daya ubah yang mampu mencerahkan, memuliakan, dan memajukan masyarakat Sulawesi Barat.

Bagi Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, capaian ini menjadi penguat optimisme bahwa perguruan tinggi keagamaan akan terus menjadi pusat lahirnya pemikiran-pemikiran besar, penguatan moderasi beragama, serta kontribusi nyata dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.


Wilayah LAINNYA