Jakarta (Kemenag) --- Presiden Prabowo pada awal 2026 telah mencanangkan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) untuk mengatasi masalah sampah, meningkatkan kebersihan, serta menata keindahan lingkungan di Indonesia. Kementerian Agama merespons inisiatif nasional dengan menggelar sejumlah aksi nyata lintas agama.
Hal ini dibahas bersama dalam rapat koordinasi yang dipimpin Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H.R. Muhammad Syafi’i, di Jakarta, Senin (20/4/2026). Wamenag mendorong perubahan gaya hidup seperti penggunaan tumbler untuk mengurangi botol plastik sekali pakai dan efisiensi penggunaan sumber daya di kantor-kantor pemerintahan.
“Program ini diharapkan bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi pembiasaan yang terukur bagi seluruh umat beragama di Indonesia,” pesan Romo Syafi’i.
Menjelang perayaan Waisak 2026 misalnya, Ditjen Bimas Buddha akan mengintegrasikan program ASRI dalam rangkaian aksi Satu Bulan Penuh Jelang Waisak. Mulai 1 Mei 2026, umat Buddha diajak melaksanakan Uposatha (puasa ala Buddha) atau bervegetarian selama satu bulan penuh sebagai dukungan terhadap ketahanan pangan dan energi nasional.
“Puncak aksi ekologi dilakukan pada 8 Mei dengan gerakan kebersihan serentak, pelepasan satwa (Fang Sheng), serta penanaman 67 ribu pohon di seluruh Vihara di Indonesia. Kegiatan ini pun melibatkan umat dan satuan pendidikan keagamaan sebagai bentuk penguatan kesadaran ekologis berbasis nilai spiritual,” ujar Dirjen Bimas Buddha Supriyadi.
Dirjen Bimas Katolik Suparman Sirait menekankan program ASRI yang telah dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, antara lain dengan pemerintah daerah, TNI, dan Polri. Implementasi di lapangan dilakukan melalui kerja bakti di gereja, penanganan sampah, serta penataan lingkungan rumah ibadah, termasuk di kawasan destinasi pariwisata prioritas.
Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan konsep Green Dharma, yakni kewajiban membangun lingkungan hijau. Sejak 2024, Pura-Pura di Bali dan wilayah lain telah menerapkan pelarangan plastik yang ketat melalui proses screening sarana upacara.
Duija mengatakan, sampah-sampah upacara merupakan sampah terbanyak, sampah organik sisa upacara kini diolah menggunakan mesin pencacah menjadi kompos di lingkungan tempat ibadah. “Program ASRI dilakukan juga pada ritual Tumpek Kandang dan Tumpek Uye, setiap tahun sebanyak dua kali umat Hindu juga telah melepas ribuan satwa dan menanam lebih dari 15.000 pohon,” paparnya.
Di sisi lain, Ditjen Bimas Kristen mengintegrasikan pendekatan ekoteologi dalam kehidupan bergereja dan pendidikan melalui kegiatan penanaman pohon, pembuatan biopori di lingkungan gereja, serta edukasi lingkungan di sekolah dan perguruan tinggi.
Pada sektor pendidikan Islam, implementasi ASRI diperkuat melalui pengembangan budaya ramah lingkungan di madrasah, dengan fokus pada pemilahan sampah, efisiensi energi dan air, serta gerakan kebersihan yang melibatkan seluruh warga pendidikan. Selain itu digunakan sistem SIDIA untuk memantau Madrasah Adiwiyata.
“Hingga saat ini sudah 86 madrasah meraih Adiwiyata. Selain itu, Sebanyak 10 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (UIN) juga telah mendapat rekognisi kampus hijau, melalui UI Green Metric,” terang Dirjen Pendidikan Islam Amien Suyitno.