Mamuju (Kemenag Sulbar) — Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, upaya menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat terus diperkuat melalui sinergi lintas sektor. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat turut ambil bagian dalam kegiatan Gerakan Bersama Jaga Inflasi (GERAI) Sulbar yang digelar oleh Bank Indonesia di Hotel Matos, Mamuju, Selasa (5/5/2026).
Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam, Dinar Faisal, hadir mewakili Kepala Kanwil dan menyampaikan sambutan dalam kegiatan yang mengusung tema “Bijak Konsumsi, Gaya Hidup Halal untuk Ekonomi Sulawesi Barat yang Kuat Menjelang Idul Adha 2026.”
Dalam suasana yang hangat dan penuh semangat kolaborasi, Dinar mengajak masyarakat membangun kesadaran kolektif dalam menjaga pola konsumsi, terutama menjelang hari besar keagamaan yang identik dengan peningkatan kebutuhan.
“Momentum Idul Adha seringkali diiringi dengan lonjakan konsumsi. Karena itu, kita perlu bijak dalam berbelanja, tidak berlebihan, dan menghindari panic buying,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengendalian inflasi bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Pengendalian inflasi harus kita jaga bersama melalui 4K, yaitu keterjangkauan harga agar masyarakat tetap mampu membeli kebutuhan pokok, ketersediaan pasokan yang cukup, kelancaran distribusi domestik tanpa hambatan, serta komunikasi yang efektif kepada masyarakat agar tidak terjadi kepanikan dalam berbelanja,” tegas Dinar Faisal.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat selaku Ketua Harian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulbar, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulbar, serta para da’i dan ulama dari Mamuju.
Dalam sambutannya, Sekda Sulbar menegaskan dukungannya terhadap langkah pengendalian inflasi berbasis 4K sebagai strategi utama menjaga stabilitas ekonomi daerah.
“Kita sepakat bahwa pengendalian inflasi harus difokuskan pada 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif kepada masyarakat. Jika empat hal ini kita jaga bersama, maka stabilitas harga akan tetap terpelihara,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa inflasi merupakan kondisi menurunnya nilai uang akibat kenaikan harga barang dan jasa, sementara deflasi terjadi ketika nilai uang meningkat karena melimpahnya barang di pasar. Menurutnya, inflasi yang terlalu tinggi akan berdampak langsung pada kesulitan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Melalui kegiatan GERAI ini, Kanwil Kemenag Sulbar berharap para da’i dan ulama dapat menjadi garda terdepan dalam menyampaikan pesan-pesan edukatif kepada masyarakat. Edukasi tersebut diharapkan mampu membentuk pola konsumsi yang bijak serta memperkuat penerapan gaya hidup halal sebagai fondasi ekonomi umat.
Dengan sinergi yang terus terjalin, stabilitas harga menjelang Idul Adha diharapkan tetap terjaga sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa terbebani oleh gejolak harga kebutuhan pokok.
Wilayah
GERAI Sulbar: Kemenag Gaungkan 4K untuk Jaga Inflasi Jelang Idul Adha 1447 H
- Selasa, 5 Mei 2026 | 14:16 WIB