Di tengah masifnya era digitalisasi sekolah, sebuah pesan mengejutkan justru disampaikan dalam pertemuan Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Sekolah Dasar yang berlangsung di SD Negeri 49 Pasangrahan, Kabupaten Majene, Kamis (06/08/2026).
Di hadapan puluhan pendidik yang hadir, Kepala Seksi PAI Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majene, Jalal, M.M., mendorong para guru untuk kembali mengutamakan penggunaan buku catatan fisik dibandingkan catatan digital.
Imbauan ini bukan tanpa alasan. Di balik riuk pikuk kecanggihan gawai, ada harga mahal yang diam-diam sedang dibayar oleh generasi muda: merosotnya konsentrasi, pudarnya kebiasaan fokus, hingga menurunnya indeks penghormatan sosial dalam interaksi sehari-hari.
"Kita sering melihat fenomena sederhana di sekitar kita. Ketika ada orang yang sedang berbicara di depan, lawan bicaranya justru asyik menunduk menatap layar ponsel. Ini bukan sekadar masalah teknologi, tapi masalah adab dan rasa menghargai," ujar Jalal saat membuka kegiatan secara resmi.
Menurutnya, penyesuaian pada Capaian Pembelajaran (CP) PAI terbaru hadir justru untuk menjawab krisis karakter tersebut. Pembelajaran PAI dituntut untuk keluar dari jebakan rutinitas hafalan dan angka-angka akademis di atas kertas.
salah satu yang mendasari keluarnya CP 020 adalah angka Indeks penghormatan sosial yang cukup rendah yakni 64,03 dan kita sebegai pendidik dan birokrat mesti mengambil langkah konkrit untuk mendongkrak nilai tersebut.
Penggunaan buku catatan fisik, tegas Jalal, menjadi salah satu langkah kecil namun berdampak besar. Menulis tangan tidak hanya mengasah motorik dan daya ingat, tetapi juga melatih kesabaran, kerapian, serta menghindarkan siswa dari gangguan (distraksi) layar gawai saat proses belajar mengajar berlangsung.
"bapak ibu guru PAI kami harap bisa menjadi pelopor, dikala pertemuan, rapat atau apa saja yang melibatkan komunitas guru lain, mari gunakan buku catatan bukan mencatat dengan ponsel, perlahan kita tularkan kebiasaan tersebut"
"Guru PAI bukan sekadar mentransfer materi, melainkan mendidik karakter. Nilai agama itu harus membumi dalam bentuk sikap santun, mendengarkan saat orang lain berbicara, dan memiliki empati," tambahnya.
Pertemuan rutin yang dihadiri Pengawas PAI Sulaiman Suhdi, Ketua KKG PAI Wilayah I Ibrahim, serta Ketua KKG PAI Wilayah II Imran Saidi ini menjadi ruang diskusi hangat bagi para guru PAI se-Kabupaten Majene.
Pengawas PAI, Sulaiman Suhdi, turut menyambut positif pesan tersebut. Kehadiran para pengurus KKG dari dua wilayah sekaligus menandai kesadaran bersama bahwa tantangan terbesar guru agama hari ini bukan lagi melengkapi dokumen formal, melainkan bagaimana melahirkan murid yang jujur, santun, dan berakhlaqul karimah di tengah gempuran zaman.